Bandung – Rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar menjelang visi Indonesia Emas 2045. Di tengah tantangan tersebut, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memilih memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi sebagai strategi mempercepat peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM).

Langkah ini dinilai penting karena persoalan literasi tidak lagi sekadar berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia, daya saing ekonomi, hingga kesiapan masyarakat menghadapi era transformasi digital.

Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, saat memberikan pembekalan kepada peserta KKN Tematik Literasi Universitas Padjadjaran (Unpad) 2026 di Jatinangor, menegaskan bahwa rendahnya budaya membaca masih menjadi tantangan utama di Indonesia. Data yang dipaparkannya menunjukkan rata-rata masyarakat Indonesia hanya menyelesaikan sekitar 5,91 buku per tahun dengan total waktu membaca sekitar 129 jam dalam setahun.

Baca juga Penguatan Literasi dan Publikasi Digital Jadi Fokus Pendidikan Sespimmen Polri

Menurut Aminudin, kondisi tersebut tercermin dalam capaian IPLM yang masih relatif rendah. Rata-rata indeks pada tingkat kabupaten/kota berada di angka 10,37, sementara tingkat provinsi mencapai 29,36. Di sisi lain, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional masih berada di kisaran 54,8.

“Persoalan literasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan,” ujarnya.

Kampus Jadi Mitra Strategis

Dalam upaya memperbaiki kondisi tersebut, Perpusnas menjalankan empat program utama. Salah satu yang menjadi sorotan adalah KKN Tematik Literasi yang mulai dijalankan sejak 2025 dan diperluas pada 2026 ke 23 perguruan tinggi di berbagai daerah.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta pengabdian masyarakat, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan yang membantu membangun ekosistem literasi di tingkat desa.

Tahun ini, Perpusnas menargetkan sekitar 1.000 lokus kegiatan di seluruh Indonesia dengan melibatkan antara 10 hingga 15 mahasiswa di setiap desa. Jika target tersebut tercapai, maka sekitar 10.000 hingga 15.000 mahasiswa akan bergerak secara serentak untuk mengembangkan budaya literasi masyarakat.

Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma pembangunan literasi nasional. Jika sebelumnya program literasi lebih banyak berfokus pada penyediaan buku dan fasilitas perpustakaan, kini perhatian mulai bergeser pada penguatan aktivitas dan pendampingan masyarakat agar bahan bacaan benar-benar dimanfaatkan.

Dari Perpustakaan ke Pemberdayaan Ekonomi

Selain KKN Tematik Literasi, Perpusnas juga menjalankan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini menempatkan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar ruang penyimpanan buku.

Melalui berbagai pelatihan dan kegiatan produktif, masyarakat diajak memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang dapat meningkatkan keterampilan dan bahkan membuka peluang ekonomi baru. Konsep ini menjadi penting karena literasi semakin dipahami sebagai kemampuan mengakses, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas hidup.

Program lainnya adalah Relawan Literasi Masyarakat (Relima), yang bertujuan menyatukan berbagai gerakan literasi agar lebih terarah dan berkelanjutan. Sementara itu, distribusi bantuan buku terus dilakukan ke desa, kelurahan, taman bacaan masyarakat, puskesmas, hingga lembaga pemasyarakatan guna memperluas akses terhadap bahan bacaan.

Jawa Barat Jadi Laboratorium Literasi

Universitas Padjadjaran menjadi salah satu mitra utama dalam pelaksanaan KKN Tematik Literasi tahun ini. Sebanyak 1.555 mahasiswa akan diterjunkan ke 74 desa yang tersebar di Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, dan Garut selama periode 10 Juli hingga 11 Agustus 2026.

Di wilayah tersebut terdapat 21 perpustakaan desa dan kelurahan serta 53 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang akan menjadi pusat kegiatan mahasiswa. Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menghidupkan berbagai program literasi melalui kegiatan membaca bersama, membaca nyaring, pembuatan resensi buku, hingga aktivitas kreatif berbasis komunitas.

Direktur Pendidikan Non Gelar Unpad, Erli Sarlita, menjelaskan bahwa program KKN tahun ini tidak hanya berfokus pada literasi, tetapi juga mendukung agenda penanganan kemiskinan dan pengelolaan sampah. Integrasi berbagai isu pembangunan tersebut menunjukkan bahwa literasi semakin diposisikan sebagai fondasi yang menopang berbagai aspek pembangunan masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, kolaborasi antara Perpusnas dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk memperluas dampak gerakan literasi. Jika ribuan mahasiswa mampu menggerakkan masyarakat di tingkat desa, maka peningkatan IPLM tidak hanya menjadi target statistik, melainkan bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun kualitas manusia Indonesia yang lebih kompetitif menuju 2045. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *