Beritakota.id, Cirebon — Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan inovasi teknologi tepat guna berupa dry oven tenaga surya untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pengolahan rumput laut di wilayah pesisir. Inovasi ini diterapkan di Desa Muara, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, melalui program Community Development Equity 2025 yang bermitra dengan Universiti Malaysia Sabah.

Program ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi biru masyarakat pesisir sekaligus menjawab tantangan utama dalam proses pascapanen rumput laut yang selama ini masih dilakukan secara tradisional dan bergantung pada cuaca.

Tim dari Program Studi Oseanografi ITB mengintegrasikan keahlian teknologi pesisir dan pendekatan sosial-ekonomi masyarakat. Kegiatan ini dipimpin oleh Susanna Nurdjaman bersama tim multidisiplin yang melibatkan dosen dan mahasiswa oseanografi.

Inovasi utama yang dihadirkan berupa dry oven komunal berukuran 5 x 2 meter yang memanfaatkan energi surya melalui panel tenaga matahari. Teknologi ini dirancang untuk mengatasi kendala pengeringan rumput laut yang selama ini sangat bergantung pada sinar matahari langsung.

Metode pengeringan tradisional dinilai kurang efektif karena rentan terhadap perubahan cuaca serta berisiko terkontaminasi pasir dan kotoran. Kondisi tersebut kerap menurunkan kualitas hasil panen dan daya saing produk di pasar.

Baca juga: Pakar Air ITB Ungkap Biaya Selangit di Balik Segarnya Air Kemasan

Dengan penggunaan dry oven berbasis energi surya, proses pengeringan dapat berlangsung lebih cepat, higienis, dan stabil. Selain meningkatkan kualitas produk, teknologi ini juga ramah lingkungan karena memanfaatkan energi terbarukan.

Tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi, program ini juga menekankan aspek pemberdayaan masyarakat. Sekitar 25 anggota kelompok pembudidaya rumput laut di Desa Muara mendapatkan pelatihan terkait pengoperasian dan perawatan alat, sehingga mampu mengelola teknologi secara mandiri.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap, mulai dari survei lokasi, instalasi alat, pelatihan, hingga monitoring. Puncak kegiatan ditandai dengan peresmian dry oven pada 4 April 2026 yang juga diikuti dengan sosialisasi kepada masyarakat setempat.

Inisiatif ini diharapkan menjadi solusi konkret dalam meningkatkan kualitas pascapanen rumput laut sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas. Selain itu, program ini juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, produksi berkelanjutan, serta pemanfaatan sumber daya laut secara bijak.

Ke depan, model dry oven komunal berbasis energi surya ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia sebagai bagian dari penguatan sektor kelautan berbasis inovasi dan keberlanjutan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *