Beritakota.id, Jakarta – Gejolak harga minyak dunia kembali terjadi seiring meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 mulai mengganggu distribusi BBM atau energi global.

Salah satu jalur vital yang terdampak adalah Selat Hormuz. Gangguan di kawasan ini memicu terganggunya pasokan minyak mentah dan mendorong kenaikan harga di pasar internasional.

Sejumlah negara pun mulai mengambil langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan energi. Bangladesh menerapkan penjatahan BBM, China membatasi konsumsi energi, sementara Filipina mengurangi layanan transportasi. Di Malaysia, kuota BBM subsidi RON 95 juga telah dipangkas.

Baca juga: Larangan Impor BBM Dinilai Picu Eksodus SPBU Swasta dari Indonesia

Di tengah tekanan global tersebut, pemerintah Indonesia memastikan belum akan menerapkan pembatasan pembelian Bahan Bakar Minyak, khususnya untuk jenis subsidi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa hingga kini belum ada kebijakan pembatasan maupun kenaikan harga Bahan Bakar Minyak subsidi.

“Sampai sekarang belum ada opsi pembatasan subsidi. Artinya belum ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak subsidi, masih tetap sama,” ujarnya.

Pemerintah memilih menjaga stabilitas energi nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat. Meski demikian, dinamika konflik global tetap menjadi faktor penting yang akan memengaruhi arah kebijakan energi Indonesia ke depan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *