Beritakota.id, Jakarta – Harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah melewati salah satu periode terberatnya tahun ini. Menjelang pidato perdana Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh, pasar kembali menaruh perhatian pada logam mulia yang selama beberapa bulan terakhir justru gagal memainkan peran tradisionalnya sebagai aset pelindung saat ketidakpastian global meningkat.

Pada perdagangan Selasa (16/6), emas bergerak di sekitar US$4.326 per troy ounce dan mulai mendekati area US$4.360 yang menjadi salah satu target pemulihan jangka pendek. Kenaikan ini terjadi setelah harga emas mengalami tekanan tajam sejak konflik di Timur Tengah memanas dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat berubah secara signifikan.

Baca juga : Emas Kehilangan Kilau Safe Haven, Pasar Fokus pada Inflasi dan Suku Bunga

Pertanyaannya, mengapa emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven justru melemah ketika ketegangan geopolitik meningkat?

Tim riset Barclays dalam laporan terbarunya menilai pelemahan emas bukan disebabkan oleh memburuknya prospek jangka panjang logam mulia tersebut. Sebaliknya, tekanan datang dari kombinasi penguatan dolar AS, reli pasar saham global, serta aksi ambil untung investor yang sebelumnya telah menumpuk posisi beli dalam jumlah besar.

Menurut Barclays, faktor-faktor tersebut bersifat sementara. Sementara itu, faktor fundamental yang selama ini menopang harga emas, seperti inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian kebijakan ekonomi, dan pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara, dinilai masih tetap kuat.

“Jika ada periode ketika emas seharusnya diperdagangkan pada harga premium, maka saat itu adalah sekarang,” tulis tim Barclays dalam laporannya.

Tekanan Inflasi Belum Sepenuhnya Mereda

Pandangan tersebut sejalan dengan keyakinan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Barclays memperkirakan dampak kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik sebelumnya masih akan terasa pada data inflasi beberapa bulan mendatang. Dalam kondisi seperti itu, emas biasanya memperoleh dukungan karena investor mencari aset yang mampu mempertahankan nilai kekayaan mereka.

Meski demikian, arah jangka pendek emas kini sangat bergantung pada satu sosok: Kevin Warsh.

Pasar global tengah menantikan pidato pertama Warsh sebagai Ketua The Fed. Bukan karena investor berharap adanya perubahan suku bunga dalam waktu dekat, melainkan karena mereka ingin mengetahui bagaimana bank sentral Amerika Serikat memandang kondisi ekonomi saat ini.

Apabila Warsh memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi yang terjadi belakangan bersifat sementara dan tidak memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat, maka pasar dapat menafsirkan hal tersebut sebagai kabar positif bagi emas. Sebaliknya, jika Warsh menegaskan bahwa inflasi masih menjadi ancaman serius dan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut, maka dolar AS berpotensi kembali menguat dan membatasi kenaikan harga emas.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasar terlihat mulai mengurangi fokus pada perkembangan geopolitik dan lebih memperhatikan arah kebijakan moneter. Pergeseran perhatian inilah yang membuat setiap pernyataan dari pejabat bank sentral memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap pergerakan harga aset keuangan.

Bagi investor, kondisi ini menciptakan situasi yang menarik. Di satu sisi, sebagian besar faktor yang menekan emas selama beberapa bulan terakhir mulai mereda. Di sisi lain, pasar masih membutuhkan konfirmasi bahwa siklus penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat tidak akan berlanjut secara agresif.

Untuk saat ini, emas tampaknya sedang menunggu katalis berikutnya. Dan sebelum Kevin Warsh benar-benar berbicara, pasar sudah mulai berspekulasi bahwa peluang pemulihan menuju area US$4.360 kembali terbuka. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *