Beritakota.id, Jakarta – Fenomena “Dascomology” yang ramai diperbincangkan di media sosial menjadi sorotan publik. Istilah tersebut muncul seiring berkembangnya persepsi sebagian warganet yang mengaitkan komunikasi politik Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dengan menguatnya sentimen positif di pasar, termasuk pada sejumlah momentum pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Koordinator Publik Peduli Demokrasi, Gunawan Raharjo, menilai fenomena tersebut menarik untuk dikaji dalam perspektif demokrasi. Menurutnya, yang paling penting bukanlah benar atau tidaknya persepsi yang berkembang, melainkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap arti penting komunikasi politik dalam menjaga stabilitas nasional.
“Terlepas dari benar atau tidaknya persepsi tersebut, yang menarik adalah munculnya kepercayaan publik terhadap pentingnya komunikasi politik dalam menjaga stabilitas nasional. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya memperhatikan kebijakan, tetapi juga mencermati siapa yang mampu menghadirkan kepastian di tengah dinamika politik dan ekonomi,” ujar Gunawan dalam keterangannya, Sabtu (4/7).
Gunawan menjelaskan, dalam sistem demokrasi modern, dinamika pasar tidak semata-mata dipengaruhi oleh indikator ekonomi makro. Ekspektasi pelaku pasar, psikologi investor, tingkat kepercayaan terhadap institusi negara, hingga kualitas komunikasi pemerintah juga berkontribusi dalam membentuk sentimen ekonomi.
Menurutnya, komunikasi publik yang dilakukan secara cepat, terbuka, konsisten, dan kredibel mampu memberikan kepastian informasi sehingga dapat mengurangi ruang spekulasi yang berpotensi memengaruhi stabilitas politik maupun ekonomi.
Ia menilai fenomena Dascomology merupakan bagian dari budaya politik digital yang tumbuh secara alami di ruang publik. Narasi tersebut berkembang karena sebagian masyarakat melihat komunikasi yang disampaikan Sufmi Dasco Ahmad kerap muncul pada momentum-momentum strategis dan beriringan dengan membaiknya sentimen pasar.
Meski demikian, Gunawan menegaskan bahwa persepsi tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat secara langsung terhadap pergerakan IHSG.
Baca juga: Dasco Temui Pendemo Mahasiswa, Tiga Tuntutan Rakyat Jadi Sorotan
“Tentu, pergerakan IHSG tidak dapat disederhanakan hanya karena satu faktor atau satu figur. Pasar dipengaruhi oleh banyak variabel. Namun, persepsi publik tersebut menunjukkan bahwa komunikasi politik memiliki nilai strategis dalam membangun kepercayaan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan pejabat publik dalam negara demokrasi tidak hanya menjalankan fungsi konstitusional sebagai pengambil kebijakan, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun komunikasi yang transparan, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Menurut Gunawan, kepastian informasi merupakan salah satu instrumen penting dalam memperkuat legitimasi demokrasi, menjaga optimisme publik, sekaligus menciptakan iklim investasi yang sehat.
“Demokrasi yang sehat membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kepercayaan. Ketika komunikasi dilakukan secara terbuka, tepat waktu, dan bertanggung jawab, ruang spekulasi dapat dipersempit, kepercayaan publik meningkat, dan sentimen positif terhadap perekonomian dapat ikut terjaga,” ujarnya.
Publik Peduli Demokrasi memandang fenomena Dascomology tidak sekadar menjadi candaan atau istilah viral di media sosial. Fenomena tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas komunikasi para pemimpin negara dalam merespons berbagai isu strategis.
Meski demikian, organisasi tersebut mengingatkan bahwa pergerakan IHSG pada dasarnya tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental, seperti kondisi ekonomi domestik dan global, kebijakan fiskal dan moneter, kinerja emiten, serta dinamika pasar keuangan internasional. Oleh karena itu, fenomena Dascomology lebih tepat dipahami sebagai refleksi persepsi publik terhadap komunikasi politik, bukan sebagai bukti hubungan kausal yang telah terbukti secara empiris. (***)

