Beritakota.id, JAKARTA– Nilai tukar rupiah terus tertekan sepanjang Mei 2026, melemah ke level Rp17.717 per dolar AS pada penutupan perdagangan 22 Mei 2026. Di tengah kepanikan pasar, sejumlah saham justru berpotensi meraup keuntungan dari kondisi ini.

Emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar AS cenderung diuntungkan saat rupiah melemah. Nilai konversi pendapatan menjadi lebih besar saat dibukukan dalam rupiah, sementara sebagian biaya operasional tetap menggunakan mata uang lokal.

Lantas, saham mana saja yang layak dicermati?

Sektor Energi dan Batu Bara

Perusahaan di bidang batu bara, minyak, gas, dan kelapa sawit menjual produknya dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional masih dalam rupiah. Inilah yang membuat margin mereka otomatis membesar saat kurs melemah.

Emiten seperti ADRO, ADMR, dan HRUM berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih berkat strategi operasional yang efektif serta eksposur pasar ekspor yang kompetitif.

Catatan penting: Prabowo mengumumkan kebijakan ekspor satu pintu melalui BUMN untuk CPO, batu bara, dan paduan besi mulai 1 Juni 2026. Investor perlu mencermati dampak regulasi ini terhadap fleksibilitas margin emiten komoditas.

Baca juga : Kurs Rupiah Tembus Angka Baru, Ini 5 Sektor Usaha yang Paling Menjerit

Sektor Konsumer dengan Eksposur Ekspor

Tidak semua saham konsumer ikut tertekan. Rupiah melemah tidak selalu menguntungkan saham konsumer, ICBP tertekan rugi kurs, sementara ULTJ dan CMRY justru berpotensi diuntungkan.

Kuncinya ada pada struktur utang valasnya. Pelemahan rupiah bisa menjadi pedang bermata dua, terutama bagi emiten yang neraca valasnya timpang.

INDF diuntungkan oleh eksposur bisnis perkebunan melalui PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) yang penjualan ekspornya naik di tengah penguatan dolar AS. Samuel Sekuritas menargetkan harga saham INDF di level Rp7.900 dari posisi sekitar Rp6.750, atau berpotensi naik sekitar 17%.

Waspada: Saham yang Justru Tertekan

Emiten yang sangat bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan yang tidak ringan. Sektor consumer goods tertentu, farmasi, serta manufaktur dengan komponen impor tinggi menjadi kelompok yang paling rentan.

Investor disarankan memeriksa posisi utang valasnya sebelum masuk ke emiten mana pun di tengah volatilitas kurs saat ini.

Berikut ringkasan visual saham-saham yang umumnya diuntungkan saat rupiah melemah:

Kurs rupiah: Rp17.700+/USD (Mei 2026) — saham berpotensi diuntungkan dari pelemahan nilai tukar

Berikut adalah tabel yang telah dirapikan agar lebih mudah dibaca dan dianalisis:

Sektor Kode Emiten Mengapa Diuntungkan Potensi
Energi & Pertambangan ADRO Adaro Energy Pendapatan ekspor menggunakan USD, sementara biaya operasional dalam Rupiah Tinggi
ADMR Adaro Minerals Memproduksi batu bara metalurgi dengan harga premium dan dominasi pasar ekspor Tinggi
PTBA Bukit Asam Penerapan efisiensi biaya yang ketat, menjaga laba bersih tetap tumbuh Moderat
MEDC Medco Energi Pendapatan dari ekspor minyak dan gas seluruhnya dalam denominasi USD Tinggi
Konsumer & Perkebunan INDF Indofood Ekspor via SIMP meningkat dan memiliki kekuatan untuk meneruskan kenaikan biaya (pass-through) ke harga jual Tinggi
ULTJ Ultrajaya Milk Struktur modal aman dengan minim utang valas, sehingga beban bunga sangat kecil Moderat
CMRY Cimory Dairyland Tidak memiliki utang dalam dolar, sehingga margin laba bersih aman dari fluktuasi kurs Moderat
MYOR Mayora Indah Jangkauan ekspor produk ke lebih dari 100 negara menghasilkan pendapatan USD yang signifikan Tinggi

Disclaimer: Tabel di atas bukan sebagai ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.

Mengapa Emiten Eksportir Diuntungkan?

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, memberikan analisisnya mengenai fenomena pasar modal ini.

Menurutnya, emiten eksportir mendapatkan berkah ganda dari lonjakan nilai tukar mata uang asing. “Pendapatan mereka otomatis membengkak saat dikonversi ke rupiah,” ujar Tauhid saat dihubungi di Jakarta.

Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap selektif dalam memilih saham. Investor harus memastikan emiten tersebut tidak memiliki utang jangka pendek dalam denominasi dolar AS yang besar. Beban utang valas yang tinggi justru dapat menggerus keuntungan operasional perusahaan.

Baca juga : Rupiah Sedang Lesu, Ini 4 Strategi Mengamankan Aset Keuangan agar Tidak Boncos

Rekomendasi Strategi untuk Investor Ritme

Selain komoditas, sektor manufaktur dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi juga menarik dicermati. Perusahaan tekstil atau furnitur yang membidik pasar luar negeri akan lebih kompetitif di pasar global. Produk mereka menjadi lebih murah bagi pembeli internasional tanpa mengurangi margin keuntungan di dalam negeri.

Investor disarankan untuk masuk secara bertahap pada saham-saham pilihan tersebut. Diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko ketidakpastian global. Momentum pelemahan kurs ini dapat dimanfaatkan untuk mendulang profit jangka pendek hingga menengah.