DPP ASITA Minta Stimulus Hadapi Dampak Wabah Covid-19

Ketua umum DPP ASITA DR. N. Rusmiati

Beritakota.id, Jakarta -  ASITA (Asosiasi Biro perjalanan wisata Indonesia) sebagai asosiasi biro perjalanan wisata yang terbesar di Indonesia dengan anggotanya sebanyak 7000 BPW dan tersebar di seluruh Indonesia dan sudah berdiri sejak tahun 1971.

Dengan adanya wabah COVID-19 yang berdampak bagi semua sektor perekonomian terutama di bidang Pariwisata, Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini di wakili oleh Kementrian Pariwisata dan ekonomi kreatif mengadakan video conference dengan semua stakeholders di industry pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk ASITA yang menaungi stakeholders Biro Perjalanan wisata di Indonesia.

ASITA di wakili oleh Ketua umum ibu DR. N. Rusmiati, Wakil Ketua umum 1 Bapak Budianto Ardiansjah dan Koord Bidang Litbang dan SDM ibu DR (cand) Hj. Masrura Ramidjal dalam kesempatan ini  menyampaikan kondisi yang saat ini terjadi pada BPW anggota ASITA. Dari hasil survey yang di lakukan pada 17-21 Maret 2020 lalu di dapat kesimpulan bahwa pada saat ini 55,7% BPW anggota ASITA sudah mengalami 100% penurunan penjualan atau sudah tidak ada lagi transaksi sementara itu 35,7% mengalami penurunan sebanyak 75%.

Hal ini mencakup semua bidang usaha BPW seperti Paket tour inbound, outbound dan domestic, penjualan tiket domestic dan International, Penjualan paket Umroh dan BPW yang bergerak di sector MICE (Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition). Sementara itu 70,2% konsumen dari BPW anggota ASITA membatalkan rencana perjalanan mereka dan 24,4% menundanya hingga kondisi membaik.

Pada kondisi seperti ini 40,6% anggota ASITA sudah kesulitan membayar Gaji karyawannya dan 28,5% kesulitan membayar operasional perusahaan seperti listrik, telp, air, BPJS, pajak/pbb dll dan diikuti oleh kesulitan membayar cicilan bank dan kewajiban lainnya sebanyak 13,8%. Untuk mengantisipasinya saat ini sebanyak 43,6% BPW sudah mengurangi jam operational kantor, 27,3% sudah mulai merumahkan karyawannya, 16% sudah mengurangi Gaji dan insentif pegawainya bahkan 13,1% sudah mulai memPHK karyawannya.

Dari hasil survey tersebut juga di dapatkan bahwa 47% BPW anggota ASITA akan tetap berusaha membuka kantornya dengan pelayanan yang terbatas, 30,2% mencari sumber pendapatan lain, dan 20,5% BPW akan menutup kantornya sementara dan menunggu kondisi membaik. Dari hasil survey qualitative didapat angka kerugian yang di derita saat ini adalah sekitar USD 3,9 Milyar atau sekitar 55 Trilyun dengan kurs 1 USD 14.000 dari berbagai jenis usaha Biro Perjalanan Wisata. Oleh karenanya menyikapi kondisi-kondisi tersebut yang terjadi saat ini ASITA mengusulkan kepada

Pemerintah Republik Indonesia sebagai berikut:

- Memberikan stimulus berupa Keringanan pembayaran cicilan hutang produktif kepada

bank/Lembaga pembiayaan, penghapusan/penundaan bunga kredit dan cicilan hingga kondisi

perekonomian pulih.

- Memberikan stimulus Kredit tanpa agunan dan berbunga rendah kepada BPW yang memerlukan

agar tetap bisa menjaga cash flow perusahaan dan membayar gaji pegawai/tidak memphk

karyawan

- Penghapusan pembayaran pajak PPH 25 dan PPH 21 serta berbagai retribusi yang meberatkan

BPW

- Keringan pembayaran tagihan listrik, air, BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan

- Membantu BPW untuk tetap promosi penjualan paket Wisata baik online maupun offline. Khusus

untuk promosi inbound di luar negeri, pemerintah harus memberikan fasilitas yang maksimal bagi

BPW, tidak hanya free booth tetapi juga biaya perjalanan.

- Memberikan insentif kepada BPW untuk membawa group inbound keIndonesia dengan

ketentuan yang jelas dan lebih mudah.

- Memberikan paket – paket pelatihan peningkatan kapasitas SDM pariwisata selama kondisi belum

pulih untuk menyiapkan SDM agar lebih baik melayani pelanggan di masa yang akan datang.

- Dukungan dari Pemerintah pada penyelenggaraan ASITA WISE TRAVEL FAIR 2020 yang saat ini

ditunda dan akan dilaksanakan jika kondisi sudah memungkinkan sebagai penyemangat dan

sarana mempromosikan destinasi dari seluruh Indonesia agar pariwisata kembali bergairah.

BPW berfungsi sebagai “perantara” atau Intermediary yang menghubungkan wisatawan dengan pemasok

(Airlines,Hotel, Restaurant, Transportasi, destinasi wisata, Tour guide, Penjual Cenderamata, dan sector

informal lainnya baik yang berada di destinasi wisata atau tidak. Pengaruh rantai ekonomi atau multiplier

effect dari turunnya penjualan paket tour akan sangat berpengaruh kepada sector lain terutama di sector

informal.

Dalam kesempatan ini Mas Mentri memberikan arahannnya agar semua BPW tetap kompak dan Bersatu serta menumbuhkan kreativitas dan inovasi – inovasi di dalam menghadapi kondisi kelesuan industri pariwisata.  Pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan terus mensupport agar bisnis pariwisata Indonesia tetap hidup dan memberikan kontribusi ekonomi secara maksimal.

Penulis: Ahmad Fadli

Baca Juga