Beritakota.id, Brebes – Di hadapan para wartawan dan aktivis yang memenuhi ruang pertemuan Grand Dian Hotel Guci Tegal H. Muhadi Setiabudi CEO PT. Dedi Jaya Lambang Perkasa berbicara tanpa nada menggurui. Tidak ada grafik pertumbuhan atau paparan pencapaian. Yang ia ceritakan justru masa ketika hidupnya dihabiskan dengan nyangkul di tambak pekerjaan yang lebih sering meninggalkan lumpur di kaki daripada sisa uang di kantong.

Tahun 1979, Muhadi berpindah haluan menjadi kondektur bus antarkota antarprovinsi. Hari-harinya dilalui di jalan, berkejaran dengan waktu, penumpang, dan setoran. Dari sana ia belajar satu hal penting usaha selalu bergerak, tak menunggu orang yang ragu.

Keputusan terbesar dalam hidupnya datang setelah ia berhenti dari pekerjaan itu. Dengan modal Rp 75 ribu, Muhadi membuka usaha dagang bambu. Jumlah yang, bahkan pada masa itu, nyaris tak layak disebut modal. Ia mengangkut, menawar, dan menjual sendiri bambu dagangannya. Tak ada rencana besar. Yang ada hanya keinginan bertahan hidup.

Kisah itu ia sampaikan saat ramah tamah bersama wartawan dan aktivis LSM se-Kabupaten Brebes, Sabtu Malam, (24/1/ 2026). Sesekali ia tersenyum kecil, seolah mengingat betapa tipis jarak antara gagal dan bertahan pada masa-masa awal itu.

Perlahan, usaha bambu tersebut berkembang. Muhadi membaca peluang, memperluas jaringan, dan menambah lini bisnis. Dalam waktu relatif singkat, lonjakan terjadi. Pada 1992, di usia 30 tahun, ia tercatat sebagai orang terkaya di Kabupaten Brebes.

Presiden Soeharto menganugerahinya penghargaan Pemuda Pelopor. Pengakuan berlanjut. Tahun 1994, Muhadi menerima penghargaan Upakarti dari Presiden Republik Indonesia.

Ia juga mendapat apresiasi dari Institute of Management Studies dari salah satu universitas di Amerika Serikat. Namun, ia menyebut penghargaan itu sekadar penanda, bukan tujuan.

Empat setengah dekade berlalu sejak langkah pertamanya di dunia usaha. Kini, H. Muhadi Setiabudi mengelola sekitar 80 badan usaha yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sebanyak 5.400 karyawan bekerja di berbagai sektor diantaranya rumah sakit, universitas, perusahaan otobus, pusat perbelanjaan, properti, hingga usaha lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *