Beritakota.id, Jakarta – Istilah “Sell Indonesia” tengah menjadi sorotan setelah muncul dalam sejumlah pemberitaan media asing yang menyoroti pelemahan rupiah dan tekanan di pasar keuangan Indonesia. Istilah tersebut memicu pertanyaan publik mengenai kondisi ekonomi nasional dan sentimen investor global terhadap Indonesia.

Melemahnya nilai tukar rupiah turut menjadi perhatian media internasional. Mereka menggunakan istilah “Sell Indonesia” untuk menggambarkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset-aset Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.

Sejak rupiah menunjukkan tren pelemahan, berbagai media asing ramai memberitakan kondisi tersebut. Tekanan pada mata uang juga dipengaruhi faktor eksternal, termasuk meningkatnya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel.

Namun demikian, tekanan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor global. Sejumlah faktor domestik juga turut berkontribusi terhadap pelemahan rupiah hingga menyentuh level terendah dalam sejarah.

Sebagai informasi, rupiah sempat ditutup melemah di level Rp18.188 per dolar AS pada Senin (8/6/2026). Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi 252,63 poin atau 4,52 persen ke level 5.342.

Apa Itu “Sell Indonesia”?

“Sell Indonesia” merupakan istilah yang digunakan pelaku pasar untuk menggambarkan sentimen investasi terhadap Indonesia. Salah satunya dikemukakan oleh George Boubouras, Kepala Riset hedge fund K2 Asset Management.

Dalam pemberitaan yang dikutip dari The Straits Times dan Bloomberg, Boubouras menyatakan sikap hati-hatinya terhadap eksposur investasi di Indonesia.

Dalam istilah pasar keuangan, “Sell Indonesia” merujuk pada kondisi ketika investor global lebih memilih mengurangi atau menjual aset Indonesia, termasuk saham, obligasi, maupun rupiah, dibanding menambah eksposur investasi.

Laporan The Straits Times menyebutkan bahwa perubahan sentimen ini muncul seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap agenda ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk target pertumbuhan ekonomi yang ambisius hingga 8 persen.

Sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan peran negara dalam sektor ekonomi, hingga pembentukan Danantara turut menjadi perhatian investor terkait sumber pembiayaan, risiko fiskal, dan kepastian kebijakan jangka panjang.

Baca juga: Menkeu Purbaya: Fiskal RI Aman Meski APBN Defisit Rp180 Triliun

Di sisi lain, pasar juga mencermati potensi perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI yang dapat berdampak pada arus investasi global. Kekhawatiran muncul terkait struktur kepemilikan saham di pasar modal Indonesia yang dinilai masih didominasi pemegang saham pengendali, sehingga free float terbatas dan likuiditas relatif rendah.

Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah kebijakan pemerintah dalam penguatan kontrol terhadap ekspor komoditas strategis untuk meningkatkan penerimaan negara, yang oleh sebagian investor dipandang dapat meningkatkan ketidakpastian regulasi.

Selain itu, pergantian tokoh kunci ekonomi seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 2025 juga disebut sebagian analis sebagai salah satu faktor yang memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas kebijakan fiskal Indonesia.

Respons Menkeu

Menanggapi narasi “Sell Indonesia”, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai analisis tersebut tidak sepenuhnya tepat dan tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

“Itu tren Sell Indonesia saya baca di Bloomberg ya, itu salah satu penulis mungkin yang tidak tahu keadaan Indonesia seperti apa,” ujarnya saat meninjau aktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2026).

Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih dalam keadaan stabil dan tidak berada dalam ancaman krisis seperti 1998.

“Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus,” kata Purbaya.

Untuk memperkuat keyakinan pasar, Kementerian Keuangan mempercepat publikasi realisasi APBN agar kondisi fiskal nasional dapat dipantau secara transparan oleh publik dan investor.

Meski demikian, Menkeu mengakui masih terdapat sentimen negatif yang turut memengaruhi pergerakan rupiah. Ia menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *