Beritakota.id, Jakarta Pusat – Ada masa ketika Hollywood percaya bahwa setiap legenda harus diabadikan. Pahlawan harus selalu tampil gagah, musuh harus dikalahkan. Penonton pun meninggalkan bioskop dengan keyakinan bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya. Formula itu telah melahirkan begitu banyak kisah heroik. Dari pahlawan koboi di padang pasir hingga manusia berjubah yang beraksi menyelamatkan dunia.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sesuatu berubah. Hollywood tampaknya tidak lagi tertarik membangun mitos. Sebaliknya, ia justru mulai membedah, mempertanyakan, bahkan “membunuh” para pahlawannya sendiri.
The Death of Robin Hood adalah salah satu contoh paling berani dari perubahan tersebut. Film garapan Michael Sarnoski ini bukanlah kisah tentang seorang pemanah legendaris yang kembali menegakkan keadilan. Tidak ada petualangan besar, tidak ada kemenangan spektakuler, bahkan tidak banyak adegan aksi yang selama puluhan tahun melekat pada nama Robin Hood. Yang hadir justru sebuah drama psikologis yang bergerak perlahan, hampir seperti sebuah elegi, tentang manusia yang harus menghadapi bayang-bayang dirinya sendiri. Judulnya sudah menjadi peringatan. Film ini tidak datang untuk merayakan legenda. Ia datang untuk menguburkannya.
Ironisnya, justru dari sanalah kehidupan baru bagi tokoh Robin Hood dimulai. Selama berabad-abad, Robin Hood hidup sebagai simbol. Ia adalah pahlawan rakyat, pencuri berhati mulia yang merampas kekayaan kaum bangsawan demi kaum miskin. Kisah itu begitu sering diceritakan sehingga akhirnya diterima sebagai kebenaran moral. Robin dikenal bukan sebagai manusia, melainkan sebagai mitos yang telah dipoles oleh waktu.
Baca juga : Review Film Phi Phong; Teror dengan Aroma Mistisme Vietnam
Dekonstruksi Mitos Pahlawan Legendaris
Michael Sarnoski memilih jalan yang jauh lebih nakal. Ia mengajukan pertanyaan yang jarang berani disentuh adaptasi lain: bagaimana jika semua legenda hanyalah narasi yang dipilih untuk terus diceritakan?. Pertanyaan itu mengubah seluruh cara kita memandang film ini.
Robin Hood bukan lagi sosok yang sedang melawan Sheriff Nottingham. Musuh terbesarnya bukan manusia lain, melainkan ingatan, penyesalan, dan keputusan-keputusan yang telah membentuk hidupnya. Pertarungan terbesar terjadi bukan di tengah hutan, tetapi di dalam batin seorang lelaki tua yang mulai mempertanyakan makna dari seluruh hidupnya.
Inilah sebabnya film ini terasa lebih dekat dengan karya-karya independen produksi A24 dibandingkan film petualangan khas studio besar. Jika nama Robin Hood dihapus dari naskah dan diganti dengan tokoh lain, esensi film ini nyaris tidak berubah. Karena yang sedang dibahas bukanlah legenda Sherwood Forest, melainkan pengalaman universal tentang usia, rasa bersalah, kehilangan, dan pencarian penebusan.
Barangkali di sinilah sebagian penonton akan merasa kecewa. Bagi mereka yang datang dengan harapan menyaksikan aksi memanah, pengejaran di tengah hutan, atau perlawanan terhadap tirani. Yang mereka dapatkan justru keheningan. Tempo yang lambat. Percakapan-percakapan panjang. Tatapan yang lebih berbicara daripada pedang. Bagi penonton blockbuster, ritme seperti ini mungkin terasa melelahkan, bahkan membosankan. Namun bagi mereka yang menikmati sinema sebagai ruang kontemplasi, justru di situlah kekuatan film ini berada.
Dialog Sebagai Ruang Pembongkaran Jiwa
Yang paling membekas bukanlah adegan aksi, melainkan dialog-dialognya. Percakapan dalam film ini tidak berfungsi untuk menjelaskan alur cerita. Ia lebih menyerupai proses pembongkaran jiwa. Kalimat demi kalimat seperti mengajak penonton memasuki ruang psikologis yang penuh keraguan. Tidak ada jawaban yang dipaksakan. Film ini lebih senang mengajukan pertanyaan daripada memberikan kepastian.
Apa sebenarnya kebenaran?
Apakah manusia dapat berubah hanya karena menyadari kesalahannya?
Apakah penyesalan memiliki nilai jika masa lalu tidak mungkin diubah?
Dan yang paling mengusik: apakah sejarah mengenang orang baik, atau hanya mereka yang berhasil mengendalikan cerita tentang dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang terus bergema bahkan setelah lampu bioskop kembali menyala.
Dalam dunia yang semakin dipenuhi narasi hitam-putih, The Death of Robin Hood memilih wilayah abu-abu. Film ini tidak sedang meminta penonton menyukai Robin Hood. Ia juga tidak meminta kita membencinya. Yang dilakukan adalah mengembalikan Robin menjadi manusia biasa—rapuh, kontradiktif, dan tidak pernah benar-benar selesai dengan dirinya sendiri. Keberanian semacam ini sesungguhnya bukan hanya milik sutradara.
Peran Sentral Hugh Jackman
Hugh Jackman memainkan peran yang sangat penting dalam menghadirkan visi tersebut. Sebagai aktor, Jackman menanggalkan hampir seluruh atribut heroik yang selama ini melekat pada dirinya. Tidak ada kharisma superhero yang mendominasi layar. Tidak ada aura tak terkalahkan. Yang terlihat justru tubuh yang menanggung usia, langkah yang semakin berat, dan wajah yang dipenuhi kelelahan emosional. Ia tidak sedang memainkan seorang pahlawan. Ia sedang memainkan seorang manusia yang kebetulan pernah menjadi legenda.
Pilihan akting itu terasa sangat matang. Jackman memahami bahwa karakter seperti Robin Hood tidak lagi membutuhkan pertunjukan fisik semata. Yang dibutuhkan adalah keberanian memperlihatkan keretakan batin. Dalam banyak adegan, keheningan justru menjadi dialog terpanjangnya.
Yang membuat proyek ini semakin menarik adalah keterlibatan Jackman sebagai executive producer. Di industri film modern, posisi tersebut bukan sekadar tambahan kredit di akhir layar. Ia menunjukkan adanya keterlibatan yang lebih dalam terhadap arah kreatif proyek. Seorang executive producer sering kali menjadi penjaga visi, membantu memastikan bahwa film tetap setia pada gagasan awal, sekaligus memberi keyakinan kepada investor dan distributor bahwa proyek ini layak diwujudkan.
Dari sudut pandang bisnis, keputusan Jackman juga menarik untuk dibaca. Setelah bertahun-tahun menjadi wajah berbagai film berskala raksasa, ia sebenarnya memiliki pilihan yang jauh lebih aman secara komersial. Namun ia justru memilih terlibat dalam sebuah drama yang tidak menawarkan resep box office konvensional. Ini bukan keputusan yang hanya berbicara tentang honorarium atau popularitas. Ini adalah investasi terhadap identitas artistik.
Hollywood saat ini sedang berubah. Semakin banyak aktor besar mengambil posisi produser agar memiliki ruang menentukan cerita yang ingin mereka hadirkan. Mereka tidak lagi sekadar menjual nama, tetapi juga mempertaruhkan reputasi kreatifnya. Dalam konteks itu, The Death of Robin Hood terasa sebagai pernyataan bahwa Hugh Jackman ingin dikenang bukan hanya sebagai bintang besar, tetapi juga sebagai seniman yang berani mengambil risiko.
Dunia Tak Lagi Membutuhkan Pahlawan Sempurna
Pada akhirnya, film ini sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang lebih luas daripada Robin Hood. Ia berbicara tentang zaman. Mengapa kita, sebagai penonton modern, semakin tertarik melihat pahlawan yang gagal? Mengapa tokoh-tokoh yang penuh luka terasa lebih manusiawi dibanding sosok sempurna yang selalu menang? Barangkali karena dunia hari ini tidak lagi mempercayai kesempurnaan.
Kita hidup di era ketika setiap narasi dapat dipertanyakan, setiap sejarah dapat ditafsirkan ulang, dan setiap legenda memiliki sisi gelap yang selama ini disembunyikan. Pahlawan tidak lagi dipandang sebagai figur tanpa cela, melainkan manusia yang bergulat dengan konsekuensi dari pilihan-pilihannya.
Di sinilah The Death of Robin Hood menemukan relevansinya. Film ini bukan sekadar adaptasi baru dari kisah lama. Ia adalah refleksi tentang bagaimana masyarakat modern memandang kepahlawanan. Bahwa mungkin, keberanian terbesar bukanlah mengalahkan musuh di medan perang, melainkan berani menatap diri sendiri tanpa perlindungan mitos.Itulah makna sesungguhnya dari kematian Robin Hood, bukan kematian seorang tokoh. Melainkan kematian sebuah legenda—agar manusia di baliknya akhirnya bisa terlihat.
Inilah alasan mengapa The Death of Robin Hood terasa begitu relevan bagi penonton masa kini. Ia hadir ketika dunia sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap berbagai institusi, narasi, bahkan tokoh-tokoh yang selama puluhan tahun dianggap tak tersentuh. Kita hidup di zaman ketika setiap legenda dapat dipertanyakan, setiap sejarah dapat dibaca ulang, dan setiap pahlawan memiliki sisi manusia yang tak lagi disembunyikan.
Sinema pun bergerak ke arah yang sama. Penonton dewasa tidak lagi sekadar mencari kemenangan spektakuler atau akhir yang membahagiakan. Mereka mencari kejujuran. Mereka ingin melihat karakter yang gagal, ragu, terluka, dan berusaha memahami dirinya sendiri. Tokoh-tokoh semacam itu terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata dibanding sosok heroik yang nyaris tanpa cela.
Tidak Untuk Memuaskan Semua Penonton
Di tengah arus tersebut, The Death of Robin Hood bukanlah film yang berusaha memuaskan semua orang. Justru sebaliknya. Ia menantang ekspektasi, mengabaikan formula blockbuster, dan memilih menjadi sebuah drama yang mengajak penonton merenung jauh setelah kredit penutup selesai bergulir. Keberanian semacam itu memang memiliki harga: ritmenya lambat, dialognya padat makna, dan konfliknya lebih banyak terjadi di dalam jiwa dibanding di medan pertempuran.
Justru di situlah kekuatan film ini. Ia mengingatkan bahwa setiap legenda pada akhirnya akan berhadapan dengan kenyataan. Bahwa setiap pahlawan, sebesar apa pun namanya, tetaplah manusia yang harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan dirinya sendiri.
Oleh sebab itulah, The Death of Robin Hood bukan sekadar kisah tentang kematian seorang tokoh. Ia adalah elegi tentang matinya sebuah mitos, agar kita akhirnya dapat melihat manusia di baliknya. Skor: 9,4/10 (Lukman Hqeem)

