Beritakota.id, Brebes – Ribuan warga Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, kembali menggelar tradisi Ratiban di kawasan Telaga Ranjeng, Rabu, (17/6/2026).

Tradisi tahunan yang dikenal sebagai sedekah bumi itu menjadi ungkapan syukur masyarakat atas hasil pertanian dan kelimpahan sumber daya alam yang mereka nikmati sepanjang tahun.

Prosesi Ratiban diawali dengan arak-arakan tumpeng serta gunungan berisi hasil panen warga. Rombongan bergerak dari Balai Desa Pandansari menuju Telaga Ranjeng dengan diiringi antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang jalur pawai.

Setibanya di lokasi, rangkaian acara dilanjutkan dengan ritual pemberian pakan ikan di telaga yang selama ini menjadi salah satu destinasi wisata alam andalan di wilayah selatan Brebes.

Kepala Desa Pandansari Irwan Susanto mengatakan tradisi Ratiban tetap bertahan hingga kini berkat dukungan seluruh lapisan masyarakat. Menurut dia, tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

“Dahulu Ratiban dilaksanakan dalam bentuk doa bersama dengan kepungan tumpeng. Saat ini pelaksanaannya menyesuaikan perkembangan zaman, namun nilai-nilai budaya dan makna syukurnya tetap dipertahankan,” kata Irwan.

Ia menuturkan Ratiban telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan. Status tersebut, kata dia, menjadi kebanggaan bagi masyarakat sekaligus dorongan untuk terus menjaga keberlanjutan tradisi tersebut.

Wakil Bupati Brebes Wurja yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Pandansari yang dinilai berhasil mempertahankan tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.

Menurut Wurja, Ratiban tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berperan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Tradisi tersebut menjadi ruang bersama bagi warga untuk mempererat hubungan sekaligus menanamkan nilai-nilai kebersamaan kepada generasi muda.

Dalam sambutannya, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Telaga Ranjeng. Menurut dia, keberadaan telaga dan ekosistem di sekitarnya merupakan aset berharga yang harus dirawat secara berkelanjutan.

“Kelestarian alam harus menjadi perhatian bersama agar manfaatnya tetap dapat dirasakan oleh generasi mendatang,” ujarnya.

Ratiban telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Pandansari. Selain mencerminkan rasa syukur atas hasil bumi, tradisi tersebut juga menunjukkan upaya warga dalam menjaga harmoni antara pelestarian budaya dan konservasi lingkungan.

Kegiatan itu turut dihadiri sejumlah pejabat pemerintah daerah, di antaranya perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, unsur Forkopimcam Paguyangan, serta ribuan warga dari berbagai wilayah di sekitar Pandansari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *