Beritakota.id, Jakarta – Film Mother Mary adalah salah satu rilisan paling “aneh tapi menarik” di tahun 2026. Ini bukan film pop biasa, tapi lebih ke psikodrama tentang identitas, seni, dan harga dari ketenaran itu sendiri. Berkisah tentang seorang superstar pop global bernama Mary yang diperankan Anne Hathaway, kini mengalami krisis pribadi dan artistik.

Dikisahkan bahwa dia sempat “hilang” dari dunia musik karena tekanan mental. Saat ingin kembali lagi lewat konser dan tur baru, ia merasa identitasnya kosong. Akhirnya dia kembali ke sosok penting di masa lalunya yakni Sam Anselm (diperankan oleh Michaela Coel). Ia seorang fashion designer yang dulu membantu “menciptakan” persona Mother Mary.

Baca juga : Review Film Panda Plan: The Magical Tribe, Aksi Kocak Jackie Chan dengan Pandanya

Masalahnya? hubungan mereka telah retak, penuh luka lama, dan sangat emosional. Pertemuan kembali di sebuah lokasi terpencil berubah menjadi ajang konfrontasi psikologis. Muncul konflik kekuasaan atas siapa yang “menciptakan” siapa, bahkan dibumbui dengan nuansa mistis/supernatural.

Sesungguhnya, apa yang menjadi tema besar dalam filmnya ini sehingga menjadi terkesan “berat”. Bahwasanya, film ini bukan fokus ke plot lurus, tapi ke masalah ide tentang Identitas vs Persona publik. Mary sudah jadi “ikon”, tapi kehilangan jati dirinya sendiri. Belum lagi soal relasi kreator & karya. Sam sebagai “pencipta” image Mary seolah-olah ingin menunjukkan siapa yang sebenarnya berkuasa. Belum lagi tentang ide bahwa harga ketenaran adalah sesuatu yang mengikis manusia.

Film ini bukan film mainstream yang gampang dicerna bagi penonton umumnya. Bergenre psychological drama dengan bumbu thriller dan unsur musical yang kental. Visualisasinya juga sangat dreamy bahkan agak surrealis. Banyak sekali simbol dan metafora sehingga menambah unsur “aneh”, seperti ritual, ruang yang terasa tidak nyata dan batas realitas vs imajinasi yang kabur. Tak heran bilan sebagian pihak yang bilang bahwa film ini lebih mudah “dirasakan” daripada “dipahami”.

Menariknya, elemen music dalam film ini sangat kuat. Sejumlah lagu pengiring dibuat oleh nama besar seperti Charli XCX, Jack Antonoff, dan FKA Twigs. Bahkan Anne Hathaway sendiri nyanyi di beberapa lagu dalam film ini. Jadi vibe-nya kayak campuran menonton konser pop bonus film arthouse dengan drama psikologis.

Bukan Untuk Penonton Mendang-mending

Film ini menjadi pembahasan menarik karena dia mampu membuat penonton terpolarisasi banget. Bagi sebagian kritikus film, mereka banyak yang suka karena film ini memang unik dan sangat artistic. Namun bagi para penonton umum, mereka akan terpecah karena ada yang “mind-blowing” dan ada pula yang suka film ini karena “terlalu abstrak”.

Dapat dikatakan bahwa ini tipe film yang memang bukan buat semua orang, tapi kalau kena bisa nempel lama di kepala. “Mother Mary” memang bukan sekadar film tentang penyanyi pop. Ini lebih ke studi psikologis tentang manusia yang kehilangan dirinya di balik kesuksesan. Setelah selesai nonton, kita langsung mikir tentang apakah ini kisah nyata atau metafora semua?.

Bila melihat apa yang sebenarnya terjadi di bagian akhir, Mary dan Sam sudah mencapai titik konfrontasi paling dalam. Mary makin “kehilangan bentuk” secara mental dan identitas sementara Sam tidak lagi sekadar desainer, tapi seperti penjaga kunci identitas bagi Mary.

Ada momen ritual yang terasa hampir supernatural. Mary seperti “memanggil” versi dirinya yang lama dimana ruangan terasa tidak real penuh dengan ambigu dengan halusinasi atau simbolik tertentu. Ini bukan ritual literal namun lebih ke proses membongkar persona. Intinya bahwa Mary mencoba menghidupkan kembali dirinya yang asli.
“Siapa Menciptakan Siapa?”

Ini titik paling penting. Dialog dan tensi dalam film ini mengarah ke satu ide, Apakah Mary menciptakan image-nya sendiri atau Sam yang sebenarnya “membuat” Mother Mary?. Di sini terlihat bahwa Mary merupakan ikon global sementara Sam adalah arsitek identitas. Hubungan mereka berubah dari personal menjadi eksistensial.

Ending-nya sendiri memang tidak tervisualisasikan secara eksplisit. Interpretasi umum melihat bahwa sosok Mary ini tidak benar-benar mati, tapi persona “Mother Mary” lah yang dibongkar atau dihancurkan. Beberapa visual memang mengarah ke “hilang”-nya Mary dari dunia nyata atau melebur dengan ruang sebagai simbol kehilangan ego. Seakan meninggalkan pesan bahwa yang mati bukan orangnya, tapi versi dirinya yang palsu. Hingga bagian akhir film ini, diperlihatkan dunia luar tetap berjalan namun kita tidak benar-benar tahu apakah Mary akan kembali sebagai diri baru atau benar-benar “lenyap”. Akhir film ini seperti sengaja dibiarkan menggantung.

Bagian juicy-nya memang “Mother Mary” merupakan persona, bukan manusia. Pemilihan nama “Mother Mary” sendiri bukan kebetulan, melainkan referensi ke figur suci yang disembah, dipuja tapi tidak manusiawi. Lewat film ini, hal yang ingin diungkapkan adalah selebriti ini merupakan figur religius modern yang dipuja publik tapi sisi kemanusiaannya telah hilang.

Sementara itu, sosok Sam adalah “Sang Pencipta”. Ia bukan sekadar desainer, namun lebih dekat pada pembentuk image, penulis narasi Mary bahkan menyebutnya sebagai “pengendali identitas”. Dalam konteks ini, ibaratnya Sam adalah Tuhan dan sosok Mary merupakan ciptaan. Ini membuat konflik diantara mereka terasa seperti manusia melawan penciptanya.

Dekonstruksi Ego

Pada salah satu scene, terdapat adegan ritual namun itu bukan mistis secara literal. Itu adalah proses “kematian ego”. Dalam psikologi dikenal pandangan bahwa seseorang harus “menghancurkan” identitas lamanya untuk lahir sebagai diri baru. Jadi akhir film ini memang soal kelahiran kembali, bukan kehancuran.

Film ini cukup kejam dalam satu hal bahwa ketenaran akan mengeksploitasi identitas. Sosok Mary dibentuk, dijual dan dikonsumsi publik sampai akhirnyadia tidak punya “diri asli. Film ini bahkan tidak peduli “apa yang terjadi”, yang menyoroti tentang perubahan di dalam diri Mary.

Akhir yang ambigu terasa di sengaja supaya penonton ikut “merasakan kehilangan identitas bukan lagi sekadar memahami cerita. Kematian bagi sebuah brand sekaligus adanya kemungkinan lahirnya manusia di baliknya. Bahkan dalam pandangan yang lebih brutal, Untuk jadi diri sendiri, Mary harus membunuh “Mother Mary”.

Disisi lain, ambiguitas ini dapat membalik seluruh asumsi sejak awal film ini diputar. Berpijak pada keyakinan bahwa bagaimana jika Mary tidak pernah benar-benar “kembali”. Ini karena ia sudah selesai jauh sebelum cerita ini dimulai.

Seluruh perjalanan di film ini lalu terasa bukan sebagai comeback, melainkan sebuah ruang antara yakni sebuah limbo psikologis tempat identitas yang sudah mati mencoba memahami dirinya sendiri. Setiap pertemuan dengan Sam bukan lagi dialog antar dua manusia, tapi semacam autopsi jiwa untuk membedah sisa-sisa persona yang pernah hidup, pernah dipuja, lalu perlahan membusuk di balik sorotan.

Dalam perspektif ini, “Mother Mary” bukan tentang kehancuran di akhir, tapi tentang sebuah kesadaran yang datang terlambat. Bahwa yang kita lihat sepanjang film adalah gema—bukan eksistensi. Bahwa Mary yang kita ikuti hanyalah bayangan dari seseorang yang sudah lama hilang, terperangkap dalam narasi yang dulu ia sendiri tidak pernah benar-benar kuasai.

Dan ketika film berakhir tanpa kepastian, mungkin itu bukan karena ceritanya belum selesai. Melainkan karena tidak ada lagi yang tersisa untuk diselesaikan. Yang mati bukan di akhir, Ia sudah mati sejak awal. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *