Beritakota.id, Jakarta – Ratusan warga yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Jakarta menggelar Festival Bongkar Celengan di Kampung Susun Akuarium, Jakarta Utara, Minggu (15/2/2026). Kegiatan ini menjadi penanda keberhasilan warga miskin perkotaan dalam mengelola tabungan kolektif selama satu tahun dengan total aset mencapai Rp756.737.369 per 13 Februari 2026.
Ketua Koperasi Jaringan Perumahan Rakyat (Koperasi Japra), Dharma Diani, mengatakan festival ini merupakan puncak dari kegiatan menabung rutin yang dilakukan kelompok-kelompok kecil warga setiap pekan.
“Setiap minggu kami berkumpul dan menabung sesuai kemampuan masing-masing. Nominalnya tidak besar, tapi karena dilakukan bersama dan konsisten selama satu tahun, hasilnya signifikan,” ujarnya.
Menurut Dharma, JRMK saat ini memiliki 63 kelompok yang tersebar di berbagai kampung di Jakarta, khususnya Jakarta Utara. Setiap kelompok beranggotakan 10 hingga 15 orang. Di Kampung Susun Akuarium sendiri terdapat enam kelompok aktif.
Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk kebutuhan anggota, seperti pembagian menjelang Lebaran, perbaikan rumah, lingkungan kampung, program santunan kematian anggota dan santunan keluarga sebesar Rp10 juta yang menjadi program induk, hingga kegiatan sosial lainnya. Sistem ini juga menjadi bentuk solidaritas antarwarga.
Baca juga: RUU Koperasi Dinilai Layak Jadi UU Sistem Perkoperasian Nasional
“Kami ingin menunjukkan bahwa warga miskin bukan hanya identik dengan aksi protes. Kami bisa berdaya, mandiri, dan saling menjaga. Prinsipnya sederhana, warga jaga warga,” tegasnya.
Sementara itu, Pengawas Koperasi Cabang JRMK, Eny Rochayati, menjelaskan bahwa kelompok-kelompok tersebut merupakan bagian dari koperasi primer di tingkat kampung. Setiap anggota rutin menabung dan dapat memanfaatkan sistem simpan pinjam berbasis solidaritas.
Sebagian iuran anggota dialokasikan untuk dana kelompok, operasional koperasi, serta santunan sosial seperti bantuan kematian. Seluruh dana yang dikelola, kata Eny, murni berasal dari anggota tanpa campur tangan pihak luar.
“Kami ingin memutus ketergantungan warga terhadap pinjaman online dan lembaga pembiayaan berbunga tinggi. Di sini uang anggota dikelola untuk kepentingan anggota,” jelasnya.
Festival Bongkar Celengan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan simbol perlawanan terhadap stigma bahwa warga miskin tidak mampu mengelola keuangan. Melalui kedisiplinan dan kebersamaan, JRMK membuktikan bahwa solidaritas dapat menjadi fondasi kemandirian ekonomi di tengah tantangan kehidupan perkotaan. (***)

