Beritakota.id, Jakarta Timur – Harga emas kembali menunjukkan dominasinya pada perdagangan Jumat (3/7) setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang jauh lebih lemah dari ekspektasi mengubah arah sentimen pasar. Investor mulai mengurangi taruhan terhadap kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga tahun ini, sehingga mendorong aliran dana kembali masuk ke aset lindung nilai.
Reli tersebut sekaligus mengakhiri tren pelemahan emas selama empat pekan terakhir. Setelah melonjak hampir 3% pada penutupan perdagangan Amerika Serikat, penguatan berlanjut sepanjang sesi Asia hingga sempat menyentuh US$4.195,51 per troy ounce, level tertinggi sejak 23 Juni.
Data perdagangan menunjukkan emas dibuka pada US$4.125,81, bergerak dalam rentang US$4.121,47–US$4.195,51 dengan volume transaksi mencapai 193,91 ribu tick. Menjelang pembukaan pasar Eropa, harga masih bertahan di kisaran US$4.165 per troy ounce, memperlihatkan bahwa minat beli masih mendominasi pasar.
Kenaikan ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor. Pelemahan dolar AS, turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga, hingga kembali meningkatnya pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia membentuk kombinasi fundamental yang mendukung penguatan logam mulia.
Baca juga : Wall Street Mixed, Emas Melonjak Usai Data NFP Melemah
Pasar Tenaga Kerja AS Mulai Kehilangan Momentum
Pemicu utama reli emas berasal dari laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Juni yang menunjukkan perlambatan signifikan pasar tenaga kerja Amerika Serikat.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan ekonomi hanya mampu menciptakan 57.000 lapangan kerja baru, jauh di bawah proyeksi pasar yang berkisar 110.000–115.000 pekerjaan. Data bulan Mei juga direvisi turun dari 172.000 menjadi 129.000 pekerjaan, memperkuat indikasi bahwa aktivitas perekrutan mulai melambat.
Di sisi lain, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2%, sementara rata-rata upah per jam meningkat 3,5% secara tahunan, sedikit di atas perkiraan. Meski demikian, pasar lebih memfokuskan perhatian pada perlambatan penciptaan lapangan kerja karena dianggap sebagai sinyal awal bahwa laju pertumbuhan ekonomi mulai mendingin.
Sehari sebelumnya, laporan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta juga menunjukkan hasil yang lebih rendah dari ekspektasi. Kombinasi dua laporan tersebut mengubah persepsi investor terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.
Probabilitas kenaikan suku bunga pada September yang sebelumnya berada di kisaran 66–67% turun menjadi sekitar 50–54% setelah data ketenagakerjaan dirilis. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan akhir Juli bahkan merosot hingga di bawah 30%.
Bagi emas, perubahan ekspektasi tersebut menjadi katalis positif. Ketika prospek suku bunga mulai menurun, biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas ikut berkurang sehingga permintaan cenderung meningkat.
Pelemahan Dolar dan Aksi Bank Sentral Perkuat Tren
Selain faktor suku bunga, pelemahan indeks dolar AS (DXY) sekitar 0,5% turut memberikan dorongan tambahan bagi emas. Dolar yang lebih lemah membuat harga logam mulia menjadi lebih murah bagi investor global yang menggunakan mata uang selain dolar Amerika Serikat.
Pasar juga mulai melihat adanya perubahan lingkungan makroekonomi. Inflasi memang belum sepenuhnya kembali ke target Federal Reserve sebesar 2%, namun berbagai indikator mulai menunjukkan tekanan harga yang lebih terkendali dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat investor menilai ruang bagi bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga semakin terbatas, terutama apabila perlambatan pasar tenaga kerja terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Dukungan lain datang dari sisi permintaan fisik. World Gold Council melaporkan bank-bank sentral dunia kembali aktif menambah cadangan emas pada Mei dengan pembelian bersih mencapai 41 ton. Langkah ini menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai aset strategis untuk menjaga stabilitas cadangan devisa di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga membantu menurunkan harga minyak sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi. Pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz seiring berlangsungnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang ikut menenangkan pasar energi.
Momentum Positif Masih Terjaga, Tetapi Belum Sepenuhnya Aman
Pergerakan emas saat ini lebih banyak didorong oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter dibanding meningkatnya permintaan akibat risiko geopolitik. Dengan kata lain, fokus utama investor kembali bergeser pada kondisi ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan Federal Reserve.
Selama data ekonomi berikutnya terus menunjukkan perlambatan, peluang emas mempertahankan momentum kenaikannya masih terbuka. Pelemahan dolar serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga berpotensi menjadi penopang tambahan bagi harga logam mulia.
Namun demikian, ruang kenaikan emas belum sepenuhnya bebas hambatan. Pasar masih memberikan peluang sekitar 50% terhadap kenaikan suku bunga pada September. Artinya, apabila data inflasi kembali menguat atau aktivitas ekonomi menunjukkan pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan, ekspektasi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.
Perubahan arah kebijakan The Fed berpotensi kembali mengangkat dolar AS dan imbal hasil obligasi, dua faktor yang selama ini menjadi penekan utama harga emas.
Untuk jangka pendek, selama harga mampu bertahan di atas area psikologis US$4.100 per troy ounce, momentum bullish diperkirakan masih cukup solid. Perhatian investor kini akan tertuju pada rangkaian data inflasi Amerika Serikat dalam beberapa pekan mendatang yang diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan emas selanjutnya. (Lukman Hqeem)

