Beritakota.id, Jakarta Pusat – Di negara kepulauan seperti Indonesia, membangun pelabuhan tanpa konektivitas ke daratan hanya akan memindahkan hambatan distribusi ke simpul berikutnya. Sebaliknya, jaringan rel yang semakin modern tidak akan mencapai efisiensi maksimal apabila tidak terhubung dengan pelabuhan, kawasan industri, dan pusat logistik nasional. Di tengah tantangan itulah, integrasi transportasi laut dan perkeretaapian menjadi salah satu agenda strategis pembangunan Indonesia.

Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Inamarine 2026 dan RailwayTech Indonesia 2026 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (28/7). Diselenggarakan oleh GEM Indonesia, pameran berskala internasional ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, asosiasi, investor, serta penyedia teknologi dari berbagai negara untuk mendorong modernisasi sektor maritim dan transportasi rel Indonesia. Tahun ini, lebih dari 450 perusahaan ambil bagian dengan target 35.000 pengunjung profesional selama tiga hari penyelenggaraan.

Memasuki area pameran, suasana transformasi itu langsung terasa. Di berbagai hall, pengunjung tidak hanya disuguhi model lokomotif, miniatur kapal industri, maupun alat berat. Beragam teknologi mutakhir turut dipamerkan, mulai dari sistem persinyalan digital, solusi smart port, perangkat autonomous inspection, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk pengelolaan aset transportasi. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pembangunan transportasi Indonesia kini tidak lagi semata berbicara tentang infrastruktur fisik, tetapi juga integrasi sistem digital yang menopang efisiensi operasional.

Baca juga : Dubes Polandia Dorong Kolaborasi Industri Perkeretaapian

Dalam sambutannya saat membuka pameran, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Alan Tandiono menekankan pentingnya membangun konektivitas antarmoda sebagai bagian dari sistem transportasi nasional yang saling terhubung. Bagi Indonesia yang bertumpu pada jalur laut sebagai penghubung antarpulau, integrasi dengan jaringan transportasi darat menjadi faktor penting untuk mempercepat distribusi barang, memperkuat rantai pasok, sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Semangat yang sama juga mewarnai Indonesia Railway Conference (IRC) 2026 yang diselenggarakan Masyarakat Perkeretaapian Indonesia (MASKA) dengan dukungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Mengangkat tema “Advancing Safe, Smart & Sustainable Rail Transport”, forum tersebut membahas arah modernisasi perkeretaapian Indonesia melalui peningkatan keselamatan, digitalisasi sistem persinyalan, pengembangan sarana dan prasarana, hingga integrasi jaringan rel dengan pelabuhan, kawasan industri, dan pusat logistik.

Presiden Direktur GEM Indonesia, Baki Lee, mengatakan penyelenggaraan Inamarine dan RailwayTech 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, penyedia teknologi, investor, dan pelaku industri untuk mempercepat adopsi inovasi sekaligus membuka peluang bisnis baru di sektor transportasi dan maritim Indonesia.

Perspektif internasional pun memperkuat optimisme tersebut. Dalam wawancara khusus dengan Beritakota.id, Duta Besar Polandia menilai Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi besar dalam pengembangan sektor maritim dan perkeretaapian. Menurutnya, kebutuhan Indonesia terhadap modernisasi infrastruktur membuka peluang yang luas bagi kerja sama teknologi, investasi, dan pengembangan industri antara kedua negara.

Ia menegaskan, Polandia memiliki pengalaman panjang dalam industri perkeretaapian maupun teknologi maritim yang dapat menjadi landasan kolaborasi jangka panjang dengan Indonesia. Bagi Polandia, kerja sama tidak berhenti pada perdagangan, tetapi juga mencakup transfer pengetahuan, pengembangan teknologi, dan peningkatan kapasitas industri yang saling menguntungkan.

Optimisme tersebut diimbangi dengan pandangan dari pelaku industri nasional. Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), Anita Puji, mengingatkan bahwa modernisasi industri maritim membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih luas. Menurutnya, selain pembangunan infrastruktur, diperlukan sinergi lintas kementerian, termasuk dukungan dari Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak, agar industri galangan kapal nasional memiliki daya saing yang lebih kuat di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi dan investasi.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi sektor transportasi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada terciptanya ekosistem usaha yang sehat. Regulasi yang adaptif, insentif fiskal, serta kepastian investasi menjadi bagian penting agar inovasi yang dipamerkan dapat benar-benar diimplementasikan dalam pembangunan nasional.

Pada akhirnya, Inamarine dan RailwayTech Indonesia 2026 menghadirkan pesan yang lebih besar daripada sekadar pameran teknologi. Keduanya memperlihatkan bagaimana pemerintah, industri, akademisi, dan mitra internasional mulai membangun satu visi yang sama: menciptakan sistem logistik nasional yang terintegrasi.

Di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif, daya saing Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya pelabuhan atau panjangnya jalur rel yang dibangun. Keunggulan justru lahir ketika seluruh moda transportasi mampu bekerja sebagai satu sistem. Laut menghubungkan Nusantara, rel menghubungkan pusat-pusat ekonomi, dan integrasi keduanya menjadi fondasi bagi logistik Indonesia yang lebih efisien, modern, serta berkelanjutan.(Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *