Beritakota.id, Jakarta – Film horor psikologis Hokum menjadi salah satu rilisan genre thriller supranatural yang paling banyak diperbincangkan pada 2026. Disutradarai Damian McCarthy — sineas di balik Oddity dan Caveat — film ini menghadirkan kombinasi folk horror Irlandia, misteri pembunuhan, dan trauma psikologis dalam atmosfer yang pelan namun menghantui.

Dibintangi Adam Scott, Hokum mengikuti perjalanan Ohm Bauman, seorang novelis yang datang ke sebuah hotel terpencil di pedesaan Irlandia untuk menaburkan abu kedua orang tuanya. Namun hotel yang dahulu menjadi tempat bulan madu keluarganya itu ternyata menyimpan legenda kelam tentang penyihir yang menghantui kamar pengantin.

Baca juga : Review Film GOHAN; Ketika Anjing Menjadi Rumah bagi Manusia yang Kehilangan Arah

Misteri, Trauma, dan Kutukan Lama

Cerita bergerak perlahan saat Ohm mulai bertemu penghuni hotel yang aneh dan tertutup. Ketegangan meningkat ketika seorang bartender bernama Fiona tiba-tiba menghilang. Dari titik itu, film berubah dari sekadar horor atmosferik menjadi misteri penuh paranoia dan halusinasi.

McCarthy membangun rasa takut bukan lewat jumpscare murahan, melainkan melalui lorong sunyi, suara bel hotel, pencahayaan redup, dan simbol-simbol folklor Celtic yang mengganggu. Penonton dibuat terus bertanya: apakah Ohm benar-benar dihantui, atau semua itu hanya manifestasi rasa bersalah masa kecilnya?

Pendekatan ini membuat Hokum terasa seperti gabungan folk horror, drama psikologis, dan detective mystery dalam satu paket yang cukup unik.

Horor yang Menggigit Pelan-pelan

Yang membuat Hokum menonjol adalah keberaniannya menjaga tempo lambat tanpa kehilangan tensi. Film ini jelas bukan horor popcorn penuh ledakan adegan seram setiap lima menit. Sebaliknya, ia bermain pada rasa tidak nyaman yang terus tumbuh diam-diam.

Penampilan Adam Scott juga menjadi kejutan besar. Selama ini dikenal lewat karakter satir dan komedi, Scott tampil rapuh, sinis, sekaligus emosional sebagai pria yang berusaha berdamai dengan trauma keluarganya. Banyak kritik memuji performanya sebagai salah satu kekuatan utama film.

Secara visual, Damian McCarthy mempertahankan gaya khasnya: ruang sempit, simbol ganjil, dan atmosfer dingin yang terasa seperti mimpi buruk. Beberapa adegan bahkan mengingatkan pada nuansa karya-karya folk horror klasik Eropa dengan sentuhan modern.

Namun bagi sebagian penonton, ritme film yang lambat dan minim penjelasan mungkin terasa terlalu “artsy”. Film ini lebih suka memberi petunjuk samar dibanding menjelaskan semua misterinya secara gamblang. Justru di situlah daya tariknya.

Hokum bukan film horor biasa. Ia lebih mirip perjalanan psikologis penuh kabut, trauma, dan mitologi gelap yang perlahan menyeret penonton masuk ke dunia supranaturalnya.

Bagi penggemar horor atmosferik seperti The Witch, Hereditary, atau Oddity, film ini layak masuk daftar tonton 2026. Tetapi jika mencari horor cepat penuh jumpscare, Hokum mungkin terasa terlalu tenang — meski justru ketenangan itulah yang membuatnya menyeramkan. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *