Beritakota.id, Bogor – Pagi itu, suara kendaraan yang biasanya mengisi hari-hari mereka berganti dengan bunyi kuas yang menyapu dinding sekolah. Di SDN 03 Gadog, sebuah sekolah dasar yang berada di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, puluhan relawan sibuk mengecat tembok, membersihkan lingkungan, dan memasang ring basket baru untuk para siswa.

Sebagian dari mereka bukan pekerja konstruksi atau tenaga profesional di bidang bangunan. Mereka adalah mitra pengemudi transportasi online yang sehari-hari menghabiskan waktu di jalan, mengantar penumpang dari satu titik ke titik lainnya. Bersama sejumlah karyawan perusahaan, mereka datang bukan untuk bekerja mencari penghasilan, melainkan untuk memberikan waktu dan tenaga bagi sebuah sekolah yang membutuhkan perhatian.

Baca juga : Maxim Salurkan Santunan Rp24 Juta untuk Pengemudi di Jakarta

Bagi para siswa SDN 03 Gadog, perubahan itu mungkin terlihat sederhana. Dinding sekolah yang sebelumnya kusam kini tampak lebih cerah. Lapangan yang selama ini minim fasilitas olahraga kini memiliki ring basket baru. Namun bagi guru dan warga sekolah, perubahan tersebut menghadirkan semangat baru setelah sekian lama menghadapi keterbatasan sarana.

Sekolah yang berada di wilayah yang relatif jauh dari pusat kota itu memang menghadapi tantangan tersendiri. Keterbatasan anggaran perawatan membuat sejumlah fasilitas sekolah belum dapat diperbaiki secara optimal. Karena itu, ketika bantuan datang dalam bentuk renovasi sederhana namun nyata, dampaknya terasa langsung oleh seluruh warga sekolah.

Selain kegiatan pengecatan, para relawan juga mengadakan sesi pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa kelas enam. Suasana kelas yang biasanya formal berubah menjadi lebih hidup melalui kuis interaktif dan permainan edukatif. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap aktivitas, sementara para relawan berusaha menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus membangun rasa percaya diri para siswa dalam mengenal bahasa asing.

Kepala SDN 03 Gadog, Euis Puspitasari, mengaku bersyukur atas bantuan yang diterima sekolahnya. Menurutnya, pengecatan gedung dan pemasangan ring basket merupakan kebutuhan yang telah lama dinantikan oleh pihak sekolah. Ia berharap kepedulian seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut berkontribusi terhadap dunia pendidikan, terutama di daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan fasilitas.

Pesta Perayaan Ulang Tahun Menjadi Kegiatan Sosial

Di balik kegiatan tersebut, terdapat sebuah pilihan yang cukup menarik. Alih-alih merayakan hari jadinya dengan seremoni besar atau acara internal yang bersifat simbolis, Maxim Indonesia memilih mengalihkan perayaan ulang tahunnya yang ke-8 menjadi kegiatan sosial yang berfokus pada pendidikan.

Sebanyak 23 karyawan perusahaan dan 12 mitra pengemudi dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya memberikan bantuan material berupa buku tulis dan paket kebutuhan pokok, tetapi juga berpartisipasi secara langsung dalam proses renovasi dan kegiatan belajar mengajar.

Direktur Pengembangan Maxim Indonesia, Dirhamsyah, menyebut bahwa perjalanan delapan tahun perusahaan di Indonesia tidak hanya menjadi alasan untuk merayakan pencapaian bisnis, tetapi juga momentum untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Menurutnya, investasi pada pendidikan merupakan bentuk kontribusi yang dapat memberikan dampak jangka panjang bagi generasi mendatang.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan tidak selalu harus diwujudkan melalui program berskala besar. Terkadang, perubahan yang paling berarti justru hadir melalui tindakan sederhana yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Sebuah dinding yang dicat ulang, fasilitas olahraga yang diperbaiki, atau satu sesi pembelajaran yang menyenangkan dapat meninggalkan kesan yang bertahan jauh lebih lama dibandingkan sebuah perayaan seremonial.

Ketika kegiatan berakhir dan para relawan kembali ke rutinitas masing-masing, warna baru tetap tertinggal di dinding sekolah itu. Ring basket baru tetap berdiri di halaman. Buku-buku tulis tetap digunakan para siswa. Dan mungkin yang paling penting, tersisa sebuah pengingat bahwa kolaborasi antara dunia usaha dan masyarakat masih dapat menghadirkan perubahan nyata, bahkan dimulai dari sebuah sekolah kecil di kaki pegunungan Bogor. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *