Beritakota.id, Jakarta Timur – Film bertema religi di Indonesia beberapa tahun terakhir tidak lagi hanya berbicara tentang ritual keagamaan. Semakin banyak sineas yang mencoba mengangkat sisi paling manusiawi dari perjalanan spiritual, yakni keraguan, kehilangan, hingga proses menemukan kembali makna hidup. Di tengah tren tersebut, Seni Merayu Tuhan hadir menawarkan sudut pandang yang lebih personal melalui kisah seorang anak muda yang berusaha berdamai dengan masa lalunya.

Diproduksi Wahana Kreator dan diadaptasi dari buku laris karya Habib Jafar, film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 13 Agustus 2026. Dari trailer resmi yang baru dirilis, film ini tidak menempatkan agama sebagai sekadar latar cerita, melainkan sebagai perjalanan batin yang tumbuh perlahan setelah seseorang mengalami titik terendah dalam hidupnya.

Baca juga : Film Cinta Lama Babak Kedua, Reuni Slamet Rahardjo dan Widyawati di Layar Lebar

Tokoh utama bernama Hikmah, yang diperankan Ari Irham, digambarkan sebagai representasi sebagian generasi muda urban. Ia hidup bebas, menjauh dari keluarga, jarang pulang ke rumah, mengabaikan perhatian sang ibu, bahkan merasa hubungannya dengan Tuhan telah lama terputus.

Perubahan besar terjadi ketika ibunya meninggal dunia. Kehilangan tersebut menjadi titik balik yang memaksanya mempertanyakan kembali pilihan hidup yang selama ini dijalani. Dari sana, perjalanan spiritual Hikmah dimulai, bukan karena paksaan, melainkan lahir dari kesadaran bahwa ada ruang kosong dalam dirinya yang belum pernah benar-benar ia isi.

Premis semacam ini membuat Seni Merayu Tuhan berpotensi menjangkau penonton yang lebih luas daripada film religi konvensional. Cerita tidak hanya berbicara kepada mereka yang telah merasa dekat dengan agama, tetapi juga kepada siapa pun yang pernah mengalami kehilangan, penyesalan, atau pencarian makna hidup.

Lebih dari Sekadar Film Religi

Produser Salman Aristo menyebut Seni Merayu Tuhan sebagai drama yang dekat dengan realitas generasi muda. Menurutnya, perjalanan spiritual dalam film ini tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan beriringan dengan kisah keluarga, persahabatan, cinta, kehilangan, dan proses menjadi dewasa.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan cerita. Konflik spiritual tidak diposisikan sebagai sesuatu yang menggurui, melainkan muncul secara alami melalui pengalaman hidup tokohnya. Dengan cara itu, penonton diajak memahami bahwa proses mendekat kepada Tuhan sering kali berawal dari pergulatan yang sangat manusiawi.

Film ini juga menandai langkah baru bagi Cesa David Luckmansyah. Selama ini namanya dikenal sebagai salah satu editor paling berpengalaman di industri perfilman Indonesia dengan raihan tiga Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI). Setelah bertahun-tahun berada di balik meja penyuntingan ratusan film, Seni Merayu Tuhan menjadi debutnya sebagai sutradara film panjang.

Cesa mengaku kisah Hikmah terasa sangat personal sehingga mendorongnya mengambil tantangan tersebut. Pengalaman panjang sebagai editor diharapkan mampu menghadirkan ritme penceritaan yang emosional sekaligus efektif dalam membangun kedekatan antara karakter dan penonton.

Di sisi lain, Ari Irham menilai karakter Hikmah memiliki banyak kesamaan dengan kegelisahan yang kerap dialami anak muda. Proses mencari jati diri, membuat kesalahan, menjauh dari keluarga, hingga belajar menerima kenyataan merupakan fase yang menurutnya cukup dekat dengan pengalaman banyak orang.

Kolaborasi Film dan Literasi

Selain Ari Irham, film ini turut dibintangi Lutesha, Rieke Diah Pitaloka, Teuku Ryzki, Habib Jafar, Arie Kriting, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, serta Alfie Alfiandy. Kehadiran para pemain dengan latar belakang yang beragam memberi ruang bagi film untuk menghadirkan dinamika karakter yang lebih kaya.

Sementara itu, naskah film ditulis Rino Sarjono bersama Salman Aristo dan Gina S. Noer. Nama-nama tersebut dikenal memiliki rekam jejak kuat dalam menghadirkan drama yang menitikberatkan pada kedalaman karakter dan emosi, sehingga menjadi modal penting dalam mengadaptasi karya sastra ke layar lebar.

Seni Merayu Tuhan diproduksi Wahana Kreator bekerja sama dengan PK Films, Emtek Media, Starvision, Magma Entertainment, dan Virtuelines Entertainment. Kolaborasi sejumlah rumah produksi tersebut menunjukkan besarnya dukungan terhadap proyek yang menggabungkan drama keluarga dengan tema spiritual.

Yang membedakan film ini dari banyak adaptasi novel lainnya adalah keterlibatan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Mizan Pustaka. Kolaborasi tersebut tidak hanya mendukung proses adaptasi buku ke layar lebar, tetapi juga membawa misi memperkuat budaya literasi melalui medium perfilman.

Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa film tidak lagi dipandang sekadar sebagai hiburan, melainkan juga dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal karya sastra yang menjadi sumber ceritanya. Adaptasi semacam ini berpotensi memperluas jangkauan pembaca sekaligus mempertemukan dunia literasi dengan industri kreatif.

Melihat materi trailer yang telah dirilis, Seni Merayu Tuhan tampaknya tidak berusaha memberikan jawaban instan mengenai persoalan hidup maupun agama. Sebaliknya, film ini memilih mengajak penonton mengikuti perjalanan seseorang yang perlahan belajar menerima kehilangan, memaafkan diri sendiri, dan menemukan kembali jalan pulang kepada keluarga maupun Tuhan.

Jika mampu mempertahankan kedalaman emosional yang ditawarkan trailer, film ini berpeluang menjadi salah satu drama Indonesia yang tidak hanya menyentuh sisi spiritual penonton, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai hubungan keluarga, penyesalan, serta harapan untuk memulai hidup dari awal.

Film Seni Merayu Tuhan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 13 Agustus 2026. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *