Beritakota.id, Jakarta – Industri energi panas bumi dan dunia sepak bola berkolaborasi melalui peluncuran Geothermal Soccer Indonesia (GSI) yang berlangsung di Hotel Ritz-Carlton Kuningan, Jakarta, Jumat (26/6/2026). Komunitas ini mengusung konsep unik dengan memanfaatkan sepak bola sebagai media edukasi untuk memperkenalkan potensi energi panas bumi (geothermal) sekaligus membina talenta muda Indonesia.
Mengusung tagline “Geothermal 30.1”, GSI mendukung target Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar Indonesia menjadi negara dengan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) terbesar di dunia pada 2030, melampaui Amerika Serikat.
Ketua Geothermal Soccer Indonesia, Carson Hakama, mengatakan sepak bola dipilih karena merupakan olahraga yang paling dekat dengan masyarakat dan mampu menjangkau seluruh lapisan usia.
Menurutnya, pendekatan olahraga dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat energi panas bumi sekaligus mengurangi berbagai persoalan sosial di wilayah kerja panas bumi.
“Sepak bola adalah olahraga yang digemari semua kalangan. Melalui olahraga ini kami ingin memperkenalkan potensi besar energi panas bumi Indonesia kepada masyarakat luas sekaligus mendukung percepatan pengembangannya,” ujar Carson.
Geothermal League Diikuti 36 Tim
Sebagai program utama, GSI akan menggelar Geothermal League, kompetisi sepak bola antarpemangku kepentingan sektor panas bumi yang akan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026.
Jumlah peserta tahun ini meningkat menjadi 36 tim dari sebelumnya 28 tim, dengan dukungan lebih dari 45 sponsor.
Liga tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri panas bumi, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan pengelola panas bumi, hingga kontraktor penyedia barang dan jasa.
Menariknya, kompetisi ini memperbolehkan pekerja asing (WNA) yang bekerja di perusahaan sektor panas bumi ikut bertanding sebagai bagian dari upaya memperkenalkan industri geothermal Indonesia ke tingkat internasional.
Pada penutupan kompetisi, GSI juga menyiapkan pertandingan hiburan (fun match) berformat trofeo yang akan menghadirkan sejumlah mantan pemain Tim Nasional Indonesia.
Fokus Pembinaan Talenta Muda Lewat Turnamen U-14
Selain kompetisi antarkorporasi, GSI juga meluncurkan Geothermal Youth League U-14 yang menyasar siswa SMP di wilayah pengembangan panas bumi.
Berbeda dari turnamen usia dini pada umumnya, GSI memilih menggali potensi pemain langsung dari sekolah-sekolah, bukan hanya Sekolah Sepak Bola (SSB).
Program ini diharapkan mampu menghidupkan kembali tradisi kompetisi sepak bola antarsekolah sekaligus membuka kesempatan bagi pemain terbaik memperoleh beasiswa pendidikan melalui jalur prestasi olahraga.
Turnamen U-14 dijadwalkan berlangsung mulai Oktober 2026 dengan cakupan berbagai wilayah kerja panas bumi di Indonesia.
Baca juga: Geothermal Liga dan World Cup 2026 Resmi Dimulai, 36 Tim Siap Berlaga di Jakarta
GSI Jajaki Kerja Sama dengan Persita Tangerang
Dalam kesempatan tersebut, GSI juga mengungkapkan tengah menjajaki kerja sama pembinaan sepak bola usia muda dengan Persita Tangerang.
Kolaborasi ini diarahkan untuk menemukan bibit pesepak bola berbakat dari daerah-daerah terpencil yang berada di sekitar kawasan pengembangan panas bumi.
Presiden Persita Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, menilai program tersebut sejalan dengan komitmen klub dalam membangun pembinaan usia muda.
“Banyak wilayah kerja panas bumi berada di daerah terpencil. Bukan tidak mungkin justru dari sana lahir pemain-pemain hebat Indonesia,” kata Zaki.
Menurutnya, Persita memiliki pengalaman melahirkan pemain nasional seperti Firman Utina dan Ilham Jaya Kesuma melalui pembinaan yang berkelanjutan.
Dukung Target Indonesia Jadi Pemimpin Panas Bumi Dunia
Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau hampir 40 persen cadangan panas bumi dunia. Namun hingga saat ini pemanfaatannya baru mencapai sekitar 11 persen.
Melalui program Geothermal 30.1, Kementerian ESDM menargetkan kapasitas PLTP Indonesia menjadi yang terbesar di dunia pada 2030.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menilai edukasi kepada masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan energi baru terbarukan.
“Pengembangan energi panas bumi membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Melalui Geothermal Soccer Indonesia kami berharap lahir pendekatan baru yang lebih dekat dengan masyarakat sehingga pemahaman terhadap manfaat panas bumi semakin meningkat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Suyadi Pawiro, mengatakan kolaborasi olahraga dan edukasi energi bersih merupakan inovasi yang relevan dalam membangun karakter generasi muda.
Sementara Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Julfi Hadi, menilai Geothermal Soccer Indonesia dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, media, dan masyarakat untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi nasional.
Dari sisi PT PLN (Persero), Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan Suroso menyebut pendekatan melalui sepak bola dapat membantu mengurangi persoalan sosial di sekitar wilayah proyek panas bumi.
Menurutnya, edukasi berbasis olahraga menjadi strategi yang efektif untuk memperkuat dukungan masyarakat terhadap pengembangan energi bersih sekaligus mendukung visi pemerintah dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi nasional. (***)

