Beritakota.id, Jakarta – Sorotan publik terhadap visual balita di kemasan produk AQUA memicu beragam persepsi di media sosial. Sebagian narasi bahkan menyebutkan adanya indikasi bahwa produk tersebut ditujukan untuk bayi atau balita.
Namun, klarifikasi resmi dari Danone Indonesia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak tepat jika dilihat tanpa konteks menyeluruh. Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, menjelaskan bahwa visual yang dipermasalahkan merupakan bagian dari secondary label atau label sekunder pada kemasan bundling.
“Visual tersebut merupakan bagian dari label tambahan pada kemasan luar untuk produk bundling 6 botol AQUA 1500 ml, bukan label utama pada botol,” kata Arif Mujahidin kepada Beritakota.id, Jumat, (17/4/2026).
Baca juga: DPR Apresiasi Aqua: Sumur Resapan hingga Daur Ulang Plastik Dinilai Jaga Lingkungan
Menurutnya, label sekunder digunakan untuk kebutuhan distribusi dan identifikasi produk dalam penjualan paket. Sementara itu, label utama yang terdapat pada masing-masing botol tetap menjadi acuan utama informasi produk sesuai regulasi.
Jika dilihat secara utuh, desain label tersebut menampilkan ilustrasi keluarga, bukan hanya balita sebagai objek tunggal. Pemotongan visual yang beredar di media sosial dinilai menjadi penyebab munculnya persepsi yang kurang tepat.
Lebih lanjut, AQUA juga menegaskan bahwa tidak ada klaim yang menyebutkan produk tersebut diperuntukkan khusus bagi bayi atau balita. Produk AMDK sendiri merupakan kategori pangan umum yang pengaturannya berada di bawah Badan Pengawas Obat dan Makanan.
“Seluruh informasi pada kemasan utama telah sesuai dengan ketentuan BPOM. Label sekunder hanya digunakan dalam konteks penjualan bundling,” tambah Arif.
Sejumlah pengamat komunikasi menilai, fenomena ini mencerminkan tantangan di era digital, di mana potongan visual atau informasi seringkali disebarkan tanpa konteks utuh, sehingga berpotensi membentuk opini yang bias.
Di sisi lain, perhatian dari lembaga perlindungan konsumen dan anak tetap dianggap penting sebagai bentuk kontrol terhadap praktik komunikasi produk. Diskursus ini dinilai perlu ditempatkan secara proporsional dengan mempertimbangkan aspek regulasi dan konteks visual secara menyeluruh.
Sebagai respons, AQUA menyatakan telah melakukan peninjauan internal terhadap seluruh materi komunikasi dan kemasan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi serta menjaga prinsip perlindungan konsumen.
Perusahaan juga menegaskan keterbukaannya terhadap masukan publik sebagai bagian dari komitmen menjaga kepercayaan masyarakat.
“AQUA menghargai perhatian dan masukan dari berbagai pihak serta terus berkomitmen menjaga komunikasi yang bertanggung jawab,” tutup Arif.

