Beritakota.id, Jakarta – Peta pertimbangan investor dalam memilih kawasan industri di Indonesia mulai bergeser. Jika sebelumnya harga lahan dan ketersediaan ruang produksi menjadi faktor utama, kini perusahaan lebih mengutamakan ekosistem industri yang terintegrasi, meliputi konektivitas logistik, keandalan utilitas, dukungan rantai pasok (supply chain), hingga layanan investasi yang mampu mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Perubahan preferensi tersebut sejalan dengan meningkatnya investasi pada sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), elektronik, pusat data (data center), serta industri manufaktur berorientasi ekspor yang membutuhkan infrastruktur modern dan jaringan logistik yang terhubung secara efisien.

Chief Commercial Officer PT Suryacipta Swadaya, Abednego Purnomo, mengatakan kawasan industri kini tidak lagi dipandang hanya sebagai lokasi pembangunan pabrik, melainkan telah menjadi bagian penting dari strategi bisnis perusahaan.

“Dalam beberapa tahun terakhir kami melihat perubahan yang cukup signifikan. Investor tidak lagi hanya mengevaluasi biaya lahan atau kecepatan pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana sebuah kawasan dapat mendukung efisiensi supply chain dan keberlangsungan operasional mereka dalam jangka panjang,” ujar Abednego dalam keterangan resminya yang diterima redaksi, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, investor kini semakin memperhatikan berbagai aspek strategis yang sebelumnya belum menjadi pertimbangan utama. Faktor seperti akses menuju pelabuhan dan jaringan transportasi nasional, ketersediaan listrik, air, serta utilitas yang andal menjadi elemen penting dalam menentukan lokasi investasi.

Selain itu, keberadaan fasilitas pendukung yang mempermudah aktivitas bisnis sehari-hari juga menjadi nilai tambah bagi kawasan industri.

Suryacipta mencatat minat investasi dari perusahaan domestik maupun internasional terus meningkat, terutama dari investor asal Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang.

Baca juga: Syam Basrijal Dorong Investasi PLTS-BESS untuk Kurangi Polusi Udara Jakarta

Sebagian besar investasi berasal dari industri otomotif, khususnya kendaraan listrik (EV) dan komponen otomotif, disusul sektor alat berat (heavy machinery), elektronik, pusat data (data center), hingga pergudangan.

Menurut Abednego, perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya mencari lahan untuk membangun fasilitas produksi, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pengelolaan kawasan serta kemudahan layanan investasi sejak proses perizinan hingga operasional.

“Investor kini melihat kawasan industri sebagai mitra strategis yang dapat membantu mempercepat ekspansi bisnis mereka, bukan sekadar penyedia lahan industri,” katanya.

Abednego menilai perubahan preferensi investor akan membentuk pola persaingan baru di industri kawasan dalam beberapa tahun mendatang.

Menurutnya, kawasan industri yang mampu menghadirkan ekosistem bisnis yang lengkap, didukung infrastruktur modern, jaringan logistik yang efisien, serta layanan investasi yang terintegrasi akan memiliki keunggulan lebih besar dalam menarik investasi baru.

“Ke depan, daya saing kawasan industri akan semakin ditentukan oleh kualitas ekosistem yang dimiliki. Kawasan yang mampu mengintegrasikan kebutuhan industri, logistik, dan pengembangan bisnis akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menarik investasi baru,” tutupnya.

Perubahan orientasi investor tersebut menjadi sinyal bahwa pengembangan kawasan industri di Indonesia perlu terus bergerak menuju konsep yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berdaya saing global. Dengan pendekatan tersebut, kawasan industri diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan sektor manufaktur masa depan sekaligus menjaga momentum masuknya investasi yang menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *