Beritakota.id, Jakarta — Setiap sore, Rasno (53) berdiri di depan gerobak kecilnya di Jalan Taman Aries Utama, Meruya. Di belakangnya, berdiri sebuah gerai restoran cepat saji yang namanya dikenal hampir di seluruh dunia. Menu yang dijual sama: ayam goreng. Skala usahanya jelas berbeda. Namun Rasno tidak pernah merasa sedang kalah.

Pria kelahiran Purbalingga itu sudah berjualan di lokasi tersebut sejak 2011, jauh sebelum gerai besar itu hadir. Dari seorang mantan sopir pribadi, ia memulai usaha kecilnya hanya dengan satu kardus minyak goreng, 25 kilogram tepung terigu, dan beberapa tabung gas 3 kilogram. Tidak ada strategi pemasaran, tidak ada promosi besar, hanya satu hal yang ia pegang sejak awal: konsisten.

Setiap hari, Rasno mulai menggoreng ayam sekitar pukul 14.30. Menjelang Magrib, gerobaknya biasanya sudah bersih. Dalam waktu kurang dari tiga jam, sekitar 25 ekor ayam atau 125–150 potong habis terjual. Pembeli datang tanpa jeda, sebagian besar adalah pelanggan lama yang sudah mengenalnya lebih dari satu dasawarsa.

Ia pernah merasakan masa sulit, terutama ketika harga minyak goreng melonjak dan stoknya langka. Bagi pedagang kecil, situasi seperti itu bisa menjadi pukulan berat. Namun Rasno tetap membuka dagangannya. Ia percaya, usaha kecil hanya punya satu cara untuk bertahan: tidak berhenti.

“Rezeki itu tahu di mana tuannya berada. Selama manusia masih bernapas, artinya rezekinya masih ada. Allah sudah menjamin itu,” ujarnya.

Bagi Rasno, berjualan ayam goreng bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah cara sederhana untuk membesarkan tiga anaknya, sekaligus membuktikan bahwa usaha kecil tidak selalu kalah di tengah gempuran merek besar.

Di sudut Meruya yang tidak terlalu ramai itu, Rasno mungkin tidak punya papan nama besar. Tetapi setiap sore, ia selalu punya satu hal yang tidak berubah: pembeli yang datang dan keyakinan bahwa kerja keras yang jujur akan selalu menemukan jalannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *