Beritakota.id, Jakarta – Di tengah derasnya arus film thriller modern yang semakin bergantung pada ledakan visual dan twist berlebihan, Fuze (2026) hadir dengan pendekatan yang terasa lebih klasik namun tetap modern. Disutradarai David Mackenzie, sineas di balik Hell or High Water dan Starred Up, film ini membawa penonton masuk ke dalam sebuah London yang lumpuh oleh ancaman bom peninggalan Perang Dunia II, sekaligus menjadi panggung bagi sebuah perampokan besar yang dirancang nyaris tanpa cela.
Premisnya sederhana tetapi sangat efektif. Ketika sebuah bom aktif ditemukan di pusat kota London, aparat keamanan segera melakukan evakuasi massal. Jalan-jalan utama ditutup, kepanikan menyebar, dan kota berubah menjadi ruang chaos yang dipenuhi sirene serta ketidakpastian. Namun di balik situasi darurat itu, sekelompok kriminal justru melihat peluang emas. Kekacauan publik dijadikan kedok sempurna untuk menjalankan aksi perampokan yang telah direncanakan dengan presisi dingin.
Baca juga : Review Film Mother Mary; Harga Dari Sebuah Popularitas
Kekuatan terbesar Fuze terletak pada cara film ini memainkan dua ketegangan sekaligus. Di satu sisi ada ancaman bom yang terus menghitung mundur, sementara di sisi lain terdapat operasi heist yang bergerak diam-diam di tengah kepanikan kota. David Mackenzie menggabungkan keduanya dengan ritme yang sangat terkontrol. Cross-cutting antara tim penjinak bom dan para pelaku kriminal terasa intens, membuat penonton nyaris tidak memiliki ruang untuk bernapas.
Aaron Taylor-Johnson tampil solid sebagai spesialis penjinak bom militer yang berusaha menjaga situasi tetap terkendali di tengah tekanan politik dan kepanikan publik. Sementara Theo James menghadirkan performa yang tenang namun manipulatif sebagai otak di balik perampokan tersebut. Dinamika keduanya menjadi pusat gravitasi film, bahkan ketika mereka lebih sering “berdialog” lewat strategi dan keputusan dibanding konfrontasi langsung.
Secara visual, Fuze menangkap atmosfer London dengan nuansa gritty yang khas thriller Inggris. Kota tidak digambarkan sebagai postcard glamor, melainkan sebagai ruang urban yang padat, dingin, dan penuh tekanan. Kamera bergerak agresif namun tetap presisi, sementara editing film bekerja sangat efektif dalam menjaga rasa urgensi. Ada nuansa Heat, sedikit aroma Inside Man, dan ketegangan teknis ala The Hurt Locker yang terasa jelas sepanjang film.
Paruh pertama film berjalan nyaris sempurna. Ketegangannya rapat, misterinya terjaga, dan setiap adegan terasa memiliki konsekuensi. Namun memasuki babak akhir, Fuze mulai kehilangan sebagian fokusnya. Film ini tampak terlalu berambisi menumpuk twist demi twist, hingga beberapa momen emosional yang seharusnya kuat justru terasa kurang membekas. Beberapa karakter pendukung juga tidak mendapat ruang eksplorasi yang cukup, membuat konflik personal mereka terasa setengah matang.
Meski begitu, Fuze tetap berhasil menjadi thriller yang sangat menghibur. Film ini tidak mencoba menjadi tontonan intelektual berat, tetapi juga tidak jatuh menjadi aksi kosong tanpa arah. Ada rasa old-school thriller yang berpadu dengan energi sinema modern, menjadikannya pengalaman menonton yang padat, cepat, dan memancing adrenalin.
Di tengah dominasi franchise besar dan film aksi generik, Fuze menawarkan sesuatu yang lebih rapat secara atmosfer dan lebih serius dalam membangun ketegangan. Ini adalah jenis film yang mungkin tidak akan dikenang sebagai mahakarya thriller dekade ini, tetapi sangat berhasil membuat penonton terus duduk tegang hingga lampu bioskop menyala kembali. (Lukman Hqeem)

