Beritakita.id, Tanah Tinggi — Di tengah persaingan usaha dan tantangan ekonomi, semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh seorang pengusaha telur bebek bernama Edo. Pria berusia sekitar 50 tahun ini telah menekuni usaha telur sejak usia muda, berawal dari kegemarannya memelihara hewan hingga akhirnya menjadi sumber penghidupan utama.

Edo mengungkapkan, sejak kecil dirinya sudah akrab dengan dunia peternakan, khususnya telur bebek. Meski sempat tidak sepenuhnya didorong oleh orang tua, ketertarikannya terhadap usaha ini terus tumbuh hingga akhirnya ia mantap menjalankannya secara serius. “Dari kecil memang sudah senang pelihara, jadi akhirnya lanjut sampai sekarang,” ujar Edo saat ditemui di lokasi usahanya oleh tim Beritakota.id, Minggu, (5/4/2026).

Dalam menjalankan usahanya, Edo dibantu oleh satu orang anggota keluarga. Meski terbilang sederhana, produksi yang dihasilkan cukup besar. Ia mampu merebus hingga sekitar 1.000 butir telur per hari, tergantung permintaan pasar.

Permintaan telur bebek olahan miliknya pun tergolong stabil. Dalam satu hari, total pesanan dari berbagai pelanggan bisa mencapai 500 butir atau lebih. Para pembelinya tidak hanya konsumen langsung, tetapi juga pedagang yang kembali menjual telur tersebut.

Di ruang sederhana, Edo menyortir ribuan telur bebek setelah masuk proses perebusan. Dalam sehari, ia mampu mengolah hingga 1.000 butir telur untuk memenuhi permintaan pelanggannya di daerah Tanah Tinggi Tangerang. Foto : Beritakota.id/Adang Sumarna
Di ruang sederhana, Edo menyortir ribuan telur bebek setelah masuk proses perebusan. Dalam sehari, ia mampu mengolah hingga 1.000 butir telur untuk memenuhi permintaan pelanggannya di daerah Tanah Tinggi Tangerang. Foto : Beritakota.id/Adang Sumarna

Namun, perjalanan usaha Edo tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar datang dari faktor cuaca. Menurutnya, musim hujan sangat memengaruhi produktivitas bebek.

“Kalau cuaca dingin atau musim hujan, produksi telur biasanya menurun. Sama seperti manusia, kondisi bebek juga bisa drop,” jelasnya.

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar seperti gas juga menjadi perhatian. Pasalnya, proses produksi telur rebus membutuhkan konsumsi gas yang cukup besar setiap harinya.

“Harapannya ke depan harga gas bisa turun, supaya keuntungan lebih terasa,” tambah Edo.

Telur bebek yang telah dibalut adonan garam dan tanah liat disusun rapi dalam wadah untuk proses pengasinan. Tahapan ini menentukan cita rasa khas telur asin yang dihasilkan Edo di kiosnya yang terletak di daerah Tanah Tinggi Tangerang. Foto : Beritakota.id/Adang Sumarna
Telur bebek yang telah dibalut adonan garam dan tanah liat disusun rapi dalam wadah untuk proses pengasinan. Tahapan ini menentukan cita rasa khas telur asin yang dihasilkan Edo di kiosnya yang terletak di daerah Tanah Tinggi Tangerang. Foto : Beritakota.id/Adang Sumarna

Untuk pasokan bahan baku, Edo mendapatkan telur dari peternak dengan jumlah yang cukup konsisten, yakni sekitar 1.000 butir per hari. Ia pun harus pandai mengatur stok agar tetap bisa memenuhi permintaan tanpa mengalami kerugian.

Dalam hal operasional, Edo membuka usahanya hingga malam hari, bahkan terkadang sampai sekitar pukul 20.00 WIB, tergantung kondisi dan kebutuhan produksi.

Meski terlihat sederhana, usaha telur bebek yang dijalankan Edo menyimpan kerja keras dan konsistensi tinggi. Ia berharap ke depan usahanya bisa terus berkembang dan memberikan manfaat lebih, baik bagi dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.

“Yang penting terus semangat dan jangan sampai kehabisan stok, karena itu bisa jadi kerugian,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *