Beritakota.id, Brebes – Di balik bau antiseptik dan langkah kaki yang bergema di lorong rumah sakit, rasa cemas kerap menjadi teman pertama pasien. Menunggu hasil diagnosis, menghadapi antrean panjang, atau sekadar khawatir akan perlakuan petugas sering kali terasa lebih melelahkan daripada penyakit itu sendiri.
Kesan semacam itu pula yang sempat dibawa seorang pasien asal Tanjung ketika datang ke RSUD Brebes. Ekspektasinya rendah. Rumah sakit daerah, pikirnya, identik dengan pelayanan kaku dan serba terburu-buru. Namun, anggapan itu runtuh sejak proses pendaftaran.
“Dari awal sampai ke poli, petugasnya sabar menjelaskan. Semua tersenyum,” katanya. “Saya benar-benar tidak menyangka,” imbuhnya.
Perubahan suasana itu bukan muncul tiba-tiba. Pemerintah Kabupaten Brebes sebelumnya menerima sejumlah keluhan masyarakat terkait layanan kesehatan. Evaluasi pun dilakukan. Arahan tegas disampaikan agar pelayanan diberikan secara maksimal, tanpa membedakan pasien umum maupun peserta BPJS.
Baca juga: 130 Anak Ikut Sunat Massal Gratis di RSUD Ir. Soekarno Ketanggungan, Peserta Dapat Undian Sepeda
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma menekankan pentingnya sikap ramah dan empatik sebagai bagian dari pelayanan publik. Arahan tersebut kemudian menjadi pijakan pembenahan di internal rumah sakit.
Manajemen RSUD Brebes lantas mengubah pendekatan. Pelayanan tidak lagi semata soal kecepatan tindakan medis, tetapi juga tentang cara menyambut manusia yang datang dengan rasa takut dan harapan. Senyum, sapaan hangat, dan nada bicara yang menenangkan kini menjadi pemandangan yang lebih sering dijumpai di ruang tunggu.
Siti (40) merasakan langsung perubahan itu. Ia masih mengingat saat menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, duduk sendiri dengan pikiran yang dipenuhi kecemasan. “Saya kelihatan biasa saja, tapi sebenarnya cemas,” ujarnya.
Seorang perawat kemudian menghampiri, menanyakan kabar, dan memberi semangat singkat. “Itu mungkin hal kecil bagi mereka. Tapi bagi saya, rasanya seperti dikuatkan,” kata Siti, matanya berkaca.
Wakil Direktur Pelayanan, Pengendalian, dan Mutu RSUD Brebes Aries Suparmiati menyebut sentuhan humanis sebagai bagian penting dari proses penyembuhan. “Kami sadar antrean panjang bisa memicu emosi pasien. Tapi empati dan senyum tulus sering kali mampu meredakannya,” ujarnya.
Pendekatan itu diperkuat dengan pembaruan sistem. RSUD Brebes menghadirkan SIPOSAN RAMAH untuk memantau antrean rawat jalan, menyederhanakan layanan BPJS yang kini cukup menggunakan KTP, serta mengembangkan layanan eksekutif dan jantung invasif.
Namun, menurut Aries, teknologi hanyalah alat bantu. “Yang utama tetap manusianya,” katanya.
Direktur RSUD Brebes Adhi Supriadi menegaskan keselamatan dan kenyamanan pasien menjadi fondasi pelayanan. “Kami ingin pasien merasa aman, bukan hanya secara medis, tetapi juga secara emosional,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Di halaman rumah sakit, suasana itu kini mulai terasa berbeda. RSUD Brebes perlahan membangun wajah baru—bukan sekadar tempat menyembuhkan tubuh, melainkan ruang yang berupaya memulihkan ketenangan.

