Beritakota.id, Jakarta – Burung Indonesia resmi merilis film dokumenter berjudul Jejak Wallacea yang mengangkat perjuangan masyarakat pesisir dalam menjaga kelestarian laut di kawasan Indonesia Timur. Film ini menjadi potret nyata bagaimana komunitas lokal berperan aktif melindungi ekosistem pesisir di tengah berbagai ancaman kerusakan lingkungan.

Pemutaran perdana film dilakukan di Auditorium 1 CGV FX Sudirman, Jakarta, Rabu (6/5), dengan dukungan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) melalui Program Kemitraan Wallacea II. Dokumenter ini juga merupakan hasil kolaborasi bersama Arise! Indonesia.

Film Jejak Wallacea menampilkan realitas di lapangan, mulai dari ancaman praktik penangkapan ikan destruktif seperti penggunaan bom dan racun, hingga perburuan satwa dilindungi seperti penyu. Di tengah keterbatasan akses terhadap edukasi formal, masyarakat pesisir justru mengandalkan kearifan lokal dan hukum adat sebagai benteng utama menjaga keseimbangan alam.

Produser sekaligus sutradara, SAM August Himmmawan, mengungkapkan bahwa proses produksi dilakukan secara sederhana namun penuh dedikasi. Tim kecil yang terdiri dari lima orang harus menjelajahi berbagai wilayah terpencil di empat provinsi di Indonesia Timur selama 22 hari pengambilan gambar.

Perjalanan tersebut mencakup penyeberangan ke pulau-pulau kecil menggunakan perahu nelayan, penyelaman di kawasan konservasi laut, hingga pendakian ke desa-desa adat yang berada di wilayah terpencil. Tantangan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan cerita autentik tentang perjuangan masyarakat pesisir.

Baca juga: Trailer Film Tumbal Proyek Rilis, Bongkar Kisah Kelam di Balik Proyek Besar Jembatan Suramadu

Sementara itu, Wahyu Teguh Prawira menjelaskan bahwa film ini merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas dalam mendorong pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan. Program Kemitraan Wallacea II sendiri berfokus pada penguatan peran organisasi masyarakat sipil di tujuh koridor laut prioritas.

Kawasan Wallacea dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Ekosistemnya yang meliputi terumbu karang, mangrove, dan padang lamun menjadi habitat penting bagi ribuan spesies, termasuk yang bersifat endemis.

Namun, di balik kekayaan tersebut, ancaman kerusakan lingkungan terus meningkat. Praktik penangkapan ikan yang merusak masih terjadi, bahkan di kawasan konservasi. Selain merusak ekosistem, metode tersebut juga berisiko terhadap keselamatan manusia.

Melalui film Jejak Wallacea, Burung Indonesia ingin menegaskan bahwa upaya menjaga laut tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Langkah sederhana masyarakat lokal yang konsisten menjaga lingkungan justru menjadi fondasi penting dalam pelestarian alam.

Dokumenter ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam melindungi kawasan Wallacea dari ancaman yang semakin nyata. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *