Beritakota.id, Jakarta – Emas memulai pekan ini dengan volatilitas perdagangan yang tinggi di tengah dua kekuatan fundamental yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong permintaan aset safe haven. Pernyataan Presiden Donald Trump yang mengancam aksi militer lebih lanjut apabila Hezbollah melanjutkan serangan terhadap Israel, serta pernyataan keras terhadap Iran terkait Selat Hormuz, meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar. Di sisi lain, ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang semakin hawkish masih menjadi hambatan utama bagi kenaikan emas setelah sembilan dari 19 pejabat FOMC kini memproyeksikan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi tahun ini.
Tekanan-tekanan tersebut tercermin dari pergerakan aset lintas pasar. Imbal hasil Treasury 10-tahun masih bertahan tinggi di kisaran 4,46%, sementara indeks dolar AS stabil di sekitar 100,8. Kombinasi yield riil yang tinggi dan dolar yang relatif kuat membuat investor masih berhati-hati untuk kembali melakukan akumulasi emas secara agresif. Meski demikian, komentar dari Exness menegaskan bahwa pembelian berkelanjutan oleh bank sentral dunia tetap menjadi faktor pendukung struktural yang berpotensi membatasi penurunan harga dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca juga : Rebound Emas Tertahan Sinyal Hawkish Federal Reserve
Di pasar saham, sentimen risiko masih cukup positif. S&P 500 menguat 2,11% dalam lima hari terakhir dan Nasdaq melonjak 3,39%, menunjukkan minat investor terhadap aset berisiko belum sepenuhnya hilang. Sementara itu, harga minyak yang turun hampir 14% dalam lima hari terakhir mulai mengurangi sebagian kekhawatiran inflasi energi, meskipun risiko geopolitik tetap dapat memicu lonjakan harga sewaktu-waktu.
Dengan latar belakang tersebut, perdagangan hari ini masih akan cenderung bearish–neutral dengan preferensi sell on rally. Rebound yang terjadi pada awal sesi Asia belum mengubah struktur teknikal yang masih didominasi tren turun. Area 4.190–4.210 menjadi resistance kunci yang harus ditembus untuk membuka peluang pemulihan lebih lanjut. Sebaliknya, kegagalan bertahan di atas 4.175 berpotensi mengembalikan tekanan jual menuju 4.160 hingga 4.145 dalam beberapa jam ke depan.
Secara keseluruhan, pasar masih berada dalam fase menunggu katalis baru, baik dari perkembangan konflik Timur Tengah maupun data ekonomi Amerika Serikat yang akan menentukan arah kebijakan Federal Reserve berikutnya. (Lukman Hqeem)

