Beritakota.id, Jakarta – Emas memperoleh dukungan dari melemahnya dolar dan turunnya yield, sementara risiko geopolitik yang sebelumnya mendominasi mulai memudar. Namun arah besar pasar belum ditentukan.

Malam ini, seluruh perhatian akan tertuju pada Federal Reserve. Rebound yang terlihat saat ini bisa berkembang menjadi pemulihan yang lebih besar, atau justru hanya menjadi jeda sementara dalam tren koreksi yang masih berlangsung.

Baca juga : Harga Emas Bertahan, Pasar Mulai Takut Inflasi Perang

Pasar emas berhasil mempertahankan momentum pemulihan setelah tekanan besar yang terjadi sepanjang beberapa pekan terakhir. Sentimen utama yang menggerakkan pasar saat ini bukan lagi konflik Timur Tengah, melainkan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

Diawal sesi perdagangan hari Rabu (17/06/2026), harga emas kembali menguat menuju area US$4.330–4.340. Sentimen positif bersumber dari pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil Treasury menjelang keputusan Federal Reserve malam ini.

Perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran telah mengurangi kekhawatiran inflasi energi. Dibukanya kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz menekan harga minyak dan membuat pasar mulai mengurangi probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan pada akhir tahun. Kondisi ini memberikan ruang napas bagi emas yang sebelumnya tertekan oleh lonjakan yield dan penguatan dolar.

Namun demikian, kenaikan yang terjadi saat ini masih lebih tepat dikategorikan sebagai rebound dalam tren koreksi menengah. Investor institusi masih menunggu arah baru dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pertemuan FOMC pertamanya. Pasar hampir sepenuhnya memperkirakan suku bunga tetap ditahan, sehingga fokus akan tertuju pada proyeksi ekonomi, dot plot, dan nada pernyataan The Fed. Jika Fed mempertahankan sikap hawkish, penguatan emas berpotensi kembali tertahan. Sebaliknya, sinyal yang lebih dovish dapat mempercepat pemulihan menuju area resistance yang lebih tinggi.

Menurut analis Dupoin Indonesia, faktor yang perlu diawasi tetap sama seperti beberapa minggu terakhir: DXY dan US Treasury Yield. Penurunan keduanya menjadi bahan bakar utama rebound emas saat ini. Selama dolar bertahan di bawah area psikologis 100 dan yield 10 tahun bergerak di sekitar 4,44%, peluang pemulihan emas masih terbuka.

Lebih lanjut dijelaskan olehnya, bahwa kondisi pasar berada dalam fase event-driven trading. Rebound emas valid selama pasar terus memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun volatilitas tinggi diperkirakan muncul menjelang dan sesudah keputusan FOMC.

“Selama harga bertahan di atas area 4.300, lakukan aksi beli diatas harga ini (Bullish Scenario) dengan target ke 4.360, 4.420 hingga 4.500. Momentum bullish akan menguat apabila Fed terdengar lebih dovish dari ekspektasi pasar”, ungkapnya.

“Sebaliknya, jika harga gagal mempertahankan area US$4.300, lakukan aksi jual (Bearish Scenario ) dibawah harga tersebut dengan target ke 4.250, 4.200 hingga 4.100. Sebagai catatan, bahwa tekanan jual dapat kembali muncul apabila Fed mengindikasikan risiko inflasi masih tinggi dan membuka peluang pengetatan lanjutan” jelasnya lebih lanjut.

Tetap disiplin menjaga ukuran posisi menjelang FOMC. Dalam lingkungan pasar seperti ini, pergerakan harga sering kali lebih ditentukan oleh satu kalimat dari bank sentral dibandingkan seluruh data ekonomi yang telah dirilis sepanjang minggu. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *