Beritakota.id, Jakarta – Hujan deras yang mengguyur Jakarta Selatan pada Senin sore kembali menyulut banjir di kawasan Pasar Minggu. Di Jalan Raya Lenteng Agung, genangan air setinggi lutut orang dewasa memaksa warga dan pengendara berjibaku dengan situasi darurat, mengulang kembali tragedi yang seolah menjadi “ritual musiman” bagi warga setempat.
Banjir yang melanda kawasan ini kembali membuktikan buruknya pengelolaan drainase. Warga mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kondisi yang tak kunjung membaik. Mereka menuding pemerintah daerah (Pemda) seolah membiarkan persoalan klasik ini tanpa tindakan konkret.
“Setiap hujan deras pasti banjir. Salurannya mampet, sudah lama kami keluhkan. Tapi sampai sekarang belum ada tindakan yang jelas,” ujar seorang warga, dengan nada kesal.
Lalu lintas di Jalan Raya Lenteng Agung lumpuh total. Pengendara motor terpaksa memutar arah untuk menghindari risiko kendaraan mogok. Beberapa pengemudi mobil bahkan terjebak dalam genangan air yang berubah menjadi arus lambat.
Drainase ‘Mati Suri’: Akar Masalah yang Tak Terselesaikan
Warga menilai akar masalah utama adalah drainase yang tidak berfungsi optimal. Saluran air di kawasan ini dipenuhi sampah, endapan, dan minim perawatan. Akibatnya, air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar dan meluap ke jalanan.
“Alih-alih mengalirkan air, saluran drainase di kawasan ini seperti kubangan mati,” keluh seorang warga.
Kekecewaan Warga: Janji Kosong dan Kurangnya Tindakan Nyata
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi atau langkah konkret dari Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk mengatasi persoalan banjir di Pasar Minggu. Hal ini semakin menambah kekecewaan warga yang merasa pemerintah hanya memberikan janji tanpa realisasi.
Warga mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata, mulai dari normalisasi saluran drainase, peningkatan perawatan rutin, hingga mencari solusi jangka panjang. Mereka menekankan bahwa jika masalah ini terus dibiarkan, banjir bukan lagi dianggap sebagai bencana alam, melainkan akibat dari pembiaran.
“Kalau dibiarkan begini terus, banjir bukan lagi musibah alam. Ini sudah jelas-jelas akibat pembiaran,” tegas warga lainnya.


