Beritakota.id – Harga emas dunia berhasil bangkit pada perdagangan Rabu (2/7/2026) setelah sempat menyentuh level terendah dalam hampir delapan bulan. Logam mulia menutup perdagangan di US$4.031 per troy ounce, menguat dibandingkan penutupan sebelumnya di US$4.007, meski sepanjang sesi bergerak sangat volatil dalam rentang US$3.960 – US$4.115.
Perdagangan dibuka pada level US$4.014, sebelum tekanan jual di awal sesi membawa harga turun ke area psikologis US$4.000. Namun, sentimen berbalik positif pada perdagangan Amerika Serikat sehingga emas mampu memangkas seluruh pelemahan dan kembali ditutup di atas level US$4.030.
Rebound tersebut dipicu kombinasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan serta pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang dinilai memberi sinyal meredanya tekanan inflasi tanpa memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Baca juga : Emas Dalam Tekanan Tingginya Bunga Obligasi dan Suku Bunga
Data ADP Melemah, Yield Obligasi Turun
Sentimen utama datang dari laporan ADP National Employment yang menunjukkan sektor swasta Amerika Serikat hanya menambah 98.000 tenaga kerja selama Juni. Angka tersebut berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 118.000 dan lebih rendah dibandingkan kenaikan 122.000 pada Mei.
Data tersebut memicu penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ini meningkatkan daya tarik emas karena biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih rendah.
Pelaku pasar menilai perlambatan pasar tenaga kerja dapat memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk tidak bersikap lebih agresif dalam waktu dekat, meskipun inflasi masih menjadi perhatian utama bank sentral.
Kevin Warsh Pertahankan Fokus pada Inflasi
Dalam forum tahunan Bank Sentral Eropa di Sintra, Portugal, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan bahwa ekspektasi inflasi dan risiko inflasi telah menunjukkan penurunan dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, Warsh kembali menegaskan komitmen Federal Reserve untuk mengembalikan inflasi menuju target 2 persen. Ia juga mempertahankan pendekatan baru dengan tidak lagi memberikan forward guidance mengenai arah suku bunga, sehingga pasar harus lebih bergantung pada setiap data ekonomi yang dirilis.
Pernyataan tersebut memang membantu meredakan kenaikan imbal hasil obligasi. Namun di sisi lain, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga belum sepenuhnya hilang.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September masih berada di kisaran 64–65 persen.
Ketegangan Timur Tengah Masih Menjadi Faktor Pendukung
Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik turut menopang harga emas.
Amerika Serikat dan Iran melanjutkan pembicaraan teknis di Doha, Qatar, guna membahas keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan upaya mempertahankan gencatan senjata yang lebih permanen. Meski dialog terus berlangsung, pelaku pasar masih meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan langsung dalam waktu dekat.
Ketidakpastian tersebut membuat permintaan terhadap aset lindung nilai tetap bertahan, sehingga mendukung pemulihan harga emas setelah tekanan tajam yang terjadi pada awal pekan.
Fokus Beralih ke Non-Farm Payrolls
Meski berhasil mencatat rebound yang cukup kuat, arah pergerakan emas selanjutnya diperkirakan masih sangat bergantung pada laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan dirilis malam ini.
Data tersebut menjadi indikator utama kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus penentu ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve pada beberapa bulan mendatang.
Apabila laporan NFP menunjukkan perlambatan yang lebih besar dari perkiraan, peluang kenaikan harga emas berpotensi berlanjut karena pasar akan mengurangi ekspektasi pengetatan moneter. Sebaliknya, jika data tenaga kerja kembali menunjukkan kekuatan ekonomi AS, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menguat sehingga berpotensi membatasi reli emas.
Dengan demikian, rebound pada perdagangan hari ini lebih tepat dipandang sebagai pemulihan teknikal yang didukung membaiknya sentimen fundamental. Keberlanjutan tren kenaikan masih akan ditentukan oleh hasil data tenaga kerja Amerika Serikat yang menjadi agenda ekonomi terpenting pekan ini.

