Mampu Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Industri Fintech Lending sasar Masyarakat Unbankable

  • Bagikan

Beritakita.id, Jakarta – Finmas, satu dari 113 perusahaan fintech di Indonesia yang terdaftar dan berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gelar TechXchange merupakan program yang diinisiasi oleh Finmas bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Fintech Lending di Indonesia dan manfaatnya untuk perekonomian Indonesia di Jakarta, (18/12/2019)

Hadir dalam acara tersebut Lutfia Aisya selaku Business Administration Lead di TaniFund, Wong Budi Setiawan selaku CEO Edufund, Tommy Yuwono sebagai co-founder Pintek, Annisa Fauzia merupakan Head of Communication & Business Partnership Mekar, serta Dani Lihardja, CEO Danamas.

Sebagai salah satu fintech lending di Indonesia, Finmas terus mendorong ekonomi digital yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Melalui diskusi tersebut, mereka berharap dapat bersinergi dengan stakeholder dalam mendorong ekonomi digital di Indonesia yang lebih inklusif dan berdampak nilai sosial ekonomi secara berkelanjutan.

Rainer Emanuel, Head of PR & Corporate Communications Finmas mengatakan transformasi gaya hidup dan teknologi yang semakin terjangkau adalah kunci pendorong perubahan.

“Perusahaan fitech lending bisa bergerak dinamis berkat inovasi dan diferensiasi bisnis yang memungkinkan mereka memperkuat daya saing dan menguasai pasar”,ujarnya

Selanjutnya, perusahaan fintech lending sebaiknya memiliki program komunikasi dan edukasi yang baik untuk mendapat kepercayaan konsumen. Kolaborasi adalah sebuah keharusan agar dapat terus berkembang dan bisa merespon kebutuhan konsumen.

Dengan Pesatnya perkembangan lanjut Rainer, industri teknologi finansial tidak terlepas dari potensi pasar dalam negeri yang sangat besar. Pengguna intemet di Indonesia telah mencapai 132,7 juta pada awal 2019, hampir separuh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265,4 juta jiwa.

“Industri fintech lending dianggap mampu membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena bisa menjangkau masyarakat yang belum terlayani perbankan. Menurut Otoritas jasa Keuangan (OJK), potensi pasar fintech lending terbesar adalah masyarakat unbankable seperti petani, nelayan, pengerajin, dan sebagainya”,jelasnya.

Sementara itu, data resmi pemerintah menunjukkan bahwa lebih dari 74 persen dari total 64 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia belum bisa mengakses pembiayaan dari perbankan. Keadaan ini menciptakan gap pembiayaan hingga lebih dan’ USD1.000 triliun, menurut BI.

Kondisi tersebut juga menghambat banyak UMKM untuk bisa berkembang dan meningkatkan peranan mereka di dalam perekonomian nasional. Hingga 2018, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 60,34 persen dan telah menyerap 116,73 juta tenaga kerja atau 97 persen dari total angkatan kerja nasional.

Inovasi yang dihadirkan industri fintech lending diharapkan menjadi solusi untuk membuka akses bagi kelompok underserved dan UMKM. Dengan menyasar sektor produktif seperti pertanian, perikanan, pendidikan, UMKM, dan sebagainya, pelaku bisnis fintech lending diharapkan akan membawa manfaat besar untuk mendorong pemerataan ekonomi nasional. (Id)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *