Beritakota.id, Jakarta – Komitmen Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) membuka peluang besar bagi dunia usaha dalam mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau. Menjawab tantangan tersebut, PT PLN Energy Management Indonesia (PLN EMI) terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis sektor industri melalui berbagai solusi dekarbonisasi, efisiensi energi, serta instrumen hijau yang dirancang untuk mendukung implementasi bisnis berkelanjutan.

Direktur Utama PT PLN Energy Management Indonesia, Henri Firdaus, mengatakan bahwa isu keberlanjutan kini telah berkembang menjadi kebutuhan mendasar yang harus direspons oleh seluruh pelaku usaha. Menurutnya, di tengah tantangan perubahan iklim dan semakin terbatasnya sumber daya alam, perusahaan dituntut untuk menyelaraskan strategi bisnis dengan target keberlanjutan global agar tetap kompetitif di pasar internasional.

“Keberlanjutan telah menjadi agenda utama dunia. Di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya, menyelaraskan aktivitas bisnis dengan target sustainability internasional menjadi langkah yang sangat penting,” ujar Henri dalam Media Gathering PLN EMI di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Henri menjelaskan, PLN EMI memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade dalam mendukung efisiensi energi nasional. Perusahaan yang berdiri pada 1987 tersebut resmi bergabung dalam PLN Group pada 2021 dan kini dipercaya mengelola berbagai green instrument serta implementasi Carbon Economic Value (Nilai Ekonomi Karbon) di lingkungan PLN Group. Peran tersebut menjadikan PLN EMI sebagai salah satu ujung tombak PLN dalam mendukung percepatan transisi energi nasional.

Untuk menjawab kebutuhan dunia usaha yang semakin kompleks, PLN EMI menghadirkan solusi yang terintegrasi, mulai dari penyusunan strategi dekarbonisasi, konservasi energi, pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular, konsultasi keberlanjutan, hingga pemenuhan berbagai aspek kepatuhan lingkungan. Seluruh layanan tersebut dirancang agar perusahaan memperoleh pendampingan secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, implementasi, hingga evaluasi pencapaian target keberlanjutan.

Salah satu instrumen hijau yang saat ini semakin banyak dimanfaatkan pelanggan adalah Renewable Energy Certificate (REC). Sertifikat ini merepresentasikan setiap 1 megawatt-hour (MWh) listrik bersih yang dihasilkan dari pembangkit energi baru terbarukan milik PLN dan tercatat dalam sistem pelacakan sehingga menjamin transparansi penggunaan energi hijau oleh pelanggan.

“Green attribute ini pada akhirnya akan dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan energi hijau (green energy) oleh PLN,” kata Henri.

Baca juga: Listrik Indonesia Surplus Tapi Masih Sering Padam? Ketahanan Sistem dan Tata Kelola PLN Jadi Sorotan

Saat ini, PLN menyediakan REC yang bersumber dari berbagai pembangkit energi terbarukan di Indonesia, antara lain PLTP Ulubelu, PLTP Kamojang, PLTP Lahendong, serta sejumlah pembangkit listrik tenaga air seperti PLTA Cirata, PLTA Saguling, PLTA Mrica, PLTA Bakaru, PLTM Lambur, PLTM Ulumbu, hingga PLTA Orya Genyem. Seluruh pembangkit tersebut menghasilkan ribuan gigawatt-hour listrik hijau setiap tahunnya dan menjadi fondasi penting dalam mendukung kebutuhan energi bersih sektor industri.

Selain REC, PLN EMI juga mengembangkan Sertifikat Pengurangan Emisi (SPE) sebagai salah satu instrumen perdagangan karbon nasional. Sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa suatu perusahaan berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar satu ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) melalui proses verifikasi yang ketat dan telah tercatat dalam Sistem Registri Nasional (SRN). Kehadiran SPE memberikan peluang bagi perusahaan untuk memperoleh pengakuan atas upaya pengurangan emisi sekaligus berpartisipasi dalam ekosistem perdagangan karbon yang tengah berkembang di Indonesia.

Henri mengungkapkan bahwa PLN EMI telah mendukung sejumlah proyek strategis yang menghasilkan SPE, di antaranya pengoperasian PLTMG Sumbagut 2 Peaker berkapasitas 250 MW, konversi Muara Tawar Unit 2 menjadi pembangkit combined cycle, pembangunan PLTGU Blok 3 Muara Karang, pengoperasian PLTGU Priok Blok 4, pembangunan PLTM Gunung Wugul, hingga konversi PLTGU Grati Blok 2 menjadi pembangkit yang lebih efisien dan rendah emisi. Berbagai proyek tersebut menunjukkan komitmen PLN dalam mempercepat dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional.

Menurut Henri, seluruh solusi yang dikembangkan PLN EMI tidak hanya membantu perusahaan memenuhi tuntutan transisi energi, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar global yang kini semakin menekankan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai salah satu indikator utama keberlanjutan bisnis.

“PLN EMI hadir sebagai mitra strategis dalam perjalanan dekarbonisasi sektor industri dan bisnis. Kami tidak hanya menyediakan instrumen hijau, tetapi juga solusi menyeluruh mulai dari perencanaan, implementasi hingga pendampingan agar perusahaan dapat mencapai target keberlanjutannya secara efektif,” jelasnya.

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang manajemen energi serta dukungan penuh dari PLN Group, Henri optimistis PLN EMI mampu mempercepat implementasi ekonomi hijau di Indonesia. Ia berharap semakin banyak pelaku industri memanfaatkan berbagai instrumen hijau seperti REC dan SPE, serta layanan konsultasi keberlanjutan yang disediakan PLN EMI untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di tingkat global.

“Transformasi menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. PLN EMI siap menjadi mitra bagi dunia usaha dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang terintegrasi sehingga target keberlanjutan dapat dicapai secara efektif dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun lingkungan,” pungkas Henri. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *