Beritakota.id, Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan melambatnya pertumbuhan industri startup, pendiri sekaligus CEO BantuCari, Muhammad Arbani, memilih fokus memperkuat kualitas layanan dan membangun ekosistem digital berbasis gotong royong yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas.
Melalui pendekatan berbasis komunitas dan teknologi, Arbani mengembangkan BantuCari bukan hanya sebagai platform pencarian barang atau orang hilang, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku sektor informal.
Muhammad Arbani dikenal sebagai sosok muda di balik lahirnya BantuCari, sebuah platform digital yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat kehilangan barang berharga. Pengalaman tersebut mendorongnya menciptakan sistem yang dapat membantu masyarakat memperoleh akses bantuan secara cepat, mudah, dan terintegrasi.
Di bawah kepemimpinannya, BantuCari berkembang menjadi platform yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan bantuan terpercaya, mulai dari pencarian barang hilang, pencarian orang, kebutuhan darurat, hingga layanan bantuan cepat lainnya.
Namun, menurut Arbani, misi BantuCari tidak berhenti pada aspek pencarian semata.
Saat ini, perusahaan tengah mengembangkan konsep ekonomi gotong royong digital dengan melibatkan berbagai pelaku usaha sektor informal, seperti pedagang gerobak, pedagang kaki lima, pengemudi ojek, hingga masyarakat yang memiliki waktu luang dan akses terhadap telepon pintar.
Menurutnya, kelompok masyarakat tersebut memiliki peluang memperoleh tambahan penghasilan melalui aplikasi BantuCari dengan membantu proses pencarian di wilayah sekitar mereka.
“BantuCari sedang menjajaki kerja sama dengan pedagang gerobak, kaki lima, dan lainnya. Berdasarkan riset kami, sebagian besar dari mereka memiliki handphone. Mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan melalui aplikasi BantuCari dengan membantu pencarian di area sekitar mereka,” ujar Arbani.
Konsep tersebut menjadi bagian dari visi perusahaan untuk membangun ekonomi gotong royong berbasis teknologi yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, baik pekerja sektor formal maupun informal.
Dengan mengusung tagline “Membantu Menggerakkan Perekonomian Arus Bawah”, BantuCari berupaya menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital.
Baca juga: Muhammad Arbani: Kiprah Founder BantuCari yang Satukan Dunia Startup, Akademik, dan Riset
“Sekarang hampir semua kalangan memiliki HP. Karena itu, siapa pun pelaku ekonomi, baik formal maupun informal, bisa mendapatkan manfaat dari BantuCari,” katanya.
Di tengah dinamika geopolitik global dan berakhirnya era pertumbuhan startup yang agresif, Arbani memilih strategi penguatan layanan serta efisiensi operasional sebagai fondasi pertumbuhan perusahaan.
Ia menilai keberhasilan BantuCari tidak dapat dipisahkan dari peran komunitas yang aktif terlibat dalam pengembangan platform. Karena itu, perusahaan secara konsisten memberdayakan komunitas serta talenta digital lokal, termasuk kreator konten skala mikro.
Arbani menegaskan bahwa nilai utama perusahaan tetap berpegang pada semangat #SalingBantuMencariYangHilang, yang menjadi dasar dalam setiap inovasi dan pengembangan layanan.
“Semangat saling membantu menjadi fondasi utama kami. Teknologi harus memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan sosial tersebut, lanjut Arbani, menjadi kekuatan utama BantuCari dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi digital saat ini.
Selain itu, perusahaan juga menerapkan budaya kerja yang lebih efisien dan kolaboratif dengan menggandeng individu-individu yang memiliki visi serta misi yang sejalan.
Melalui konsep gotong royong digital yang terus dikembangkan, BantuCari berharap dapat menjadi lebih dari sekadar platform teknologi. Perusahaan ingin menjadi wadah kolaborasi masyarakat untuk saling membantu sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru yang berkelanjutan.
Dengan mengusung gerakan #SalingBantuMencariYangHilang, BantuCari menargetkan terciptanya ekosistem digital yang mampu menghubungkan kepedulian sosial dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan. (***)

