Sampah Terbanyak di Laut, 9 Kota Ini Kampanyekan Satu Puntung Sejuta Masalah

  • Bagikan

Beritakota.id, Jakarta- Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan dilakukan oleh jutaan orang. Setidaknya dua pertiga puntung rokok ditemukan berserakan di trotoar atau selokan, dan akhirnya berujung di lautan. Padahal, limbah puntung rokok tergolong limbah berbahaya dan beracun, setara dengan limbah pabrik dan harus didaur ulang secara khusus karena dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kelangsungan hidup manusia.

Kondisi inilah yang mendasari sejumlah anak muda melakukan kampanye serentak  #SatuPuntungSejutaMasalah di 9 kota mulai  hari ini (24/11/2019). Inisiator kampanye adalah Pembaharu Muda FCTC, yakni 20 anak muda dari 20 kota, yang aktif melakukan aksi mendukung pengendalian tembakau untuk melindungi anak Indonesia dari dampak rokok, melalui aktivitas berbasis media sosial.

“Melalui kampanye #SatuPuntungSejutaMasalah ini kami ingin menunjukkan betapa  banyaknya permasalahan di balik puntung rokok,” kata Yokbet Merauje, biasa dipanggil Yoke, Pembaharu Muda Papua. “Puntung rokok adalah masalah bagi lingkungan. Selain merupakan sampah terbanyak di lautan, puntung rokok adalah golongan sampah berbahaya (B3) yang memerlukan waktu 10 tahun untuk terurai,” papar pegiat Forum Anak Papua ini.

Yoke menambahkan, berdasarkan data Ocean Conservancy 2018, ada 2,4 juta ton puntung rokok di lautan yang mengancam keberlangsungan ekosistem biota laut. “Di tahun 2040 diperkirakan kita tidak bisa mengkonsumsi ikan, udang, kepiting disebabkan air laut tercemar puntung rokok,” tegas mahasiswi FHISIP Universitas Terbuka jurusan Ilmu Komunikasi ini.

“Ada juga masalah banyaknya konsumsi zat adiktif rokok dibalik sampah puntung rokok,” tegas Janitra Hapsari, Pembaharu Muda Yogyakarta. Nita, panggilan akrab pegiat Komunitas 9cm (Global No Cigarette Movement) ini, mengatakan Indonesia adalah urutan ke-3 konsumsi rokok di dunia. “Data Riskesdas 2013 menyebutkan perokok di Indonesia menghabiskan minimal 12 batang setiap hari. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa industri rokok memproduksi rata-rata 338 miliar batang rokok untuk memenuhi adiksi lebih dari 90 juta perokok aktif di Indonesia. Ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Nita yang baru tahun ini menyelesaikan studi S1 di Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada.

Sarah Haderizqi Imani, mengingatkan bahwa puntung rokok adalah masalah banyaknya orang yang terpapar asap rokok. “Kita bisa  menemukan puntung rokok di mana saja, karena orang bisa merokok di semua tempat. Di rumah, jalan, trotoar, terminal, stasiun, warung, kampus, sekolah, dan tempat umum lainnya dimana orang biasa beraktifitas,” kata Pembaharu Muda Tangerang dan aktivis Forum Anak Kota Tangerang ini.

Sarah menambahkan, data dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menyebutkan 78% remaja terpapar asap rokok di tempat umum. “Jadi lebih dari 97 juta orang di Indonesia menjadi perokok pasif, temasuk anak-anak dan beresiko 3 kali mengidap penyakit kronis karena asap rokok,” papar pegiat Forum Anak Kota Tangerang ini.

Yoke, Nita, Sarah, bersama 6 Pembaharu Muda (PM) mulai hari ini (24/11/2019) menggelar kampanye serentak #SatuPuntungSejutaMasalah di 9 kota di Indonesia. Keenam Pembaharu Muda lainnya adalah Askari Banaali (PM kota Luwuk, Banggai), Ria (PM kota Surabaya), Julio (PM kota Banjarmasin), Raja Pangestu (PM kota Surakarta), Ahmad Abdan Syukron (PM kota Mataram), dan Sarah Muthiah Widad (PM kota Jakarta). Khusus Raja dan Syukron akan menggelar kampanye Selasa (26/11/2019).

Bentuk kampanye yang dilakukan Pembaharu Muda ini  adalah bersama-sama teman, organisasi dan  komunitas masing- masing memungut sampah puntung rokok di sejumlah lokasi tempat mereka beraktivitas dan tempat lainnya. Ada yg  melakukan aksi di area Car Free Day, terminal, stasiun, taman, perumahan dan jalanan di sekitar kampus/sekolah, dan tempat wisata.

Puntung rokok yang terkumpul ditimbang, dan didokumentasikan. Foto-foto kegiatan diupload di media sosial organisasi/komunitas dan pribadi dengan menandai ke akun @fctcindonesia dengan menggunakan hashtag #SatuPuntungSejutaMasalah dan #PilihBicara, serta diupload juga ke www.pilihbicara.org.

Sejumlah komunitas dan organisasi bersemangat mengikuti kampanye ini. Tidak kurang dari 30 komunitas dan organisasi berpartisipasi, diantaranya Forum Anak Kota Tangerang, Forum Anak Kota Papua, Forum Anak Surakarta, Forum Generasi Berencana Kota Tangerang, Paskibra, Ruang Pemimpi, Guyub Bocah, Satuan karya pramuka, Bakti Husada, Saka Kalpataru, Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Duta Remaja Sehat, Jogja Sehat Tanpa Tembakau (JSTT), Banggai Generation on Tobacco Control (BGTC), Hima Kesmas, UIN Syarif Hidayatullah, Fakultas Kedokteran UGM, Gagas Mataram dan CIMSA Jogja.

Abdan Syukron dan Sarah Muthiah Widad sepakat adanya hubungan erat antara banyaknya limbah puntung rokok di Indonesia dengan konsumsi rokok yang  tinggi. “Sepanjang  tidak ada  kebijakan pengendalian tembakau yang komprehensif, jumlah perokok di Indonesia masih tetap tinggi, dan limbah puntung rokok masih tetap bertumpuk,” kata Syukron. Sedangkan Julio, Raja Pangestu, dan Ria, menegaskan, Indonesia sudah darurat rokok dan sangat membutuhkan regulasi pengendalian tembakau.

Karena itu, 9 Pembaharu Muda (PM) sepakat mendukung pemerintah membuat satu regulasi yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan terkait rokok. Askari, mewakili Pembaharu Muda, menegaskan, persoalan puntung rokok hanya bisa ditanggulangi dengan Reduce, yaitu mencegah munculnya puntung rokok dengan mengurangi atau tidak mengkonsumsi rokok.

“Untuk itu, harus ada regulasi yang komprehensif yang mengatur sejuta masalah yang ditimbulkan dari puntung rokok. Mulai dari pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok, menaikan harga rokok semahal-mahalnya, membatasi akses mendapatkan rokok dan  menerapkan Kawasan Tanpa Rokok,” pungkas  Askari.

Kampanye #SatuPuntungSejutaMasalah akan terus berlangsung hingga Januari 2020. Setiap PM akan mengumpulkan minimal 50.000 puntung dan melibatkan komunitas lain di daerahnya agar terkumpul puntung rokok sebanyak-banyaknya. Melalui pelibatan komunitas ini sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa di balik puntung rokok ada banyak masalah yang terkait dengan masa depan bangsa, khususnya gen9erasi muda.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *