Beritakota.id, Jakarta – Bisnis kuliner lokal kembali menunjukkan daya tahan dan potensi besar. Sabana Group yang dikenal sebagai jaringan usaha ayam goreng kemitraan, kini bersiap naik kelas dengan membidik langkah menuju penawaran saham perdana atau IPO.
Founder dan Owner Sabana Group, Syamsalis, mengungkapkan bahwa saat ini jumlah mitra aktif Sabana mencapai sekitar 2.000 outlet yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Kalau dihitung sejak awal, mitra Sabana sebenarnya sudah lebih dari 5.000. Namun, yang aktif saat ini sekitar 2.000 outlet,” ujarnya kepada redaksi Beritakota.id, saat ditemui di kantor pusatnya di Bekasi, Rabu, (29/4/2026). Ekspansi Sabana juga terus meluas, tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi sudah menjangkau Makassar, Riau, hingga Kepulauan Riau. Bahkan, perusahaan menargetkan penetrasi ke Medan sebelum 2027.
Syamsalis menegaskan, model kemitraan menjadi kekuatan utama Sabana. Menariknya, sebagian mitra bahkan berkembang dan menciptakan merek baru mereka sendiri. Namun, hal itu tidak dianggap sebagai ancaman.
Baca Juga: Dua Dekade Sabana, Ganti Logo hingga Siap Gelar Fun Run 5K di Berbagai Kota
“Bagi kami itu bukan hambatan. Sabana tetap berkembang, walaupun dalam bentuk lain. Ini bukti bahwa usaha ini hidup dan tumbuh bersama masyarakat,” jelasnya.
Fenomena ini mencerminkan kuatnya ekosistem bisnis berbasis UMKM di sektor kuliner, khususnya ayam goreng yang memiliki permintaan tinggi di berbagai daerah.
Bidik IPO, Fokus Perbaikan Manajemen
Meski telah berkembang pesat, Sabana belum terburu-buru melantai di bursa. Saat ini, fokus utama perusahaan adalah memperkuat sistem manajemen agar memenuhi standar perusahaan terbuka.
“Karena kami berangkat dari UMKM dan perusahaan keluarga, tentu belum semua sistem sesuai standar. Sekarang kami sedang membenahi itu,” kata Syamsalis.
Ia menargetkan dalam satu hingga dua tahun ke depan, sistem manajemen Sabana sudah siap untuk membuka peluang IPO atau alternatif lain seperti berbagi kepemilikan saham kepada masyarakat, termasuk lembaga sosial dan komunitas.
Dari sisi bisnis, Sabana disebut memiliki potensi ekonomi yang besar. Berdasarkan riset internal, total perputaran usaha jaringan Sabana secara nasional diperkirakan bisa mencapai Rp2 triliun per tahun.
Meski demikian, angka tersebut belum sepenuhnya tercermin secara terpusat karena model bisnis kemitraan yang memberikan fleksibilitas tinggi kepada para mitra.
“Ini memang salah satu tantangan di bisnis kemitraan. Tapi kami tetap optimistis, karena pada akhirnya nilai ekonomi ini kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Ekonomi Rakyat Jadi Kekuatan Utama
Keberhasilan Sabana tidak lepas dari peran masyarakat sebagai mitra utama. Syamsalis menyebut, pertumbuhan brand ini sepenuhnya didorong oleh partisipasi pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Model bisnis ini dinilai tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi di tingkat akar rumput.
“Sabana ini dibesarkan oleh masyarakat. Itu yang membuat kami tetap optimistis ke depan,” tutupnya.

