Iptek  

Gerakan Indonesia Membaca, Perpusnas Salurkan Bahan Bacaan Bermutu ke 713 Perpustakaan di Jabar

Gerakan Indonesia Membaca, Perpusnas Salurkan Bahan Bacaan Bermutu ke 713 Perpustakaan di Jabar
Gerakan Indonesia Membaca, Perpusnas Salurkan Bahan Bacaan Bermutu ke 713 Perpustakaan di Jabar

Beritakota.id, Jakarta – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memberikan bantuan bahan bacaan bermutu untuk Provinsi Jawa Barat (Jabar) 2024.

Penyerahan bantuan buku dilakukan secara simbolis oleh pelaksana tugas (Plt.) Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz kepada penjabat (Pj.) Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin dalam rangkaian kegiatan gelar wicara Gerakan Indonesia Membaca (GIM) di Provinsi Jabar yang digelar di Bandung, Jabar, pada Selasa (25/6/2024).

Bantuan bahan bacaan bermutu ini akan disalurkan di 713 perpustakaan di Jabar yang terdiri dari 237 perpustakaan desa/kelurahan dan 476 taman bacaan masyarakat (TBM). Setiap perpustakaan/TBM akan mendapatkan seribu buku.

Plt. Kepala Perpusnas menyatakan bantuan bahan bacaan bermutu merupakan kegiatan dari salah satu program utama Perpusnas tahun 2024 yakni pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi. Bantuan ini menyasar siswa pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD).

Baca Juga: Pj Walikota Ambon Resmikan Gedung Layanan Perpustakaan Kota Ambon

“Ini dikerjakan bukan tanpa dasar. Karena selama ini Indonesia sering diklaim mengalami kondisi darurat literasi. Sampai Komisi X DPR RI membuat panja literasi yang sampai pada kesimpulan bahwa Indonesia menghadapi kondisi darurat literasi. Penyebabnya apa? Karena rendahnya budaya baca,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini.

Menurutnya, minat baca dan budaya baca merupakan dua hal berbeda. Berdasarkan survei yang dilakukannya pada 2020 terutama kepada anak-anak, saat baru menjabat sebagai Kepala Badan Bahasa, disimpulkan bahwa anak memiliki minat baca yang tinggi. Namun, jelasnya, persoalan yang muncul yakni ketiadaan buku bacaan yang sesuai minat baca mereka. Hal sama terjadi untuk orang dewasa.

“Jadi minat baca dan budaya baca adalah hal yang berbeda. Akibat ketiadaan buku-buku bacaan tadi, maka muncul budaya baca yang rendah,” tambahnya.

Dia menegaskan, kegemaran membaca harus dibangun sejak usia dini. Karena itu, jenjang usia ini harus diterpa dengan kebiasaan membaca yang benar. Melalui program pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi, Perpusnas menciptakan 10 ribu ruang baca di perpustakaan dan TBM di mana masing-masing mendapatkan seribu buku, dengan sasaran usia PAUD dan SD.

“Pada saat membuat program ini, kami bukan sekadar memberikan buku. Tapi kami memberikan pendampingan kepada pengelola, cara membuat program, cara memanfaatkan buku. Kami akan selenggarakan secara masif dalam program GIM,” jelasnya.

Dijelaskan bahwa GIM memiliki beragam program kegiatan yakni sepekan satu buku dan lomba resensi, membaca nyaring, kontes kepenulisan daerah berbasis konten lokal, duta baca berdaya dengan buku, lomba bertutur, serta sosialisasi kegemaran membaca.

“GIM sebagai salah satu cara untuk membuat masyarakat literat. Ini akan menjadi modal pembangunan nasional,” tuturnya.

Ke depannya, program yang menyalurkan bantuan buku cetak tetap akan dilakukan. “Maka baik itu di Perpusnas dan Kemendikbudristek, tidak pernah menghentikan program pencetakan buku karena buku cetak memegang peran lebih penting ketimbang membaca di gawai,” jelasnya.

Berdasarkan literatur, membaca buku cetak atau kertas menghasilkan pemahaman bacaan yang lebih baik dibandingkan dengan membaca digital serta membaca buku cetak lebih efisien ketimbang membaca layar.

Selain itu, mengacu riset PISA pada 2022, siswa yang lebih sering membaca buku dalam bentuk kertas daripada format digital memiliki kinerja yang lebih baik dalam membaca dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca untuk kesenangan.

Sementara itu, penjabat (Pj.) Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin menjelaskan Pemerintah Provinsi Jabar sangat mendukung program GIM. Dia menegaskan, orang yang membaca tidak akan merugi karena pengetahuannya luas. Saat ini, menurutnya, Jabar mengalami kondisi darurat literasi menilik dari isu sosial masyarakat.

“Kami rasakan betul, sederhananya masalah pinjol atau pinjaman online. Sudah sering diulas kalau pinjol hanya kerugian, keuntungan instan hanya di awal saja. Dan kami memiliki masalah pinjol, Jawa Barat provinsi dengan pengguna pinjol tertinggi yakni 16,5 triliun rupiah. Kami yakin kalau literasi tinggi, pinjol ini bisa dihilangkan,” urainya.

Terkait bantuan bahan bacaan bermutu, dia mengapresiasi Perpusnas. “Ini adalah bentuk dukungan pemerintah pusat untuk pembangunan literasi dan tingkat kegemaran membaca masyarakat di Jawa Barat,” tuturnya.

“Atas nama masyarakat Jawa Barat saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atas program pemberian bantuan 1.000 judul buku dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia,” tukasnya.

Sekretaris Daerah Provinsi Jabar Herman Suryatman menuturkan literasi menjadi fondasi penting dalam membangun provinsinya. “Agar kemiskinan turun, stunting turun, pengangguran turun, adalah dengan meningkatkan literasi masyarakat. Saya yakin kalau masyarakat literat maka kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia menyatakan pemprov bersama dengan kepala dinas perpustakaan kabupaten/kota yang ada di Jabar, bersepakat untuk mewujudkan Jabar sebagai provinsi literasi dan kabupaten/kota di Jabar sebagai kabupaten/kota literasi. Dia meyakini indikator makro pembangunan provinsi seperti indeks kemiskinan, pengangguran, stunting, dan indeks gini, dapat diatasi apabila literasi masyarakat tinggi.

“Memang kelemahan kita literasi. Contoh stunting. Masalahnya di literasi. Tahu ‘ga bagaimana caranya mencegah stunting? Ibu hamil mengonsumsi tablet penambah darah. Padahal di puskesmas sudah ada stok penambah darah. Jadi ini ironi, jadi solusinya bagaimana? Inilah literasi, ibu hamil pastikan mengonsumsi tablet penambah darah,” urainya.

Gerakan Indonesia Membaca adalah gerakan nasional untuk mendorong partisipasi berbagai elemen masyarakat untuk berperan dalam meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat melalui literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, literasi numerik, sains, literasi finansial, literasi digital, literasi budaya dan kewargaan.

Kemampuan literasi dapat dicapai dengan aktivitas membaca sehingga penyediaan bahan bacaan bermutu yang memadai. Kegiatan GIM diharapkan dapat memfasilitasi berbagai segmen masyarakat untuk berkontribusi dalam GIM untuk menguatkan budaya baca dan meningkatkan kecakapan literasi masyarakat Indonesia.

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *