Beritakota.id, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menegaskan besarnya kontribusi komoditas strategis terhadap perekonomian nasional. Dalam rapat paripurna DPR RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026), Prabowo mengungkap tiga sektor utama yakni sawit, batu bara, dan ferro alloy mampu menyumbang devisa ekspor lebih dari USD65 miliar atau setara sekitar Rp1.100 triliun sepanjang 2025.
Menurut Presiden, sawit menjadi salah satu tulang punggung devisa nasional dengan nilai ekspor mencapai USD23 miliar atau sekitar Rp391 triliun. Sementara sektor batu bara mencatat kontribusi terbesar dengan nilai devisa mencapai USD30 miliar atau setara Rp510 triliun.
Di sisi lain, ekspor paduan logam atau ferro alloy juga menunjukkan lonjakan signifikan dengan kontribusi sebesar USD16 miliar atau sekitar Rp272 triliun.
Baca Juga: Menteri P2MI: Pekerja Migran Indonesia Adalah Pejuang Devisa
“Tiga komoditas strategis ini menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS,” kata Prabowo dalam pidatonya di hadapan anggota DPR RI.
Pemerintah Perketat Pengawasan Ekspor
Besarnya potensi devisa tersebut membuat pemerintah mengambil langkah tegas dalam pengawasan tata kelola ekspor sumber daya alam. Presiden Prabowo menegaskan seluruh proses ekspor komoditas strategis nantinya wajib melewati satu pintu melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.
Kebijakan itu diterapkan untuk memperkuat monitoring dan pengawasan terhadap aliran ekspor nasional sekaligus menutup celah kebocoran devisa negara.
Pemerintah juga ingin memberantas berbagai praktik yang dinilai merugikan negara seperti underinvoicing, transfer pricing, hingga pelarian Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke luar negeri.
Langkah tersebut diperkuat melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam. Regulasi ini dirancang untuk memastikan hasil ekspor komoditas nasional memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia.
“Dalam artian hasil dari setiap penjualan ekspor akan diteruskan oleh BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah kepada pelaku usaha pengelola kegiatan tersebut. Ini bisa dikatakan sebagai marketing facility,” ujar Prabowo.
Sawit dan Batu Bara Tetap Jadi Mesin Devisa
Pernyataan Presiden sekaligus memperlihatkan bahwa sektor berbasis sumber daya alam masih menjadi mesin utama pemasukan devisa Indonesia. Sawit dan batu bara tetap mendominasi perdagangan ekspor nasional meski dunia tengah bergerak menuju transisi energi dan ekonomi hijau.
Di tengah tekanan global, pemerintah menilai penguatan tata kelola ekspor menjadi langkah strategis agar manfaat ekonomi dari kekayaan alam Indonesia tidak bocor ke luar negeri.
Kebijakan satu pintu juga dipandang dapat memperbesar kontrol negara terhadap arus perdagangan komoditas bernilai tinggi sekaligus meningkatkan transparansi transaksi ekspor.
Dengan nilai devisa yang menembus Rp1.100 triliun per tahun, pemerintah optimistis sektor komoditas strategis akan tetap menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan.




Tinggalkan Balasan Batalkan balasan