Beritakota.id, Jakarta  – Perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat pada masa awal kehidupan. Berbagai lembaga kesehatan dunia, seperti World Health Organization (WHO), UNICEF, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hingga Kementerian Kesehatan RI, menyebut lebih dari 80 persen perkembangan otak terjadi sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) hingga sekitar usia tiga tahun. Pada fase inilah nutrisi, stimulasi, serta interaksi positif dari orang tua menjadi fondasi utama bagi tumbuh kembang anak.
Proses tersebut tidak hanya ditentukan oleh asupan gizi. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bermain, bereksplorasi, mengenali lingkungan, dan membangun rasa ingin tahu melalui pengalaman yang menyenangkan. Karena itu, berbagai pendekatan berbasis teknologi kini mulai dimanfaatkan sebagai sarana pendukung agar proses belajar dan eksplorasi berlangsung lebih interaktif tanpa menghilangkan peran utama orang tua.

Momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan pendekatan tersebut kepada masyarakat. Mengusung tema nasional “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, peringatan HAN tahun ini mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun lingkungan yang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari aspek kesehatan, pendidikan, maupun kesejahteraan psikologis.

Sejalan dengan semangat tersebut, Morinaga menghadirkan Dunia Generasi Platinum: Door of Future – Advance Intelligence Lab, sebuah wahana edukatif yang memanfaatkan teknologi interaktif untuk membantu orang tua mengenali potensi anak sejak usia dini. Acara yang digelar pada 25–26 Juli 2026 di The Dome, Senayan Park, Jakarta, tersebut dirancang sebagai pengalaman eksploratif bagi anak dan keluarga dalam memahami berbagai bentuk kecerdasan melalui aktivitas bermain yang menyenangkan.

Brand Group Manager Morinaga, Gregorius Daru, mengatakan setiap anak memiliki cara belajar dan berkembang yang berbeda. Karena itu, menurutnya, anak tidak perlu dipaksa menjadi sosok yang sempurna, melainkan diberi ruang untuk mengeksplorasi kemampuan terbaik yang dimilikinya.

“Setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung mereka menjadi dirinya sendiri. Anak tidak perlu menjadi sempurna, tetapi mereka membutuhkan kesempatan untuk mencoba, bereksplorasi, dan menemukan potensi terbaiknya,” ujar Gregorius Daru dalam keterangan resminya.

Baca juga : Soyalympic 2026 Diikuti 3.000 Anak, Morinaga Soya Gelar Brain Gym Competition Sambut Hari Anak Nasional

Teknologi Membantu Mengenali Potensi Anak

Pendekatan yang digunakan Morinaga tidak hadir tanpa dasar. Selama lebih dari empat dekade, teori Multiple Intelligence atau kecerdasan majemuk yang dikembangkan psikolog Howard Gardner dari Harvard Graduate School of Education telah mengubah cara pandang dunia pendidikan terhadap potensi anak.

Gardner menjelaskan bahwa kecerdasan tidak hanya diukur melalui kemampuan berhitung atau berbahasa sebagaimana lazim dilakukan dalam tes IQ konvensional. Setiap anak memiliki kombinasi kemampuan yang berbeda, mulai dari kecerdasan linguistik, logika-matematika, visual-spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, hingga naturalis. Perbedaan inilah yang membuat setiap anak memiliki cara belajar, minat, dan bakat yang unik.

Konsep tersebut menjadi dasar pengembangan Multiple Intelligence Play Plan (MIPP), yakni pendekatan belajar melalui permainan yang dirancang untuk merangsang berbagai jenis kecerdasan secara seimbang. Anak tidak hanya diajak membaca atau menghafal, tetapi juga bergerak, berinteraksi, berkreasi, memecahkan masalah, hingga mengenali emosi melalui aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Di tengah perkembangan teknologi digital, pendekatan tersebut kini semakin diperkaya melalui pemanfaatan berbagai perangkat interaktif. Berbagai kajian mengenai teknologi pendidikan menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pembelajaran interaktif, gamifikasi, hingga teknologi berbasis sensor mampu meningkatkan keterlibatan anak selama proses belajar apabila digunakan secara tepat dan tetap didampingi orang tua.

Teknologi dalam konteks ini bukan dimaksudkan menggantikan interaksi manusia, melainkan menjadi media yang membantu anak mengeksplorasi kemampuan mereka secara lebih menarik dan personal. Prinsip tersebut juga sejalan dengan rekomendasi berbagai organisasi kesehatan anak yang menekankan bahwa penggunaan teknologi pada usia dini harus tetap dibatasi, memiliki tujuan yang jelas, dan tidak menggantikan pengalaman bermain di dunia nyata.

Baca juga : Kembangkan Potensi Anak Dari Aktifitas Screen Time

 

Teknologi Interaktif untuk Mendukung Proses Belajar

Melalui Dunia Generasi Platinum: Door of Future – Advance Intelligence Lab, Morinaga memperkenalkan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memadukan permainan, eksplorasi, dan teknologi interaktif. Berdasarkan informasi penyelenggara, pengunjung akan diajak menjelajahi sejumlah zona yang dirancang untuk mengenalkan berbagai aspek kecerdasan anak melalui aktivitas yang menyenangkan.

Perjalanan dimulai dari MIPP dan Brainwave Station, area yang dirancang membantu orang tua mengenali kecenderungan potensi serta gaya respons anak melalui pengalaman interaktif. Selanjutnya terdapat Feeling Hub (Emotion Mirror) yang memanfaatkan teknologi pengenalan ekspresi wajah untuk mengajak anak memahami serta mengekspresikan emosinya.

Zona berikutnya, Creative Core, memberi ruang bagi anak mengembangkan kreativitas melalui aktivitas menggambar, mendesain, hingga bereksperimen dengan ritme musik. Sementara pada Thinking Lab, anak diajak berlari, melompat, sekaligus menyelesaikan tantangan berbasis sensor gerak yang dirancang melatih kemampuan berpikir, konsentrasi, serta koordinasi motorik.

Sebagai penutup, tersedia Future Mini-Me, sebuah figur tiga dimensi yang merepresentasikan berbagai profesi masa depan sebagai simbol bahwa setiap anak memiliki peluang berkembang sesuai potensi uniknya. Seluruh rangkaian tersebut tidak dimaksudkan sebagai alat untuk “mengukur” kecerdasan anak, melainkan menjadi media eksplorasi agar orang tua dapat lebih memahami karakter serta minat buah hati mereka.

Pendekatan seperti ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi sarana pendukung proses belajar apabila digunakan secara proporsional. Berbagai penelitian di bidang teknologi pendidikan juga menunjukkan bahwa media interaktif mampu meningkatkan perhatian, motivasi belajar, dan keterlibatan anak dibandingkan metode pembelajaran yang bersifat pasif. Namun demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan interaksi langsung antara anak dengan orang tua maupun lingkungan sekitarnya.

Lebih dari Sekadar Prestasi Akademik

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa tekanan berlebihan terhadap prestasi akademik dapat memicu stres, menurunkan rasa percaya diri, hingga berdampak pada kesehatan mental anak. Di sisi lain, UNICEF juga menekankan bahwa pola pengasuhan yang hangat, responsif, dan penuh dukungan terbukti lebih efektif dalam membantu anak berkembang dibanding pendekatan yang hanya berorientasi pada hasil.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan anak tidak dapat diukur semata-mata dari nilai rapor atau pencapaian akademik. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, mengelola emosi, hingga berpikir kreatif merupakan bekal penting yang semakin dibutuhkan di masa depan.

Karena itu, momentum Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa investasi terbaik bagi anak bukan hanya menyediakan pendidikan berkualitas, tetapi juga menciptakan ruang aman bagi mereka untuk tumbuh sesuai karakter dan potensinya masing-masing. Tema nasional “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” menjadi ajakan agar keluarga, sekolah, dunia usaha, dan pemerintah bersama-sama membangun ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.

Melalui kegiatan seperti Door of Future – Advance Intelligence Lab, teknologi diperkenalkan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jembatan yang membantu proses eksplorasi. Pada akhirnya, secanggih apa pun perangkat yang digunakan, peran utama tetap berada di tangan orang tua. Interaksi sehari-hari, perhatian, kasih sayang, dan kesempatan bagi anak untuk mencoba berbagai hal tetap menjadi fondasi terpenting dalam membentuk generasi yang sehat, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Lukman Hqeem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *