Beritakota.id, Jakarta – Di tengah dinamika keberagaman Indonesia yang kerap diwarnai gesekan, praktik toleransi sejati justru sering lahir dari hal-hal sederhana. Bukan melalui pidato panjang atau slogan besar, melainkan dari ruang-ruang kecil—percakapan santai, saling menyapa, dan duduk bersama sambil menyeruput secangkir kopi.

Refleksi ini mengemuka melalui sosok Gugun Gumilar, seorang anak muda yang menghadirkan pendekatan berbeda dalam merawat harmoni sosial. Tanpa panggung besar, ia memilih hadir langsung di tengah masyarakat, khususnya saat muncul potensi konflik antarumat beragama.

Pendekatan Gugun mengingatkan pada pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang sepanjang hidupnya memperjuangkan nilai kemanusiaan di atas sekat identitas. Gus Dur menekankan bahwa kebaikan untuk sesama jauh lebih penting dibanding perbedaan agama atau latar belakang.

Dalam praktiknya, Gugun aktif terlibat dalam ruang-ruang lintas iman. Ia hadir di berbagai komunitas, mulai dari gereja hingga pura, sebagai bentuk nyata membangun jembatan dialog. Baginya, identitas bukanlah penghalang, melainkan pintu untuk saling memahami.

Sebagai negara dengan tingkat keberagaman tinggi, Indonesia memiliki lebih dari 270 juta jiwa dengan ratusan etnis dan bahasa. Namun, berbagai laporan, termasuk dari Setara Institute, masih menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga kebebasan beragama.

Dalam konteks tersebut, kehadiran figur seperti Gugun menjadi relevan. Ia memilih langkah sederhana namun berdampak: membuka ruang dialog. Salah satu contohnya terlihat dalam keterlibatannya pada isu Gereja POUK Tesalonika di Teluk Naga, di mana ia hadir bukan untuk berorasi, melainkan mengajak masyarakat duduk bersama dan berdiskusi secara santai.

Baca juga: Sambut Paskah, Koster Gereja dapat Bantuan Sembako

Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Thomas Aquinas yang memandang manusia sebagai bonum per se—kebaikan pada dirinya sendiri. Artinya, setiap individu memiliki martabat yang tidak dapat direduksi hanya berdasarkan identitas.

Gagasan tersebut juga diperkuat oleh Franz Magnis-Suseno yang menegaskan bahwa demokrasi tidak akan bermakna tanpa toleransi. Toleransi bukan berarti menyamakan pandangan, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai di tengah perbedaan.

Di era yang kerap diwarnai polarisasi, pendekatan seperti yang dilakukan Gugun menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus besar dan spektakuler. Justru, langkah kecil yang konsisten dapat menjadi fondasi kuat bagi terciptanya harmoni sosial.

Pada akhirnya, toleransi bukanlah konsep abstrak, melainkan praktik sehari-hari. Ia hadir dalam kesediaan untuk mendengar, memahami, dan memperlakukan orang lain sebagai sesama manusia.

Seperti pesan universal dalam berbagai ajaran moral, menghormati sesama adalah cermin nyata nilai kemanusiaan. Dan mungkin, jawaban atas tantangan toleransi di Indonesia hari ini memang sesederhana: menyediakan ruang untuk duduk bersama—dan membiarkan secangkir kopi menjadi awal dari dialog yang bermakna. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *