Beritakota.id, Jakarta – Wall Street menutup perdagangan Kamis (2/7/2026) dengan pergerakan yang beragam setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan perlambatan yang jauh lebih besar dari perkiraan pasar. Data tersebut langsung mengubah ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), mendorong reli harga emas, melemahkan dolar AS, sekaligus memicu rotasi dana keluar dari saham-saham teknologi menuju sektor yang lebih defensif.

Indeks Dow Jones Industrial Average menjadi bintang utama dengan melonjak 594,83 poin atau 1,14 persen dan ditutup pada rekor tertinggi baru di level 52.900,07. Sebaliknya, indeks S&P 500 hanya berakhir nyaris tidak berubah di level 7.483,24, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 207,36 poin atau 0,80 persen ke posisi 25.832,67 akibat tekanan besar pada saham-saham semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).

Baca juga : The Fed Berubah Haluan, Wall Street Kehilangan Arah

Di pasar komoditas, emas menjadi aset yang paling diuntungkan dari perubahan sentimen tersebut. Harga emas spot melonjak sekitar 2,94 persen hingga kembali menembus level psikologis US$4.126,86 per troy ounce. Penguatan ini terjadi seiring pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) sekitar 0,5 persen dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas kembali menarik di mata investor.

Sementara itu, harga minyak mentah bergerak lebih stabil. Minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik tipis 0,2 persen ke US$68,69 per barel, sedangkan Brent menguat sekitar 0,3 persen ke level US$71,80 per barel. Penguatan terbatas tersebut didukung oleh harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meskipun pelaku pasar masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi global.

Data Tenaga Kerja Mengubah Ekspektasi Pasar

Fokus utama investor sepanjang perdagangan tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat periode Juni 2026. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan hanya terdapat tambahan 57.000 lapangan pekerjaan baru, jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan pertumbuhan sekitar 110.000 hingga 115.000 pekerjaan.

Tidak hanya itu, data bulan sebelumnya juga direvisi turun dari 172.000 menjadi 129.000 pekerjaan. Revisi tersebut semakin memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja Amerika mulai kehilangan momentum setelah mencatat pertumbuhan yang cukup solid sepanjang beberapa bulan terakhir.

Meski demikian, tingkat pengangguran justru turun tipis menjadi 4,2 persen dari ekspektasi 4,3 persen. Sementara rata-rata upah per jam masih meningkat 3,5 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis sebesar 3,4 persen. Kombinasi data tersebut menunjukkan bahwa perlambatan perekrutan tenaga kerja mulai terlihat, tetapi tekanan kenaikan upah belum sepenuhnya hilang.

Respons pasar berlangsung cepat. Investor langsung memangkas ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed akhir Juli. Probabilitas kenaikan suku bunga turun di bawah 30 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melemah menuju kisaran 4,48 persen.

Pelemahan yield dan dolar menjadi kombinasi yang sangat positif bagi harga emas. Selain itu, komentar Ketua The Fed Kevin Warsh yang menyebut tekanan inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa siklus pengetatan moneter mendekati fase akhir.

Di tengah perubahan ekspektasi tersebut, investor juga mulai melakukan reposisi portofolio dengan mengurangi eksposur pada saham-saham teknologi yang telah mencatat reli panjang sepanjang tahun ini.

Rotasi Sektor Menjadi Tema Utama Wall Street

Fenomena rotasi sektor menjadi cerita terbesar di balik pergerakan indeks saham Amerika Serikat. Ketika saham-saham teknologi mengalami aksi ambil untung, dana justru mengalir ke perusahaan-perusahaan dengan valuasi yang dinilai lebih menarik.

Saham Apple melonjak hampir 4,8 persen dan menjadi salah satu kontributor utama penguatan Dow Jones. Saham Boeing serta McDonald’s juga mencatat kenaikan yang membantu menjaga optimisme investor terhadap sektor industri dan konsumsi.

Sebaliknya, tekanan besar terjadi pada sektor semikonduktor. Nvidia terkoreksi sekitar 1,4 persen, Micron Technology jatuh lebih dari lima persen, sementara Applied Materials mengalami penurunan hingga mendekati 10 persen. Koreksi tersebut mencerminkan aksi ambil untung setelah reli panjang yang didorong oleh euforia perkembangan teknologi AI selama beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, volume perdagangan juga mulai menurun menjelang libur panjang Independence Day pada 4 Juli. Total transaksi tercatat sekitar 19,92 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata harian sekitar 23,34 miliar saham. Kondisi tersebut menunjukkan sebagian investor memilih mengurangi aktivitas transaksi sambil menunggu arah baru pasar setelah periode libur.

Memasuki perdagangan berikutnya, perhatian pelaku pasar diperkirakan masih akan tertuju pada perkembangan ekspektasi kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah. Selama dolar tetap berada dalam tren melemah dan yield tidak kembali meningkat secara signifikan, harga emas berpotensi mempertahankan momentum positifnya.

Namun demikian, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Investor masih akan mencermati setiap data ekonomi baru yang berpotensi mengubah proyeksi suku bunga The Fed. Dengan demikian, fase rotasi sektor yang saat ini berlangsung diperkirakan masih menjadi tema utama pasar global dalam jangka pendek, sementara emas berpeluang tetap menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan dari perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *