Pentingnya Penerapan Edukasi Mitigasi Sejak Dini

  • Bagikan

Beritakota.id, Jakarta- Maraknya bencana alam yang terjadi di Indonesia, mulai dari kebakaran hutan, gempa bumi, gelombang pasang hingga letusan gunung merapi yang baru- baru ini terjadi menginisiasi Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bogor dan Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) menggelar simulasi tanggap bencana untuk murid sekolah dasar.

Mengusung tema “Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau sebagai edukasi tanggap bencana” ini dikarenakan korban jiwa dalam suatu bencana lebih banyak anak-anak karena kemampuan mereka menyelamatkan diri, dan pengalaman terhadap bencana minim.

“Edukasi tanggap bencana yang ditujukan bagi siswa SD dinilai penting karena bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Pada jenjang ini, anak-anak mulai belajar mandiri dan mulai menghabiskan waktunya di sekolah di luar pengawasan orang tua. Dikhawatirkan, bencana terjadi saat mereka sedang tidak bersama orang tua,” kata Ova Candra Dewi dari Departemen Arsitektur Fakultas Teknik UI dalam simulasi sigap kebencanaan.

Lanjutnya, ada dua jenis bencana alam yang diambil sebagai tema simulasi yang disesuaikan dengan konteks geografis sekolah, yaitu gempa bumi untuk sekolah yang terletak di lokasi dengan kontur relatif berundak-undak dan banjir bandang untuk lokasi sekolah yang tepat bersebelahan dengan sungai.

Simulasi dilakukan dua kali di hari yang berbeda dengan melibatkan 15 siswa kelas 1-3 dan 15 siswa kelas 4-6.
Ova Chandra menambahkan bersama tim Sibat dan PMI Kabupaten Bogor, tim UI merancang skenario simulasi agar sedekat mungkin dengan keadaan sebenarnya. Keperluan yang mendukung simulasi tersebut seperti sirene, tenda P3K, titik dan arah evakuasi, dan lainnya telah disiapkan beberapa hari sebelum simulasi.

Beberapa hal menarik dari kegiatan simulasi ini adalah sesuai SOP PMI, di akhir rangkaian mereka juga mendapatkan program healing seperti bernyanyi Bersama.

Healing untuk tanggap bencana sangatlah penting karena pada umumnya bencana meninggalkan trauma.
Setiap peserta diberikan lencana “Aku tanggap bencana” di akhir simulasi sebagai pertanda sebagaimana informasi ini penting bagi mereka, maka penting juga buat teman-teman sepermainan mereka.

“Karena itu mereka diminta agar berbagi tentang pengetahuan ini dengan teman-teman dan menjadi agen penyebar informasi sebagai wakil aku tanggap bencana,” tandasnya

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *