Beritakota.id, Jakarta Selatan – Beberapa tahun terakhir, perfilman horor Asia Tenggara menunjukkan perkembangan yang menarik. Jika Thailand dikenal piawai membangun atmosfer mencekam, sementara Indonesia mengandalkan kisah-kisah urban legend dan spiritualitas lokal, maka Vietnam mulai memperlihatkan identitasnya sendiri melalui eksplorasi legenda rakyat yang dikemas dengan kualitas sinematik modern.

Film horor Vietnam Phi Phong: The Blood Demon—atau Phí Phông: Quỷ Máu Rừng Thiên—menjadi salah satu contoh paling menonjol tahun ini. Disutradarai oleh Do Quoc Trung dan diproduksi oleh Bluebells Studios, film berdurasi 120 menit tersebut bahkan berhasil menjadi film horor terlaris di Vietnam sepanjang 2026. Pencapaian itu terasa masuk akal setelah menyaksikan bagaimana film ini membangun teror secara perlahan, tanpa pernah kehilangan rasa penasaran penontonnya.

Baca juga : Review Film Power Ballad: Pertaruhan Mimpi, Ego, dan Kehidupan Pada Sebuah Lagu

Alih-alih mengandalkan jump scare sebagai senjata utama, Phi Phong memilih membangun ketegangan melalui lapisan misteri yang terus bertambah. Cerita dimulai ketika Còn dan adiknya, Dương, berusaha menyelamatkan sang ibu yang terkena kutukan. Perjalanan mereka menuju pegunungan terlarang justru membuka pintu menuju legenda kuno tentang iblis haus darah yang selama ini hanya hidup dalam cerita masyarakat setempat.

Namun sejak awal, film ini memberikan isyarat bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan secara sederhana. Setiap jawaban yang muncul justru melahirkan pertanyaan baru. Setiap karakter menyimpan rahasia. Setiap keputusan membawa konsekuensi yang perlahan mengubah arah cerita.

Inilah kekuatan terbesar Phi Phong. Naskahnya tidak terburu-buru mengungkap misteri. Penonton diajak menyusun kepingan demi kepingan cerita hingga lapisan terakhir terungkap pada bagian akhir film. Meski memiliki alur yang cukup kompleks, ritme penceritaannya tetap terjaga sehingga rasa penasaran terus terpelihara sepanjang durasi dua jam.

Visual menjadi nilai jual berikutnya.

Lanskap pegunungan Vietnam ditampilkan dengan sinematografi yang memanjakan mata. Hutan berkabut, lembah-lembah sunyi, hingga desa terpencil tidak hanya menjadi latar, melainkan berubah menjadi karakter yang ikut membangun atmosfer horor. Ada nuansa eksotis yang jarang ditemui dalam film horor arus utama, membuat setiap adegan terasa memiliki ruang bernapas sekaligus menyimpan ancaman yang tak terlihat.

Keindahan visual tersebut justru memperkuat rasa takut. Semakin indah lanskap yang ditampilkan, semakin terasa kontras ketika kekuatan gelap mulai mengambil alih cerita.

Penampilan para pemain juga mendukung keseluruhan atmosfer film. Nina Nutthacha Jessica Padovan, yang sebelumnya dikenal melalui trilogi Death Whisperer, kembali menunjukkan kemampuannya memainkan karakter yang penuh misteri tanpa harus banyak berbicara. Sementara Kiều Minh Tuấn berhasil membawa beban emosional sebagai kakak yang harus memilih antara keyakinan, keluarga, dan rasa takutnya sendiri.

Namun yang membuat Phi Phong terasa istimewa bukan semata karena kualitas teknisnya.

Film ini menghadirkan sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yakni praktik perdukunan, ritual penyembuhan, kepercayaan terhadap roh leluhur, hingga hubungan manusia dengan alam yang masih dipercaya sebagai ruang hidup kekuatan-kekuatan gaib.

Dalam perspektif antropologi budaya, praktik shamanism atau tradisi dukun bukanlah fenomena yang berdiri sendiri di Vietnam. Hampir seluruh kawasan Asia Tenggara mengenal bentuk-bentuk kepercayaan serupa, meskipun memiliki nama, ritual, dan simbol yang berbeda. Indonesia mengenalnya melalui dukun, balian di Bali, sanro di Sulawesi Selatan, hingga berbagai ritual adat di Kalimantan dan Papua. Kesamaan akar budaya inilah yang membuat konflik dalam Phi Phong terasa akrab, bahkan ketika penonton tidak memahami bahasa maupun legenda Vietnam yang menjadi dasar ceritanya.

Film ini tidak sekadar menjual sosok iblis sebagai monster. Ia membangun horor dari keyakinan kolektif masyarakat bahwa ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar manusia. Ketika batas itu diterobos, teror hadir bukan hanya sebagai hukuman, melainkan sebagai konsekuensi dari rusaknya keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.

Di sinilah letak peluang besar Phi Phong di pasar Indonesia. Penonton Indonesia selama bertahun-tahun telah menunjukkan kedekatan emosional dengan cerita-cerita yang berakar pada mitologi lokal dan praktik spiritual tradisional. Karena memiliki fondasi budaya yang relatif serumpun, legenda Vietnam dalam film ini tidak terasa asing, justru menghadirkan pengalaman baru tanpa kehilangan rasa familiar.

Pada saat yang sama, film ini memperlihatkan bahwa horor Asia Tenggara mulai bergerak menuju kualitas produksi yang semakin matang. Tidak lagi hanya mengandalkan cerita menyeramkan, tetapi juga membangun dunia, karakter, dan mitologi yang dapat berkembang menjadi semesta cerita yang lebih luas.

Phi Phong: The Blood Demon adalah bukti bahwa horor terbaik bukanlah film yang paling banyak membuat penonton terkejut, melainkan film yang membuat rasa takut terus tinggal bahkan setelah lampu bioskop menyala kembali. Dengan narasi berlapis, visual yang eksotis, serta akar budaya yang dekat dengan masyarakat Asia Tenggara, film ini layak disebut sebagai salah satu horor regional terbaik tahun 2026.

Film ini berhasil memadukan misteri, horor folklor, dan drama keluarga dalam sebuah pengalaman sinematik yang matang. Bagi penonton Indonesia yang menyukai horor dengan unsur budaya, Phi Phong: The Blood Demon menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar teriakan dan kejutan: ia mengajak penonton menyelami mitologi yang terasa asing, tetapi sekaligus sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Nusantara. Rating Beritakota: 9/10. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *