Kurangi Sampah Makanan, Agung Saputra Ciptakan Inovasi Surplus.id

  • Bagikan
Agung Saputra CEO Surplus.id
Agung Saputra CEO Surplus.id

Beritakota.id, Jakarta – Membuang makanan merupakan sebuah tindakan yang kurang baik. Banyak makanan tersisa dan menumpuk dan berakhir di tempat pembuangan sampah. Namun, nyatanya hal inilah yang terjadi di Indonesia. Kebiasaan masyarakat yang lapar mata dan tradisi makan tidak dihabiskan menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar kedua penghasil Food Loss (FL) dan Food Waste (FW) setelah Arab Saudi.

Berdasarkan Food Sustainability Index 2017 yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit (EIU), terdapat hampir satu miliar orang menderita kelaparan, namun sepertiga makanan hilang atau terbuang. Limbah makanan ini sesuai dengan empat kali jumlah yang dibutuhkan untuk memberi makan masyarakat yang menderita kurang gizi di seluruh dunia.

Melihat kebiasaan miris tersebut, membuat Muh Agung Saputra tergerak menawarkan sebuah solusi untuk mengubah kebiasaan buruk ini. Yah, kendati terbilang masih muda ia sudah menawarkan solusi jitu untuk mengubah kebiasaan ini untuk masyarakat.

Kepada awak redaksi Beritakota.id Agung menceritakan passionnya di bidang lingkungan. Agung yang merupakan jebolan dari Imperial College London pernah mengalami kekurangan uang karena keterlambatan pengiriman.

Bahkan ketika ia mau makan dan melewati suatu restoran duitnya tak mencukupi tetapi pihak restoran membuang makanan yang berlebih. “Padahal saat itu saya memiliki uang hanya setengah harga untuk membeli makanan tersebut,” kata Agung yang juga sebagai CEO & Founder Surplus.id  pada pertengahan Januari lalu.

Dan saat itu ia pun bertekad membuat inovasi yang menghubungkan toko makanan yang memiliki makanan berlebih dengan konsumer. Kini inovasinya diwujudkan melalui  marketplace surplus.id

Platform ini dibuatnya untuk menghubungkan para pelanggan dengan toko makanan yang memiliki makanan berlebih yang belum tersentuh dan bukan makanan sisa. Dimana kalau menunggu besok bakal dibuang.

“Kami menghubungkan pelanggan dengan toko makanan yang memiliki makanan berlebih yang belum terjual di penghujung hari dengan diskon 50%, “ sebutnya. Setiap makanan yang diselamatkan berkontribusi dalam memerangi food waste.

Lantas apa yang menjadi keuntungan bagi merchant yang bergabung dalam surplus.id? Menurutnya, merchant bisa mendapatkan pelanggan berlebih yang melihat iklannya, dan bisa menjadi customer baru. Kedua, mendapat income tambahan daripada dibuang mending dijual lagi. Ketiga,  mereka bisa mengurangi biaya pembuangan jadi setiap toko atau resto itu ada biaya pembuangan . Terakhir mereka  bisa berkontribusi menjadi green restaurant dimana sekarang lagi marak green restaurant jadi mereka bisa mendapat 4 keuntungan ini.

Adapun untuk user ujarnya,  mereka bisa saving bujet karena mereka beli makanan bisa lebih murah 50 persen.  Kedua menyelematkan lingkungan dari gas metana dan CO2 yang dihasilkan dari food waste.

“Padahal Food Loss & Waste merupakan persoalan penting yang kini menjadi perhatian negara-negara di dunia karena dapat memengaruhi tingkat ketahanan pangan suatu negara dan berimbas pada pemerataan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya.

Berharap Dukungan Pemerintah

Menurut FAO, sampah makanan di Indonesia mencapai 13 juta ton tiap tahunnya. Dan Indonesia sebagai peringkat dua penghasil sampah makanan terbanyak dunia. Kontribusi besar terbuangnya makanan berasal dari hotel, restoran, katering, supermarket dan perilaku masyarakat yang gemar menyisakan makanannya.

Ia berharap ada aturan seperti di luar negeri yang mengatur pembatasan food waste perhari atau perminggunya. Dan dikenakan denda untuk restoran atau toko makanan yang menghasilkan makanan berlebih dan di dukung regulasi yang tepat.

Segementasi yang dibidik surplus.id saat ini ialah toko yang menghasilkan food waste atau lima makanan besar seperti toko roti dimana toko roti biasanya dibuat hari itu malam harinya dibuang karena sifatnya organik. Toko buah dalam hal ini ritel modern seperti Indomaret, mereka biasanya sudah mengupas buah dan bila dalam 7 jam tidak laku terjual  biasanya mereka membuangnya. Sama dengan toko buah lainnya, Hypermart dan hotel restoran.

Ketika ditanyakan adakah injeksi permodalan dalam merintis startup berbasis lingkungan ini, dikatakannya, surplus ini dimulai akhir September 2019 dengan bootstrap dan dukungan keluarganya.

“Saya membuat marketplace ini bukan semata untuk profit seperti marketplace lain. Passion saya lebih kepada dampak lingkungan. Kita hanya mengambil 10 persen setiap transaksi,” jelasnya.

Saat ini sudah ada beberapa merchant yang bergabung seperti Merchant Halal Bro´s, Terra Restaurant di Senopati, cutt & grill, monami bakery, kita merchant di jakarta selatan terlebih dahulu baru di pusat.  Marketplace ini akan diluncurkan Februari ini.

Ia menambahkan, cara kerja surplus.id jika ada  toko roti atau toko buah sudah mau tutup jam 10. 00 malam maka jam 09.00 malam mengupload  makanan berlebih sama seperti mengupload di instagram, isi deskripsi dan jam pengambilan . Dan si konsumer  melihat foto yang telah di upload langsung klik booking dan bayar sebelum menjemput bisa go send.

“Diskon 50 persen dan ini harus dijual setengah harga. konsumer pasti aware,”. Kini platform tersebut baru bisa diunduh di google playstore. (Ahmad Fadli)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *