Beritakota.id, Jakarta Timur – Harga emas (XAU/USD) memasuki perdagangan Rabu (1/7) dengan tekanan yang masih kuat setelah mencatat penurunan kuartalan terdalam dalam lebih dari satu dekade. Logam mulia ini bertahan di sekitar level psikologis US$4.000 per troy ounce, namun masih berada di dekat titik terendah dalam hampir delapan bulan.
Pada perdagangan emas di pasar spot, diperdagangkan di kisaran US$3.980 per ounce, sedangkan kontrak berjangka emas Comex untuk pengiriman Agustus berada di sekitar US$3.993 per ounce. Pelemahan tersebut terjadi setelah emas sempat menyentuh US$3.943, level terendah sejak November tahun lalu.
Tekanan terhadap emas datang dari kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan meningkatnya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve masih membuka peluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Baca juga : Emas Bertahan di Atas $4.000, Pasar Menanti Data NFP AS
Bunga Obligasi AS Jadi Musuh Utama Emas
Faktor terbesar yang menekan harga emas saat ini bukan lagi konflik geopolitik, melainkan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali bergerak naik setelah serangkaian data ekonomi menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam. Laporan JOLTS Job Openings mencatat jumlah lowongan pekerjaan naik ke level tertinggi dalam dua tahun, memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih solid.
Kondisi tersebut membuat investor semakin percaya bahwa inflasi akan bertahan lebih lama. Akibatnya, peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat. 555Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 67% peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Bagi emas, kondisi tersebut merupakan sentimen negatif karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga dan yield meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbunga yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi.
The Fed Masih Bernada Hawkish
Nada hati-hati juga datang dari Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack. Ia menegaskan inflasi masih menjadi perhatian utama dan tidak menutup kemungkinan mendukung kenaikan suku bunga apabila tekanan harga tidak segera mereda. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa siklus kebijakan moneter ketat belum berakhir.
Pasar kini menunggu dua data penting Amerika Serikat, yaitu laporan ADP Employment Change dan Non-Farm Payrolls (NFP). Kedua indikator tersebut diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan The Fed sekaligus menjadi katalis utama pergerakan emas dalam jangka pendek.
Di luar faktor moneter, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi perhatian investor. Harapan tercapainya kesepakatan damai permanen antara Amerika Serikat dan Iran kembali memudar setelah Teheran menolak menggelar pertemuan langsung dengan delegasi senior Washington di Doha. Pemerintah Iran menyatakan pembahasan mengenai program nuklir baru dapat dilakukan setelah seluruh persyaratan gencatan senjata benar-benar disepakati.
Situasi tersebut menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi. Namun berbeda dengan pola historis, ketegangan Timur Tengah kali ini justru belum mampu mengangkat harga emas secara signifikan. Investor lebih memilih memusatkan perhatian pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat dibandingkan mencari aset lindung nilai.
Kinerja Kuartal Terburuk Sejak 2013
Perdagangan Selasa menutup salah satu periode paling berat bagi emas dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang kuartal II 2026, harga emas mencatat penurunan terbesar sejak 2013. Selama Juni saja, harga emas telah terkoreksi lebih dari 11 persen dan mencatat pelemahan bulanan keempat secara berturut-turut.
Perubahan persepsi pasar menjadi penyebab utama. Pada awal konflik Timur Tengah, investor memperkirakan perang akan mendorong permintaan aset safe haven. Namun seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi, fokus pasar bergeser kepada kemungkinan kebijakan moneter yang lebih agresif dari Federal Reserve. Perubahan narasi tersebut membuat emas kehilangan momentum kenaikannya.
Bank Sentral Dunia Masih Mendukung Prospek Jangka Panjang
Meski tekanan jangka pendek masih besar, prospek jangka panjang emas belum sepenuhnya berubah. Kajian yang dilakukan oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan semakin banyak bank sentral berencana mengurangi porsi cadangan devisa dalam dolar Amerika Serikat selama dekade mendatang.
Sebaliknya, kepemilikan emas diperkirakan akan terus ditingkatkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa di tengah meningkatnya risiko geopolitik global. 5a
Analis juga menilai sebagian bank sentral sempat menjual cadangan emas untuk membantu menutup lonjakan biaya energi selama konflik Timur Tengah. Dalam beberapa tahun mendatang, kebutuhan membangun kembali cadangan tersebut diperkirakan dapat menjadi penopang permintaan emas global.
Dari sisi permintaan fisik, India mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Ekspor emas India ke negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) kembali meningkat pada Mei setelah sempat hampir berhenti akibat konflik di Timur Tengah.
Sebagian besar pengiriman kembali mengalir menuju Uni Emirat Arab, menunjukkan aktivitas perdagangan logam mulia mulai pulih seiring membaiknya kondisi logistik kawasan Teluk. Meski demikian, analis menilai pemulihan tersebut masih bersifat terbatas dan belum mencerminkan peningkatan permintaan regional secara menyeluruh.
Fokus Pasar Beralih ke Data NFP
Dalam jangka pendek, arah pergerakan emas akan sangat bergantung pada data ekonomi Amerika Serikat. Apabila data ketenagakerjaan kembali menunjukkan pasar kerja yang kuat, peluang kenaikan suku bunga The Fed dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan mendorong yield obligasi lebih tinggi, sehingga tekanan terhadap emas dapat berlanjut.
Secara teknikal, emas kini memasuki fase bearish consolidation setelah gagal bertahan di atas area Fibonacci retracement 38,2% di sekitar US$4.115. Selama level tersebut belum berhasil direbut kembali, tekanan jual masih mendominasi. Beberapa analis bahkan membuka peluang koreksi lanjutan menuju area US$3.680 apabila sentimen hawkish The Fed semakin menguat.
Meski demikian, level psikologis US$4.000 tetap menjadi area penting yang akan menentukan apakah XAU/USD mampu membangun fase konsolidasi baru atau melanjutkan tren penurunannya dalam beberapa pekan mendatang. (Lukman Hqeem)

