Beritakota.id, Jakarta – Memasuki usia lebih dari delapan dekade pasca-Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia dihadapkan pada tantangan fundamental yang belum terselesaikan: membebaskan diri sepenuhnya dari belenggu “kolonialisme mental.”

Ketua Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, mengingatkan bahwa meskipun kemerdekaan politik telah diraih, kemerdekaan batiniah masih jauh dari ideal. Warisan penjajahan yang merusak kepercayaan diri, kemandirian, dan akar sejarah bangsa, menurutnya, masih bercokol kuat dalam pola pikir dan tindakan sebagian elite maupun masyarakat.

Pontjo Sutowo menjelaskan bahwa kolonialisme mental ini memanifestasikan diri dalam berbagai bentuk, seperti mentalitas peniru yang tunduk pada selera global, mentalitas pecundang yang menormalisasi ketidakadilan, serta sistem pendidikan yang lebih menekankan hafalan daripada nalar.

Baca juga: Dian Ediono : Aliansi Strategis Lebih Realistis Dibanding Merger Maskapai

Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa keberanian bertanya dan mengambil keputusan, sementara kebijakan pasca-kemerdekaan seringkali justru memperkuat sentralisasi kekuasaan dan ketergantungan pada birokrasi, menjadikan rakyat sebagai objek bukan subjek pembangunan.

Aliansi Kebangsaan memandang bahwa Indonesia masih dalam proses menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka. Mengingat peringatan Bung Karno tentang pentingnya “investasi mental,” Aliansi Kebangsaan mendorong agenda pembangunan manusia merdeka sebagai proyek peradaban. Ini mencakup pembebasan pikiran, tata kelola yang memberdayakan warga negara, dan kesejahteraan yang menjamin kemandirian ekonomi, spiritual, dan sosial.

“Negara Indonesia telah merdeka, tetapi bangsa Indonesia belum sepenuhnya merdeka,” tegas Pontjo Sutowo, menekankan bahwa kemerdekaan sejati hanya terwujud ketika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.