Beritakota.id, Jakarta – Di tengah derasnya arus budaya global, ketika anak-anak muda lebih akrab dengan tren yang lahir dari Seoul, Tokyo, atau Los Angeles, sekelompok mahasiswa di Jakarta justru mengambil jalan yang berbeda. Mereka memilih menoleh ke belakang, mencari akar yang selama ini mungkin terlalu dekat sehingga sering terlupakan. Pilihan itu bernama Betawi.
Melalui gelaran Sorak Betawi Condet yang akan berlangsung pada 20–21 Juni 2026 di Balai Budaya Condet, mahasiswa LSPR Institute of Communication and Business tidak sekadar menyelenggarakan sebuah festival budaya. Mereka sedang mengirimkan sebuah pesan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang untuk hidup, tumbuh, dan berbicara kepada generasi hari ini.
Pilihan mengangkat Betawi bukan tanpa alasan. Condet merupakan salah satu kawasan yang masih menyimpan jejak kuat identitas Betawi di tengah transformasi Jakarta yang berlangsung begitu cepat. Di tengah menjulangnya gedung-gedung modern dan perubahan wajah ibu kota dari tahun ke tahun, kawasan ini tetap menjadi ruang tempat tradisi, cerita, dan nilai-nilai budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi mahasiswa komunikasi, budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Budaya adalah cerita. Dan setiap cerita membutuhkan suara agar tidak hilang ditelan waktu. Karena itulah Sorak Betawi Condet dirancang bukan sebagai perayaan budaya yang kaku dan eksklusif. Sebaliknya, festival ini mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda. Ada sesi bincang budaya, kelas Gambang Kromong, Lenggak Lenggok Betawi, pembuatan emping, eksplorasi kuliner UMKM, hingga kolaborasi DJ dengan musik tradisional Betawi.
Baca juga : Rayakan HUT Jakarta ke-499, Aston Priority Simatupang Sajikan Ragam Kuliner Khas Betawi
Pendekatan ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap pelestarian budaya. Jika dahulu budaya sering diposisikan sebagai sesuatu yang harus dijaga dari kejauhan, kini budaya justru diajak masuk ke ruang hidup anak muda. Ia hadir dalam musik, konten digital, fotografi, fesyen, hingga interaksi media sosial. Budaya tidak lagi hanya dipertontonkan, tetapi dialami.
Yang membuat inisiatif ini menarik adalah keberanian generasi muda untuk menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Mereka tidak berusaha mengubah Betawi menjadi sesuatu yang lain. Mereka hanya mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh generasi hari ini.
Di tengah dunia yang semakin seragam, upaya seperti ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah acara akhir pekan. Ia menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung pencakar langit, atau pusat perbelanjaan. Kota juga dibangun oleh ingatan kolektif, cerita, musik, kuliner, dan tradisi yang membentuk identitas warganya.
Sorak Betawi Condet pada akhirnya bukan hanya tentang budaya Betawi. Ia adalah tentang sekelompok anak muda yang percaya bahwa masa depan tidak harus dibangun dengan melupakan masa lalu. Sebaliknya, masa depan yang kuat justru lahir ketika generasi baru berani mengenali, merawat, dan menyuarakan kembali akar budayanya sendiri. Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, itulah suara yang paling layak untuk didengar. (Lukman Hqeem)

