Beritakota.id, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) beserta pengalihan saham hasil buyback dengan nilai transaksi maksimal sekitar Rp905,48 miliar. Langkah ini dinilai berpotensi meningkatkan kepercayaan investor sekaligus memperkuat stabilitas sektor perbankan nasional.
Manajemen BNI menyatakan bahwa transaksi buyback tersebut tidak melebihi 10 persen dari jumlah modal ditempatkan, dengan sumber pendanaan berasal dari arus kas bebas (free cash flow) berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.
Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai langkah buyback BNI berpotensi memberikan dampak positif bagi sektor perbankan, terutama dari sisi sentimen pasar, valuasi saham, dan stabilitas industri keuangan.
Menurutnya, ketika BNI membeli kembali sahamnya sendiri, manajemen mengirimkan sinyal kuat kepada pasar bahwa harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan.
“Pesan ini penting karena saham bank besar sering menjadi acuan bagi investor dalam menilai kesehatan sektor keuangan. Jika pasar melihat BBNI berani melakukan buyback di tengah tekanan global, pasar dapat membaca bahwa industri perbankan nasional masih memiliki modal yang kuat, kualitas aset yang terjaga, dan prospek laba yang tetap baik,” kata Syafruddin.
Secara langsung, aksi buyback berpotensi mengurangi tekanan jual saham, meningkatkan keyakinan investor institusional, serta membuka peluang rerating valuasi pada saham perbankan.
Sementara itu, dampak tidak langsungnya juga cukup signifikan karena sektor perbankan memiliki bobot besar dalam indeks IHSG. Stabilitas saham bank besar seperti BNI dapat menjadi penopang pergerakan indeks secara keseluruhan.
Dalam konteks ini, buyback BBNI dinilai tidak hanya mendukung harga satu emiten, tetapi juga membantu menjaga persepsi bahwa perbankan Indonesia masih menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi.
Syafruddin menambahkan bahwa aksi buyback juga berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan, selama publik memahami bahwa langkah tersebut didasarkan pada kekuatan fundamental perusahaan, bukan sebagai respons terhadap kepanikan pasar.
Menurutnya, ketika manajemen bank menyatakan bahwa modal kuat, arus kas stabil, kualitas aset terjaga, dan pertumbuhan bisnis masih positif, kemudian pernyataan tersebut diikuti tindakan nyata seperti buyback, maka pasar menerima sinyal konsistensi.
Dalam industri perbankan, kepercayaan merupakan faktor utama karena bank pada dasarnya menjual rasa aman dan stabilitas, bukan sekadar produk keuangan.
“Buyback memang tidak otomatis mengubah persepsi masyarakat dalam waktu singkat, tetapi langkah ini dapat memperkuat citra bahwa bank besar nasional tetap solid di tengah gejolak pasar,” ujarnya.
Sebelumnya, manajemen BNI menjelaskan bahwa keputusan melakukan buyback dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang menyebabkan saham perbankan Indonesia mengalami tekanan lebih dalam dibandingkan bank-bank di kawasan regional.
Sepanjang tahun 2025, saham sektor perbankan menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, termasuk risiko geopolitik dan ancaman perang tarif. Di dalam negeri, industri perbankan juga menghadapi tantangan berupa likuiditas yang lebih ketat serta perlambatan permintaan kredit (loan demand).
Meski demikian, saham BNI masih mencatatkan kenaikan sekitar 0,5 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Baca juga: BNI Raih Apresiasi DPR, Pengguna wondr Naik 14,8 Persen
“Meskipun lebih baik dari local peers, namun saham BNI masih tertinggal jika dibandingkan dengan bank-bank regional peers,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi, Rabu (4/3/2026).
Di tengah ketidakpastian global, manajemen BNI tetap optimistis terhadap prospek kinerja perusahaan. Bank pelat merah tersebut menilai fundamental bisnisnya masih resilient.
Hal ini tercermin dari permodalan yang kuat, kualitas aset yang terjaga, pertumbuhan kredit yang seimbang di berbagai segmen, serta peningkatan dana murah (CASA) yang didukung oleh transformasi digital dan perluasan jaringan layanan.
Dengan kondisi fundamental tersebut, aksi buyback diharapkan dapat menopang valuasi saham BBNI sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap industri perbankan Indonesia.

