Beritakota.id, Jakarta Timur — Festival budaya hampir selalu menghadirkan optimisme. Panggung seni dipenuhi penonton, pelaku UMKM memperoleh ruang berjualan, komunitas budaya kembali bertemu, sementara media sosial dipenuhi dokumentasi yang menunjukkan betapa kayanya tradisi lokal. Namun, di balik setiap festival selalu tersimpan satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab: apakah seluruh energi yang tercipta selama beberapa hari itu mampu menghidupkan budaya dalam jangka panjang, atau hanya menjadi euforia yang perlahan menghilang ketika panggung dibongkar?

Pertanyaan itu menjadi relevan ketika melihat penyelenggaraan Sorak Betawi Condet 2026. Selama dua hari pelaksanaan, kawasan Condet menghadirkan wajah budaya Betawi yang hidup melalui pertunjukan seni, lokakarya, pemberdayaan UMKM, hingga keterlibatan mahasiswa dan masyarakat. Festival ini memperlihatkan bagaimana kolaborasi lintas komunitas masih mampu menghadirkan ruang publik yang mempertemukan tradisi dengan generasi muda.

Baca juga : Sorak Betawi Condet Hidupkan Warisan Budaya di Era Digital

Namun, nilai terpenting dari Sorak Betawi Condet sesungguhnya tidak terletak pada ramainya acara. Festival ini justru menawarkan kesempatan untuk membaca persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana Jakarta mempertahankan identitas budayanya di tengah perubahan kota yang berlangsung semakin cepat. Di tengah ekspansi kawasan permukiman, perubahan gaya hidup masyarakat, dan dominasi ruang digital, budaya lokal tidak lagi cukup dipertahankan melalui seremoni tahunan. Ia membutuhkan ekosistem yang mampu membuatnya tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Dalam konteks itulah Sorak Betawi Condet layak dipandang bukan sekadar agenda budaya, melainkan sebuah laboratorium sosial yang menguji apakah kolaborasi antara masyarakat, akademisi, komunitas, dan pemerintah mampu melahirkan fondasi baru bagi pelestarian budaya Betawi.

Dari Tepian Ciliwung Lahir Sebuah Identitas

Bagi Ketua Pokdarwis Kampung Condet, Dicky Arfansuri, menjaga Condet tidak pernah hanya soal mempertahankan sebuah kawasan. Yang sedang dijaga adalah lapisan sejarah yang membentuk identitas Jakarta selama berabad-abad.

Ia menjelaskan bahwa kawasan Condet memiliki jejak peradaban yang jauh lebih tua daripada yang selama ini dipahami masyarakat. Penemuan artefak berupa kapak batu, mata panah, dan berbagai peninggalan masa Neolitikum di bantaran Sungai Ciliwung pada dekade 1980-an menjadi petunjuk bahwa wilayah ini telah dihuni manusia sejak ribuan tahun silam.

Jejak sejarah tersebut kemudian berkembang menjadi kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya Betawi. Bahkan asal-usul nama Condet pun masih menyimpan berbagai versi yang hidup di tengah masyarakat. Salah satunya mengaitkan kata “Condet” dengan bahasa Sunda, yakni “Ci” yang berarti air dan “Ondet” yang merujuk pada tumbuhan atau buah-buahan yang dahulu tumbuh di sepanjang tepian Ciliwung. Ada pula versi lain yang menghubungkannya dengan nama seorang pangeran yang pernah menetap di kawasan tersebut.

Bagi Dicky, sejarah itu bukan sekadar cerita masa lalu. Ia menjadi alasan mengapa masyarakat Condet terus berupaya mempertahankan identitas budaya yang tersisa di tengah perkembangan kota. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai sentra buah-buahan melalui kebijakan Cagar Buah Condet pada era Gubernur Ali Sadikin kini menghadapi tekanan urbanisasi yang terus mengubah wajah lingkungan.

Rumah-rumah Betawi yang masih mempertahankan bentuk aslinya semakin sedikit. Lanskap pertanian perlahan berganti menjadi kawasan permukiman. Bersamaan dengan itu, ruang-ruang tempat budaya diwariskan secara alami juga ikut menyusut.

Karena itu, menurut Dicky, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui festival atau pertunjukan semata.

“Pariwisata di Condet tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan masyarakat,” ujarnya.

Kalimat tersebut sesungguhnya menggambarkan persoalan yang lebih luas. Budaya hanya akan bertahan apabila menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hadir ketika sebuah acara berlangsung.

Ketika Budaya Bertemu Generasi Digital

Pandangan itu menjadi benang merah yang juga terlihat dalam rangkaian kegiatan Sorak Betawi Condet 2026.

Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan Palang Pintu, Gambang Kromong, Lenong, Tari Betawi, maupun bazar UMKM. Sejak awal penyelenggaraan, panitia memilih mempertemukan budaya dengan dunia yang paling dekat dengan generasi muda saat ini, yakni ruang digital.

Mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business mengawali kegiatan melalui pelatihan pembuatan konten digital, pengelolaan media sosial, hingga penyuntingan video bagi pelajar dan masyarakat. Di sisi lain, workshop budaya memperkenalkan kelas Gambang Kromong, tari tradisional, pembuatan emping, hingga eksplorasi busana Betawi yang dipadukan dengan gaya kontemporer.

Pendekatan semacam ini memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap pelestarian budaya. Budaya tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan dalam bentuk yang kaku, tetapi diterjemahkan kembali agar mampu berbicara menggunakan bahasa generasi sekarang.

Rizka Septiana, Deputy Head of Media Relations LSPR Institute of Communication & Business, melihat pendekatan tersebut sebagai bagian dari proses membangun hubungan yang lebih dekat antara masyarakat dan budaya lokal.

Menurutnya, kegiatan community development bukan hanya menjadi ruang belajar bagi mahasiswa, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menemukan cara baru dalam memaknai identitas lokalnya.

Ia menilai Condet memiliki modal budaya yang sangat kuat. Sejarah, tradisi, kuliner, hingga karakter masyarakatnya merupakan aset yang tidak dimiliki banyak kawasan lain di Jakarta. Tantangannya bukan lagi pada ada atau tidaknya warisan budaya tersebut, melainkan bagaimana seluruh potensi itu dapat dikemas menjadi narasi yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Pandangan itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya hari ini tidak lagi cukup mengandalkan pewarisan antargenerasi secara alami. Di era digital, budaya juga harus mampu hadir dalam ruang-ruang baru yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.

Festival Hanya Pintu Masuk

Di sinilah Sorak Betawi Condet menghadirkan refleksi yang lebih luas tentang masa depan wisata budaya di Jakarta.

Selama ini, banyak kawasan budaya mampu menyelenggarakan festival yang meriah, tetapi kesulitan mempertahankan dampaknya setelah acara selesai. Aktivitas ekonomi kembali melambat, ruang interaksi masyarakat mengecil, dan perhatian publik beralih kepada agenda berikutnya.

Fenomena seperti itu bukan hanya terjadi di Jakarta. Banyak kota di dunia menghadapi tantangan serupa ketika berusaha menjaga identitas lokal di tengah modernisasi. Pengalaman berbagai kota menunjukkan bahwa festival memang penting sebagai pemantik perhatian publik, tetapi keberlanjutan hanya tercipta ketika budaya menjadi bagian dari sistem yang berjalan sepanjang tahun.

Ekosistem itulah yang sesungguhnya sedang diuji di Condet.

Apabila pelatihan digital mampu melahirkan kreator konten yang secara konsisten memperkenalkan budaya Betawi, apabila workshop melahirkan pelaku ekonomi kreatif baru, apabila UMKM memperoleh pasar yang lebih luas, dan apabila anak-anak muda mulai melihat budaya Betawi sebagai bagian dari identitas mereka, maka festival ini telah melampaui fungsi seremonialnya.

Sebaliknya, apabila seluruh aktivitas berhenti ketika panggung dibongkar, Sorak Betawi hanya akan menjadi satu lagi festival yang dikenang karena keramaiannya, bukan karena dampaknya.

Di sinilah peran komunitas menjadi sangat menentukan. Pokdarwis, sekolah, perguruan tinggi, pelaku usaha, pemerintah, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan budaya tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar melalui pertunjukan, tetapi melalui pendidikan, aktivitas ekonomi, ruang publik, dan kebiasaan keluarga.

Membangun Masa Depan dari Identitas Lokal

Jakarta selama ini dikenal sebagai kota yang terus bergerak ke depan. Namun, setiap kota modern membutuhkan akar yang membuat masyarakatnya tetap mengenali siapa dirinya. Tanpa akar tersebut, modernisasi hanya akan menghasilkan ruang-ruang yang seragam dan kehilangan karakter.

Condet menawarkan pelajaran bahwa budaya bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan perkembangan zaman. Justru sebaliknya, budaya dapat menjadi fondasi bagi lahirnya ekonomi kreatif, pariwisata berbasis masyarakat, hingga inovasi digital yang memiliki identitas lokal yang kuat.

Sorak Betawi Condet 2026 menunjukkan bahwa kolaborasi itu mungkin dilakukan. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah memastikan kolaborasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek tahunan, melainkan berkembang menjadi ekosistem yang terus bergerak bahkan ketika festival telah usai.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah festival budaya tidak diukur dari jumlah penonton yang datang atau banyaknya unggahan di media sosial. Ukurannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit dicapai, yakni apakah beberapa bulan setelah panggung dibongkar masih ada anak-anak yang belajar silat Betawi, rumah-rumah Betawi yang tetap dirawat, pelaku UMKM yang terus memperoleh manfaat ekonomi, dan generasi muda yang dengan bangga menjadikan Condet sebagai bagian dari identitas Jakarta.

Di situlah sesungguhnya masa depan budaya sebuah kota sedang diuji. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *