Beritakota.id, Jakarta – Harga emas dunia masih bergerak dalam tekanan meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasar saat ini lebih memperhatikan arah inflasi dan kebijakan moneter dibandingkan fungsi tradisional emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven).

Pada perdagangan Kamis, harga emas spot bertahan di sekitar level US$4.100 per troy ounce setelah militer Amerika Serikat mengumumkan telah menyelesaikan serangkaian serangan terbaru terhadap Iran. Pengumuman tersebut memunculkan harapan bahwa jalur diplomasi dan negosiasi perdamaian dapat kembali dibuka, sehingga mengurangi sebagian kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump menuduh Iran sengaja memperlambat pembahasan kesepakatan perdamaian sementara. Ketegangan kemudian meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru yang dibalas Iran dengan laporan serangan terhadap kapal-kapal Amerika di kawasan Selat Hormuz.

Baca juga : Pasar Global Berubah Perang Memanas, Emas Justru Melemah

Namun menariknya, eskalasi konflik tersebut gagal mengangkat harga emas secara signifikan. Logika pasar yang biasanya mendorong investor masuk ke aset aman tampak tidak bekerja seperti biasanya. Emas justru masih bertahan di dekat posisi terendah dalam tujuh bulan terakhir.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perhatian investor kini lebih tertuju pada risiko inflasi yang muncul akibat terganggunya arus energi dari kawasan Teluk Persia. Penutupan hampir total jalur pelayaran di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan harga energi global, yang pada akhirnya dapat memperpanjang tekanan inflasi di berbagai negara.

Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat memperkuat kekhawatiran tersebut. Inflasi Mei tercatat meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir, terutama didorong oleh lonjakan biaya energi. Meski angka tersebut masih sesuai dengan ekspektasi pasar, kenaikan inflasi menjadi pengingat bahwa perjuangan bank sentral melawan kenaikan harga belum sepenuhnya selesai.

Di sisi lain, pelaku pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan Federal Reserve. Walaupun sebagian investor mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga tambahan tahun ini, pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.

Ruang Koreksi Masih Terbuka

Dari perspektif teknikal, ruang koreksi emas dinilai masih terbuka. Analis teknikal senior UOB Global Economics & Markets Research, Quek Ser Leang, menilai indikator stochastic mingguan belum memasuki area jenuh jual (oversold). Kondisi ini mengindikasikan bahwa tren pelemahan belum sepenuhnya berakhir meskipun penurunan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir sudah terlihat cukup tajam.

Menurutnya, level support penting berikutnya berada di sekitar US$3.974 per troy ounce, tepat di area atas awan Ichimoku pada grafik mingguan. Jika harga memasuki zona tersebut, laju penurunan kemungkinan akan melambat karena adanya dukungan teknikal yang cukup kuat.

Dengan kata lain, pasar emas saat ini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, ketegangan geopolitik masih memberikan alasan bagi investor untuk mencari perlindungan. Namun di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi dan potensi suku bunga yang bertahan tinggi membuat daya tarik emas sebagai aset non-yield menjadi berkurang.

Dalam jangka pendek, arah pergerakan emas kemungkinan masih akan ditentukan oleh dua faktor utama: perkembangan konflik di Timur Tengah dan data ekonomi Amerika Serikat yang berpengaruh terhadap kebijakan Federal Reserve. Selama inflasi tetap tinggi dan suku bunga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan agresif, peluang rebound emas diperkirakan masih akan menghadapi hambatan yang cukup besar. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *