Beritakota.id, Jakarta – Ada sesuatu yang menarik dari film zombie. Kita tahu mereka tidak nyata. Tidak ada wabah mayat hidup yang berjalan di jalanan kota. Tidak ada laporan ilmiah tentang manusia mati yang bangkit dan memburu manusia hidup. Namun selama lebih dari setengah abad, zombie tetap menjadi salah satu monster paling populer dalam budaya modern. Selepas menonton Colony, pertanyaan itu kembali muncul: mengapa dunia tidak pernah bosan pada zombie?

Film terbaru Yeon Sang-ho ini sebenarnya menawarkan jawaban yang menarik. Seperti karya-karya zombie terbaik sebelumnya, ancaman terbesar dalam Colony bukanlah para infected itu sendiri. Ancaman terbesar justru datang dari manusia yang kehilangan kendali ketika tatanan sosial runtuh.

Baca juga : Review Film GOHAN; Ketika Anjing Menjadi Rumah bagi Manusia yang Kehilangan Arah

Game Changer Film Zombie Modern

Sepuluh tahun setelah Train to Busan mengubah peta film zombie modern Asia, sutradara Yeon Sang-ho kembali ke wilayah yang paling dikenalnya melalui Colony. Film yang melakukan world premiere di Cannes 2026 dalam program Midnight Screening ini membawa penonton ke sebuah gedung yang dikarantina setelah wabah misterius mulai menyebar dan mengubah manusia menjadi makhluk yang terus berevolusi. Di tengah kekacauan tersebut, sekelompok penyintas terjebak dalam situasi yang memaksa mereka tidak hanya melawan ancaman biologis, tetapi juga ketakutan, kepanikan, dan keruntuhan kepercayaan di antara sesama manusia.

Film ini diperkuat jajaran pemain papan atas Korea Selatan seperti Jun Ji-hyun, Koo Kyo-hwan, Ji Chang-wook, Shin Hyun-been, Kim Shin-rok, hingga Go Soo. Kehadiran mereka memberi lapisan emosional yang penting di tengah intensitas horor yang terus meningkat. Jun Ji-hyun memerankan seorang profesor bioteknologi yang terjebak di pusat bencana.

Sementara karakter-karakter lain hadir sebagai representasi berbagai respons manusia terhadap situasi ekstrem: bertahan hidup, berkorban, mengkhianati, atau perlahan kehilangan sisi kemanusiaannya. Ensemble cast inilah yang membuat konflik dalam film terasa lebih hidup dibanding sekadar pertarungan manusia melawan zombie.

Dari sisi produksi, Colony memperlihatkan bagaimana Yeon Sang-ho terus bereksperimen dengan mitologi zombie yang selama ini menjadi ciri khasnya. Jika Train to Busan memanfaatkan ruang sempit kereta sebagai sumber ketegangan, kali ini sebuah kompleks gedung tertutup menjadi laboratorium sosial tempat rasa takut berkembang tanpa kontrol.

Film ini juga memperkenalkan konsep zombie yang bergerak dan berevolusi secara kolektif, menghadirkan ancaman yang lebih tidak terduga dibanding formula zombie konvensional. Hasilnya adalah kombinasi antara survival thriller, horor biologis, dan kritik sosial yang selama ini menjadi identitas kuat dalam filmografi Yeon Sang-ho. Inilah alasan mengapa zombie selalu relevan.

Zombie Sebagai Metafora

Sejak era George A. Romero melalui film Night of the Living Dead pada 1968, zombie tidak pernah benar-benar berbicara tentang mayat hidup. Mereka berbicara tentang ketakutan masyarakat pada zamannya.

Pada era Perang Dingin, zombie merepresentasikan paranoia terhadap kehancuran sosial. Pada dekade 1970-an dan 1980-an, mereka menjadi simbol kritik terhadap konsumerisme dan masyarakat yang bergerak tanpa kesadaran.

Ketika memasuki abad ke-21, zombie berubah lagi. Wabah SARS, Ebola, COVID-19, konflik geopolitik, hingga ketidakpercayaan terhadap institusi membuat cerita zombie menemukan relevansi baru. Penonton tidak takut pada monster. Mereka takut pada kemungkinan bahwa peradaban ternyata jauh lebih rapuh daripada yang selama ini dipercaya.

Sosiolog dan pakar budaya populer Kyle William Bishop berpendapat bahwa ledakan popularitas zombie pasca-2000 berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan kolektif masyarakat modern terhadap pandemi, terorisme, dan bencana global. Menurutnya, zombie menjadi cara aman bagi masyarakat untuk membayangkan skenario terburuk tanpa harus mengalaminya secara langsung.

Baca juga: Review Film KEEPER; Ketegangan Tak Terlihat Tapi Terasa

Pandangan serupa juga muncul dari antropolog budaya David J. Skal yang melihat monster-monster populer sebagai cermin ketakutan sosial di setiap generasi. Jika vampir mewakili ketakutan terhadap godaan dan identitas, maka zombie mewakili ketakutan terhadap hilangnya keteraturan sosial.

Karena itu, film zombie terbaik hampir selalu mengandung pertanyaan yang sama. Apa yang terjadi ketika hukum berhenti bekerja?, Apa yang terjadi ketika pemerintah tidak lagi mampu melindungi warga? dan apa yang terjadi ketika sumber daya terbatas dan setiap orang harus memilih antara moralitas atau bertahan hidup?. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat genre zombie terus bertahan.

Dalam konteks tersebut, Colony hadir bukan sekadar sebagai film horor atau thriller. Yeon Sang-ho tampaknya memahami bahwa penonton modern sudah tidak lagi terkejut melihat monster berlari atau adegan gigitan yang berdarah. Yang membuat penonton bertahan adalah bagaimana sebuah wabah mengubah manusia biasa menjadi individu yang harus membuat keputusan ekstrem.

Daya Pikat Colony

Di sinilah kekuatan terbesar film ini. Tanpa membocorkan cerita, Colony memanfaatkan konsep zombie sebagai alat untuk menguji karakter-karakternya. Ketika rasa aman hilang, ketika informasi menjadi terbatas, dan ketika ketakutan mulai mengambil alih, lapisan-lapisan kepribadian manusia perlahan terbuka. Sebagian memilih solidaritas. Sebagian memilih bertahan sendiri. Sebagian lainnya justru menjadi ancaman yang lebih berbahaya dibanding para infected.

Bagi penonton Indonesia, Colony mungkin akan mengingatkan pada pengalaman kolektif selama pandemi beberapa tahun lalu. Bukan karena adanya zombie, melainkan karena perasaan tidak pasti yang menyertainya. Ketika informasi berubah setiap hari, ketika ketakutan menyebar lebih cepat daripada fakta, dan ketika masyarakat dipaksa beradaptasi dengan situasi yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Mungkin itu sebabnya zombie tidak pernah mati sebagai genre. Mereka tidak hidup di kuburan. Mereka hidup dalam kecemasan manusia sendiri. Dan selama manusia masih takut kehilangan kendali atas dunia yang mereka bangun, selama itu pula film-film seperti Colony akan selalu menemukan penontonnya.

Bukan karena ia menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam genre zombie, melainkan karena ia memahami satu hal penting: monster terbaik bukanlah yang paling mengerikan, melainkan yang membuat kita melihat kembali ketakutan kita sendiri.

Akan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 3 Juni.  Skor : 4,5/5. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *